BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Irigasi merupakan upaya yang
dilakukan manusia untuk
mengairi lahan pertaniannya.
Dalam dunia modern saat ini
sudah banyak model irigasi
yang dapat dilakukan
manusia. Pada zaman dahulu
jika persediaan air melimpah
karena tempat yang dekat
dengan sungai atau sumber
mata air, maka irigasi
dilakukan dengan
mangalirkan air tersebut ke
lahan pertanian. Namun
demikian irigasi juga biasa
dilakukan dengan membawa
air dengan menggunakan
wadah kemudian menuangkan
pada tanaman satu-persatu.
Untuk irigasi dengan model
seperti ini di Indonesia biasa
disebut menyiram.
Sebagaimana telah
diungkapkan, dalam dunia
modern ini sudah banyak cara
yang dapat dilakukan untuk
melakukan irigasi dan ini
sudah berlangsung sejak Mesir
Kuno.
Melihat kenyataan di atas,dan
sebagai salah satu tugas mata
kuliah Irigasi dan Keteknikan.
Kami ingin melakukan
penelitian tentang
pemanfaatan system perairan
irigasi yang mulai kering
karena musim kemarau yang
berkepanjangan.
Makalah tersebut kami
tuangkan dalam makalah
yang berjudul “Pemanfaatan
Sistem Perairan Irigasi Dari
Sungai Cimanuk”.
1.2. PERMASALAHAN DAN
PEMBATASAN MASALAH
A. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang
masalah tersebut di atas
maka permasalahan penting
yang akan kami teliti yaitu:
Apakah pemanfaatan perairan
irigasi dari sungai cimanuk
masih memiliki daya tarik bagi
masyarakat setempat, ditinjau
dari kekeringan karena musim
kemarau yang
berkepanjangan?
B. Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini kami
membatasi masalah penting
yang akan di teliti yaitu:
a. penelitian ini di lakukan di
tempat system perairan irigasi
di sekitar sungai cimanuk.
b. Objek penelitian adalah
keadaan dan kondisi system
perairan irigasi di cimanuk
c. Waktu pelaksanaan di
lakukan satu bulan terakhir
terhitung tanggal 14
November s/d
16 Desember 2008.
1.3. TUJUAN PENELITIAN
Yang menjadi dasar untuk
tujuan penelitian ini adalah:
Dorongan untuk memberikan
informasi dan data secara
menyeluruh mengenai system
irigasi di cimanuk, serta
tentang kondisi dan keadaan
system irigasi tersebut kepada
pembaca. Sehingga pembaca
dapat mengetahui dan
mengenal system irigasi.
Dan mudah-mudahan dengan
adanya makalah ini di tangan
para pembaca,bias
memberikan dorongan untuk
memanfaatkan system
perairan irigasi dari sungai
cimanuk.
Tujuan penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji potensi erosi,
hasil sedimen, dan mengkaji
penurunan debit minimum
yang terjadi disungai Cimanuk.
Pendekatan bidang
ekohidrologi sebagai
pendekatan interdisipliner
dalam memahami ekosistem
perairan dikenal sebagai
sarana manajemen yang
adaptif karena didasarkan
pada pengintegrasian
dinamika perairan dan
dinamika biota dalam suatu
kerangka kerja pada suatu
daerah tangkapan. Indonesia
ditunjuk sebagai Pusat
Ekohidrologi Regional Asia
Pasific, hal itu diharapkan
dapat memacu perkembangan
konsep ekohidrologi sebagai
pendekatan dalam
penyelesaian masalah-
masalah lingkungan. Dalam
rangka pendirian pusat
tersebut dilakukan persiapan
berupa prasarana dalam
bentuk penetapan waduk
Saguling sebagai studi kasus
permasalahan ekohidrologis
yang terjadi di daerah.
1.4. KEGUNAAN PENELITIAN
Hasil penelitian ini di harap
kan dapat memberikan
gambaran atau sumber
pemikiran yang terbaik untuk
terus mengembangkan dan
melestarikan system perairan
irigasi. Memiliki peranan
penting bagi masyarakat
sekitar.selain itu penelitian ini
di harapkan dapat membantu
mengenal lebih jauh tentang
pemanfaatan system perairan
irigasi.
1.5. METODE PENELITIAN
Metode yang di gunakan
dalam penelitian ini adalah:
Metode eksperimen atau
melakukan survai yang benar-
benar kuat.Yang selanjutnya
data tersebut di olah secara
bersama-sama dengan data
yang di kumpulkan dengan
cara mencari artikel-artikel
tentang system perairan
irigasi. Sehingga diharapkan
dapat menghasilkan
kesimpulan yang tepat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Irigasi di Indonesia
2.1.1. Sejarah Irigasi
Secara umum menjelaskan
perkembangan mulai dari
adanya usaha pembuatan
irigasi sangat sederhana,
perkembangan irigasi di
Mesir, Babilonia, India,dll
kemudian bagaimana
perkembangan irigasi di
Indonesia sampai saat
sekarang.
Di Bali, irigasi sudah ada
sebelum tahun 1343 M, hal ini
terbukti dengan adanya
sedahan (petugas yang
melakukan koordinasi atas
subak-subak dan mengurus
pemungutan pajak atas tanah
wilayahnya). Sedangkan
pengertian subak adalah “
Suatu masyarakat hukum adat
di Bali yang bersifat sosio
agraris relegius yang secara
historis tumbuh dan
berkembang sebagai suatu
organisasi di bidang tata guna
air di tingkat usaha tani” (PP.
23 tahun 1982, tentang Irigasi).
Di Indonesia irigasi tradisional
telah berlangsung sejak nenek
moyang kita. Hal ini dapat
dilihat juga cara bercocok
tanam pada masa kerajaan-
kerajaan yang ada di
Indonesia. Dengan
membendung kali secara
bergantian untuk dialirkan ke
sawah. Cara lain adalah
mencari sumber air
pegunungan dan dialirkan
dengan bambu yang
bersambung. Ada juga dengan
membawa dengan ember yang
terbuat dari daun pinang atau
menimba dari kali yang
dilemparkan ke sawah dengan
ember daun pinang juga.
2.1.2. Sistem Irigasi Zaman
Hindia Belanda
Sistem irigasi adalah salah
satu upaya Belanda dalam
melaksanakan Tanam Paksa
(Cultuurstelsel) pada tahun
1830. Pemerintah Hindia
Belanda dalam Tanam Paksa
tersebut mengupayakan agar
semua lahan yang dicetak
untuk persawahan maupun
perkebunan harus
menghasilkan panen yang
optimal dalam mengeksplotasi
tanah jajahannya.
Sistem irigasi yang dulu telah
mengenal saluran primer,
sekunder, ataupun tersier.
Tetapi sumber air belum
memakai sistem Waduk
Serbaguna seperti TVA di
Amerika Serikat. Air dalam
irigasi lama disalurkan dari
sumber kali yang disusun
dalam sistem irigasi terpadu,
untuk memenuhi pengairan
persawahan, di mana para
petani diharuskan membayar
uang iuran sewa pemakaian
air untuk sawahnya. Waduk
Jatiluhur 1955 di Jawa Barat.
Tennessee Valley Authority
(TVA) [1] yang diprakasai oleh
Presiden AS Franklin D.
Roosevelt pada tahun 1933
merupakan salah satu Waduk
Serba Guna yang pertama
dibangun di dunia [2]. Resesi
ekonomi (inflasi) tahun 1930
melanda seluruh dunia,
sehingga TVA adalah salah
satu model dalam
membangun kembali ekonomi
Amerika Serikat.
Isu TVA adalah mengenai:
produksi tenaga listrik,
navigasi, pengendalian banjir,
pencegahan malaria,
reboisasi, dan kontrol erosi.
Sehinga di kemudian hari
Proyek TVA menjadi salah
satu model dalam menangani
hal yang mirip. Oleh sebab itu
Proyek Waduk Jatiluhur
merupakan tiruan yang
hampir mirip dengan TVA di
AS tersebut.
Waduk Jatiluhur terletak di
Kecamatan Jatiluhur,
Kabupaten Purwakarta (±9 km
dari pusat Kota Purwakarta).
Bendungan itu dinamakan
oleh pemerintah Waduk Ir. H.
Juanda, dengan panorama
danau yang luasnya 8.300 ha.
Bendungan ini mulai dibangun
sejak tahun 1957 oleh
kontraktor asal Perancis,
dengan potensi air yang
tersedia sebesar 12,9 milyar
m3/thn.
2.2. Pengertian Irigasi
Irigasi merupakan suatu ilmu
yang memanfaatkan air untuk
tanaan mulai dari tumbuh
sampai masa panen. Air
tersebut diambil dari
sumbernya, dibawa melalui
saluran, dibagikan kepada
tanaman yang memerlukan
secara teratur, dan setelah air
tersebut terpakai, kemudian
dibuang melalui saluran
pembuang menuju sungai
kembali.
Irigasi dikehendaki dalam
situasi: (a) bila jumlah curah
hujan lebih kecil dari pada
kebutuhan tanaman; (b) bila
jumlah curah hujan mencukupi
tetapi distribusi dari curah
hujan tidak bersamaan dengan
waktu yang dikehendaki
tanaman.
2.2.1. Aspek irigasi
Menjelaskan tentang: Aspek
engineering dan Aspek
agricultural. Aspek
engineering menyangkut: (1)
Penyimpanan, penyimpangan,
dan pengangkutan (2)
membawa air ke lading
pertanian, (3) pemakaian air
untuk persawahan, (4)
pengeringan air yang
berlebihan, dan (5)
pembangkit tenaga air.
Aspek Agrikultural,
menyangkut: (1) kedalaman
pemberian air, (2) distribusi
air secara seragam dan
berkala, (3) kapasitan dan
aliran yang berbeda, dan (4)
reklamasi tanah tandus dan
tanah alkaline.
2.2.2. Tujuan irigasi
Tujuan utama irigasi adalah
untuk: Membasahi tanah,
merabuk, mengatur suhu
tanah, kolmatase,
membersihkan air kotor,
meninggikan air tanah,
pemeliharaan ikan
Pengaruh dan syarat-syarat
air guna irigasi.
Menjelaskan pengaruh air
yang ada pada suatu daerah
irigasi, dan bagaimana syarat-
syarat air yang diperlukan
untuk suatu daerah irigasi,
seperti : air yang berasal dari
dalam tanah; air berasal dari
sungai, air berasal dari
waduk, dananu, dan rawa;
(1) Syarat air terhadap
maksud irigasi, (2) syarat-
syarat air terhadap tanaman,
(3) pengaruh air irigasi
terhadap tanah, (4) pengaruh
Lumpur terhadap tanaman
2.2.3. Jenis Irigasi
1. Irigasi Permukaan
Irigasi Permukaan terjadi di
mana air dialirkan pada
permukaan lahan. Di sini
dikenal alur primer, sekunder
dan tersier. Pengaturan air ini
dilakukan dengan pintu air.
Prosesnya adalah gravitasi,
tanah yang tinggi akan
mendapat air lebih dulu.
2. Irigasi Lokal
Sistem ini air distribusikan
dengan cara pipanisasi. Di sini
juga berlaku gravitasi, di
mana lahan yang tinggi
mendapat air lebih dahulu.
Namun air yang disebar hanya
terbatas sekali atau secara
lokal.
3. Irigasi dengan
Penyemprotan
Penyemprotan biasanya
dipakai penyemprot air atau
sprinkle. Air yang disemprot
akan seperti kabut, sehingga
tanaman mendapat air dari
atas, daun akan basah lebih
dahulu, kemudian menetes ke
akar.
4. Irigasi Tradisional dengan
Ember
Di sini diperlukan tenaga kerja
secara perorangan yang
banyak sekali. Di samping itu
juga pemborosan tenaga kerja
yang harus menenteng ember.
5. Irigasi Pompa Air
Air diambil dari sumur dalam
dan dinaikkan melalui pompa
air, kemudia dialirkan dengan
berbagai cara, misalnya
dengan pipa atau saluran.
Pada musim kemarau irigasi
ini dapat terus mengairi
sawah.
2.3. Pengalaman Penerapan
Jenis Irigasi Khusus
2.3.1. Irigasi Pasang-Surut di
Sungai Cimanuk
Dengan memanfaatkan
pasang-surut air di wilayah
Garut, dikenal apa yang
dinamakan Irigasi Pasang-
Surat (Tidal Irrigation).
Teknologi yang diterapkan di
sini adalah: pemanfaatan
lahan pertanian di dataran
rendah dan daerah rawa-
rawa, di mana air diperoleh
dari sungai pasang-surut di
mana pada waktu pasang air
dimanfaatkan. Di sini dalam
dua minggu diperoleh 4
sampai 5 waktu pada air
pasang. Teknologi ini telah
dikenal sejak Abad XIX. Pada
waktu itu pendatang di Garut
memanfaatkan rawa sebagai
kebun kelapa. Di Indonesia
terdapat 5,6 juta Ha dari 34 Ha
yang ada cocok untuk
dikembangkan. Hal ini bisa
dihubungkan dengan
pengalaman Jepang di Wilayah
Sungai Chikugo untuk wilayah
Kyushu, di mana di sana
dikenal dengan sistem irigasi
Ao-Shunsui yang mirip.
2.3.2. Irigasi Tanah Kering
atau Irigasi Tetes
Di lahan kering, air sangat
langka dan pemanfaatannya
harus efisien. Jumlah air irigasi
yang diberikan ditetapkan
berdasarkan kebutuhan
tanaman, kemampuan tanah
memegang air, serta sarana
irigasi yang tersedia.
Ada beberapa sistem irigasi
untuk tanah kering, yaitu:
1. Irigasi tetes (drip irrigation),
2. Irigasi curah (sprinkler
irrigation),
3. Irigasi saluran terbuka
(open ditch irrigation),
4. Irigasi bawah permukaan
(subsurface irrigation)
Untuk penggunaan air yang
efisien, irigasi tetes. [3]
merupakan salah satu
alternatif. Misal sistem irigasi
tetes adalah pada tanaman
cabai.
Ketersediaan sumber air
irigasi sangat penting. Salah
satu upaya mencari potensi
sumber air irigasi adalah
dengan melakukan deteksi air
bawah permukaan
(groundwater) melalui
pemetaan karakteristik air
bawah tanah. Cara ini dapat
memberikan informasi
mengenai sebaran, volume
dan kedalaman sumber air
untuk mengembangkan irigasi
suplemen.
Deteksi air bawah permukaan
dapat dilakukan dengan
menggunakan Terameter.
2.4. Pengelolaan Air Sangat
Buruk
Musim hujan terendam air,
musim kemarau kering
kerontang. Demikian nasib 125
juta penduduk Pulau Jawa.
Setelah hampir empat ratus
ribu hektar sawah terendam
musim banjir lalu, kali ini
giliran kekeringan yang
melanda. Untuk areal sawah
saja, 204.322 hektar sudah
kering akhir Juli lalu. Bahkan,
19.562 di antaranya
mengalami puso. "Ini karena
kita tidak memiliki
manajemen air secara
terpadu," kata Dirjen Sumber
Daya Air Departemen
Permukiman dan Prasarana
Wilayah Roestam Sjarief.
Tidak padunya penanganan air
harus berhadapan dengan
antrean masalah. Sejumlah
masalah merupakan faktor
alam maupun iklim global.
Seperti karakteristik wilayah
tropik di mana 80 persen dari
total aliran permukaan
tersedia pada musim hujan
yang berdurasi lima bulan.
Sementara pada musim
kemarau yang berlangsung
tujuh bulan, hanya
menyediakan 20 persen air
untuk aliran permukaan.
Belum lagi efek global La
Nina dan El Nino yang datang
bergantian.
Faktor alam lalu berkawan
dengan kerusakan hutan yang
merusakkan kemampuan
tanah meresap air, terutama
di daerah aliran sungai (DAS).
Hal ini ditambah rusaknya
prasarana irigasi seperti
waduk dan saluran yang
sedianya dibuat untuk
"mengakali" alam. Semua hal
itu lalu berkolaborasi
membentuk suatu manajemen
air yang buruk. Padahal,
prinsip manajemen air
sebenarnya tidak muluk-
muluk: bagaimana caranya
mengendalikan kedatangan
air yang tidak merata itu.
Neraca air di Jawa-Bali selama
tahun 2003, kebutuhan
mencapai 38,4 miliar kubik,
sementara yang tersedia
hanya 25,3 miliar meter kubik.
Perkiraan Badan Meteorologi
Geofisika tentang kondisi
musim kemarau di tahun 2003,
tingkat kerawanan kekeringan
terjadi di 12 kabupaten di Jawa
Barat, yaitu Indramayu,
Tasikmalaya, Cirebon,
Kuningan, Ciamis, Sumedang,
Garut, Bandung, Cianjur,
Sukabumi, Serang, dan
Pandeglang. Sementara di
Jawa Tengah enam kabupaten,
yaitu Pati, Sragen, Boyolali,
Wonogiri, Cilacap, dan
Rembang. Di Jawa Timur ada
dua kabupaten, yaitu
Lamongan dan Tulungagung.
Sementara itu, Menteri
Negara Lingkungan Hidup
Nabiel Makarim
mengungkapkan, krisis air
bersih terparah terjadi di DKI
Jakarta, sedangkan Jawa Barat
mulai krisis air untuk
tanaman. Kondisi di Jateng
belum begitu parah.
"Wonogiri akan menjadi tolok
ukur kekeringan di wilayah
itu," kata Menteri.
Di Jawa Tengah, dua
kabupaten/kota rawan
kekeringan, pertanian rusak,
dan poso. Jumlah kerugian
sampai minggu lalu 30.000 KK
kesulitan airkarena keringnya
embung. Di Jatim, beberapa
daerah sudah dianggap rawan,
seperti Mojokerto, Sidoarjo,
Surabaya dan Pasuruan.
"Masalah ini harus dilihat
secara luas, tidak bisa
kekeringan sendiri atau banjir
sendiri," timpal Roestam.
Air yang jatuh ke permukaan
tanah dan potensial
menimbulkan banjir
diupayakan agar meresap ke
dalam tanah. Untuk itu,
permukaan DAS harus
maksimal menyerap air. Air
hujan yang secara optimal
meresap ke dalam tanah itu
nantinya akan mengisi
sumber- sumber air yang ada
di danau, situ, sungai, dan
waduk. Tujuannya, pada
musim kemarau, saat hujan
hampir tidak ada, debit airnya
bisa tetap terjaga. "Masalah
banjir diatasi dengan cara itu.
Dengan demikian, akan
mengatasi masalah
kekeringan juga," tambah
Roestam.
Konsep di atas kertas atau di
kepala lebih sering
berhadapan dengan kondisi
nyata di lapangan.
Penggundulan hutan yang
semakin lama semakin ke
arah hulu sungai membuat
kemampuan DAS menyerap
air berkurang. Jumlah air
permukaan yang mengalir
menjadi lebih banyak. Dengan
menggunakan istilah run off
coefficient, yaitu jumlah air
yang mengalir dibanding
jumlah air hujan yang turun
dapat dilihat akibat yang
ditimbulkan rusaknya hutan.
Menurut Roestam, untuk
daerah DAS berhutan, run off
coefficient mencapai 0,1-0,15,
atau dari 100 mm air hujan
yang menjadi sungai hanya 10
mm. Sementara untuk daerah
terbuka, seperti aspal, coef
bisa sampai 1.
Ujung-ujungnya memang
kemampuan penyerapan ini
tergantung pada penggunaan
tanah yang kalau dilihat dari
kacamata kebijakan
tergantung rencana tata
ruang. Masalahnya, rencana
tata ruang lebih banyak yang
tidak komprehensif. Bagai
memakai kaca mata kuda,
mata pembuat kebijakan
hanya melihat uang sebagai
tujuan komersial, sementara
perlunya keberadaan kawasan
konservasi untuk air sama
sekali tidak terlintas di
pikiran.
Kondisi yang ada saat ini,
menurut Roestam, dari 30
persen kawasan DAS yang
idealnya tersedia, hanya
tersisa 18 persen. Angka ini
berbeda dengan catatan
Kompas berdasarkan data
Badan Planologi Departemen
Kehutanan yang datanya
berdasarkan citra satelit, luas
daerah yang tertutup hutan
tinggal empat persen.
Dengan kondisi seperti itu,
dengan mudah disimpulkan,
Pulau Jawa tidak jauh dari
lubang jalan yang tidak
kunjung diperbaiki: hujan
besar akan timbulkan masalah
banjir, sebaliknya pada musim
kemarau, alam tidak bisa
mengisi ulang karena tidak
ada cadangan sehingga terjadi
kekeringan.
Jumlah DAS kritis terus
bertambah. Tahun 1984 jumlah
DAS kritis di Indonesia
mencapai 22 buah. Tahun 1992
meningkat 39 DAS, tahun 1998
menjadi 59 DAS. Kini dari total
62 DAS kritis di Indonesia, 26
ada di Jawa. Kemiskinan yang
melatarbelakangi tindakan
masyarakat, menurut
Roestam, merupakan
penyebab utama. Di Jawa
dengan jumlah penduduk yang
banyak dan padat,
masyarakat cari kehidupan
dengan membuka lahan baru
mendekati hulu. Akibat
perambahan dan oknum-
oknum yang terus merajalela,
hutan Jawa menjadi gundul.
Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nabiel Makarim
mengatakan, dengan majunya
musim kekeringan tahun ini,
selain kekurangan air untuk
pengairan di lahan-lahan
pertanian, juga terjadi
penderitaan warga akan krisis
air bersih. Sebagai contoh,
warga Jakarta dan sekitarnya
menghadapi kekurangan
pasokan air. Dulu terdapat
sekitar 49 situ atau danau
kecil antara Bogor dan
Jakarta. Sekarang, banyak situ
diuruk dijadikan rumah dan
pusat-pusat perbelanjaan.
Padahal, situ itu untuk
menahan air.
Untuk lahan- lahan pertanian
yang mengalami kekeringan,
Roestam mengatakan,
sebenarnya pemerintah telah
mengantisipasi hal tersebut.
Caranya, pemerintah
membuat rencana pola tanam
yang di kabupaten ditangani
oleh Komisi Irigasi. Komisi ini
terdiri atas Dinas Pengairan,
Bapedda, P3A, dan BMG,
Dinas Pertanian, dan tentu
saja wakil petani. BMG
memberikan informasi
prediksi jumlah curah hujan
dan air yang tersedia.
Selanjutnya rencana tanam
disesuaikan dengan prediksi
yang ada. Misalnya, dengan
jumlah curah hujan yang
hampir pasti kurang, tidak
seluruh areal ditanami padi,
sebagian saja. "Sebagian
ditanami palawija, sebagian
padi sehingga cukup airnya,"
katanya.
Namun, pada prakteknya
petani sering kali melakukan
spekulasi dengan menanam
padi dengan harapan akan
ada hujan di musim kemarau
sesuai dengan pengalaman-
pengalaman sebelumnya.
Akibatnya, kebutuhan
meningkat sehingga air pasti
tidak cukup.
Data di Departemen
Kimpraswil, dampak
kekeringan bagi Pulau Jawa
mencapai 11,6 persen dari
luas sasaran masa tanam (MT)
II 1,8 juta hektar, yaitu 209.332
hektar. Kekeringan terbesar
terjadi di Jawa Barat yaitu
141.793 hektar sawah yang
merupakan 22,5 persen dari
sasaran MT II, 11.590 hektar
diantaranya mengalami puso.
Kekeringan sawah di Jawa
Tengah juga cukup besar,
yaitu 47.823 hektar atau 20,3
persen dari total MT. Di Jawa
Timur, relatif sedikit, yaitu 3,1
persen dari total sasaran MT II
atau seluas 14.706 hektar.
Sementara di Banten
kekeringan di Kabupaten
Pandeglang mencapai 5.000
hektar, sedangkan di DI
Yogyakarta tidak ada yang
mengalami kekeringan.
Curah hujan yang tidak
merata sepanjang tahun,
kondisi DAS yang rusak
rencananya hendak
dikendalikan dengan
prasarana irigasi. Namun, apa
daya, kondisi prasarana irigasi
yang dibangun pemerintah
serta waduk dan saluran
irigasi pun banyak yang rusak
parah. Dari total jaringan
irigasi di Pulau Jawa seluas
3,28 juta hektar, 379,761 ribu
hektar rusak.
Namun, sistem irigasi yang
tidak baik seperti misalnya
saluran irigasi penuh lumpur.
Jadi, datang dari hulu cukup,
namun di hilir menjadi sangat
berkurang karena tertahan
oleh lumpur. Dengan
demikian, petani merasa air
yang diperolehnya tidak cukup
atau tidak ada sama sekali.
Masalahnya, hal ini sangat
tergantung kemampuan
memelihara prasarana
pengairan yang dalam hal ini
berarti juga biaya
pemeliharaan. Sekitar 40-50
persen ditanggung oleh
pemerintah. Untuk daerah
diberikan di antaranya dana
alokasi khusus (DAK) untuk
spesifik pemeliharaan
prasarana irigasi. Evaluasi
atas pemeliharaan saluran
irigasi bisa menjadi rapor bagi
daerah.
Selain biaya investasi,
operasional, dibutuhkan biaya
konservasi sumber air,
sesuatu yang menjadi sasaran
pemerintah dalam RUU
Sumber Daya Air. Masyarakat
memandang ini sebagai
privatisasi air, nanti semua
untuk dapat air harus bayar.
Sementara pemerintah,
menurut Roestam,
beranggapan, masyarakat
akan mendapat air sesuai
dengan kemampuannya.
Semakin tinggi seseorang
berani membayar, semakin
tinggi kualitas air yang
diperolehnya.
Sementara itu, bagi
masyarakat tidak mampu,
pemerintah berjanji akan
menyediakan berbagai
fasilitas seperti tangki- tangki
air di mana hal ini berupa
subsidi. "Itu yang sekarang
sedang dibahas di RUU
Sumber Daya Air," kata
Roestam. Pemerintah selalu
menyatakan tidak memiliki
uang, bahkan untuk
pemeliharaan prasarana dan
konservasi. Janjinya dana dari
pembayaran air bersih orang-
orang yang mampu akan
digunakan untuk prasarana
dan konservasi.
Menurut Roestam, rehabilitasi
DAS kritis, per hektar
dibutuhkan Rp 5 juta-Rp 6 juta.
Luas lahan kritis di Indonesia
mencapai 3 juta hektar,
sebagian besar ada di Jawa,
yang menurut catatan Kompas
berjumlah 2,481 juta hektar.
Dihitung-hitung dibutuhkan Rp
12,405 triliun untuk rehabilitasi
DAS.
2.5. Bencana Itu Makin Lama
Tambah Parah
Tanda bahaya itu sebenarnya
sudah dibunyikan sejak awal
tahun 2008 yaitu musim kering
datang lebih cepat dari
perkiraan. Sekitar
pertengahan Mei lalu, hujan
mulai enggan turun di daerah
pantai utara (pantura), yaitu
Kabupaten Cirebon dan
Indramayu, yang menjadi
kawasan lumbung padi Jawa
Barat.
Berbagai peringatan dini
sudah diberikan sejak awal
oleh Dinas Pertanian setempat
melalui media massa.
Pertama adalah peringatan
kepada para petani berupa
imbauan untuk mempercepat
awal tanam atau tidak
menanam padi pada musim
gadu tahun ini.
Peringatan kedua ditujukan
kepada pihak pemerintah,
mulai dari pemerintah
kabupaten, pemerintah
provinsi, hingga pemerintah
pusat, dalam bentuk
permintaan bantuan pompa
air dan bibit kacang hijau
sebagai tanaman pengganti.
Semuanya dimaksudkan untuk
menghindari terulangnya
bencana kekeringan yang
melanda daerah ini tahun lalu.
Namun, entah mengapa dan
bagaimana, berbagai
peringatan dini itu seolah-olah
dibiarkan berlalu begitu saja.
Para petani tetap menanam
padi dengan pola seperti
biasa, sedangkan bantuan
pompa maupun bibit tanaman
pengganti dari pemerintah
tidak segera turun, mungkin
dengan anggapan bahwa titik
bencana itu masih jauh di
mata sehingga tidak perlu
buru-buru menurunkan
bantuan.
Sampai akhirnya, tanda-tanda
kekeringan itu mulai tampak
nyata ketika memasuki Juni
lalu. Tanggal 4 Juni, tanah
sawah di Desa Wanakaya,
Kecamatan Cirebon Utara,
sudah terlihat retak-retak
karena tidak terairi sama
sekali selama lebih dari
seminggu. Tanaman padi yang
baru berusia 1-7 minggu
dalam keadaan terancam.
Bencana mulai terjadi.
Kekeringan terus meluas di
daerah-daerah sentra
produksi padi. Para petani,
meski agak terlambat, mulai
menanam tanaman pengganti
padi, seperti kacang hijau,
kacang panjang, semangka,
dan mentimun suri. Sementara
para petani yang sudah
telanjur menanam padi
mendesak agar bantuan
pompa air segera diberikan,
mumpung masih ada air di
saluran-saluran irigasi.
Akan tetapi, seperti hal-hal
lain yang ditangani
pemerintah, segalanya terasa
lamban dan penuh hambatan
birokrasi, termasuk janji-janji
pemberian bantuan. Menurut
Sathori, Pemkab Cirebon
sebenarnya sudah menyiapkan
dana bantuan sebesar Rp 400
juta untuk pengadaan pompa
air dan Rp 100 juta untuk
benih kacang hijau.
Namun, dikhawatirkan,
bantuan tersebut tidak akan
sampai tepat pada waktunya
karena proses birokrasi yang
terlalu lama. "Saat ini,
bantuan pompa itu sedang
diusulkan masuk dalam rapat
perubahan anggaran APBD
dengan DPRD. Paling cepat
baru satu bulan lagi dana
bantuannya akan cair untuk
membeli pompa. Dan saat itu
semua dikhawatirkan sudah
terlambat," kata Sathori awal
Juni lalu.
Demikian juga bantuan dari
Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Jabar dan
pemerintah pusat yang tidak
kunjung tiba. Pada akhirnya,
perubahan alam yang begitu
cepat dan ganas tidak dapat
ditanggulangi oleh manusia
yang serba tidak serius dan
cenderung meremehkan
kekuatan alam. Dan pada
kenyataannya, berbagai
bantuan itu memang akhirnya
turun sangat lambat, yaitu
sekitar akhir Juli dan awal
Agustus, saat semuanya sudah
terlambat.
Dalam waktu satu setengah
bulan, musim kemarau yang
semula dianggap sebagai
fenomena alam yang wajar
dan tidak membahayakan
telah berubah menjadi
bencana yang nyata.
Kekeringan tidak saja terjadi
dan mengancam sektor
pertanian, tetapi juga telah
meluas dan mulai mengancam
bidang- bidang lainnya setelah
sumber- sumber air bersih
untuk keperluan minum,
memasak, serta mandi, cuci,
dan kakus (MCK) ikut
mengering.
2.6. Krisis Air di Pulau Jawa
Dalam "Diskusi Teknik
Kehutanan" akhir tahun lalu
di Jakarta, Badan Planologi
Departemen Kehutanan
mengeluarkan data luas hutan
Pulau Jawa yang cukup
mengerikan. Luas kawasan
yang masih berhutan atau
lahan yang masih ditutup
pepohonan di Jawa tahun
1999/2000 hanya empat
persen. Kawasan itu sebagian
besar merupakan wilayah
tangkapan air pada daerah
aliran sungai (DAS). Data ini
memang bersifat indikatif,
tetapi diambil dari interpretasi
citra satelit.
Apabila melihat distribusi
hujan yang tidak merata
sepanjang tahun di Jawa, di
mana 80 persen hujan jatuh di
musim penghujan dan sisanya
20 di musim kemarau-dengan
kondisi DAS yang sudah tidak
mampu lagi menahan dan
menyimpan air-dipastikan
potensi yang 80 persen itu
akan terbuang percuma ke
laut tanpa sempat
dimanfaatkan. Malah hujan
tersebut kerap kali
menyebabkan terjadinya
banjir yang dirasakan semakin
intensif dan signifikan,
sementara kebutuhan air di
musim kemarau tidak lagi
dapat dipenuhi.
Kondisi hutan selalu dikaitkan
dengan bencana alam, banjir,
dan longsor. Karena itu, luas
hutan ideal untuk mendukung
keseimbangan ekosistem-
seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang (UU) Nomor
41 tentang Kehutanan-minimal
harus 30 persen dari luas
wilayah. Luasan hutan itu
dimaksudkan untuk menjamin
ketersediaan sumber daya air
bagi kehidupan. Malah
Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Jawa Barat
menargetkan luas kawasan
hutan di wilayahnya minimal
harus 45 persen dari luas
wilayah.
ni mengingat topografi
wilayah Jawa Barat yang
berbukit dan bergunung-
gunung harus dipertahankan
hutannya untuk menopang
ketersediaan air, baik bagi
pertanian, air minum
masyarakat, maupun
pembangkit tenaga listrik di
Waduk Saguling, Cirata, dan
Jatiluhur. Pembangkit listrik
tenaga air (PLTA) yang
digerakkan turbin air di ketiga
waduk itu merupakan
pemasok listrik pada
interkoneksi Jawa-Bali. Ketiga
waduk ini menampung air dari
Sungai Citarum yang kawasan
DAS-nya sudah rusak parah.
Sementara itu, Balai
Pemantapan Kawasan Hutan
Jawa-Madura
menggambarkan, kawasan
hutan Jawa yang seluas
3.289.131 hektar saat ini
keadaannya benar-benar
menyedihkan. Sebagai
gambaran umum, luas lahan
kritis di dalam kawasan hutan
Pulau Jawa yang memerlukan
rehabilitasi tercatat 1,714 juta
hektar atau mencapai 56,7
persen dari luas seluruh hutan
yang ada. Itu terdiri atas
hutan lindung dan konservasi
yang rusak seluas 567.315
hektar serta hutan produksi
tak berpohonan seluas
1.147.116 hektar.
Kondisi tersebut diperparah
oleh meluasnya lahan kritis di
luar kawasan hutan yang
telah mencapai 9,016 juta
hektar sehingga total lahan
yang perlu direhabilitasi
mencapai 10,731 juta hektar
atau 84,16 persen dari luas
seluruh daratan Pulau Jawa.
Pulau Jawa yang luasnya
hanya tujuh persen dari
seluruh luas daratan Indonesia
disesaki oleh 65 persen
penduduk Indonesia atau
sekitar 125 juta jiwa.
Sementara dari sudut potensi
air hanyalah 4,5 persen dari
total potensi air di Indonesia
sehingga menimbulkan
benturan kepentingan
(conflict of interest). "Melihat
kondisi Jawa seperti ini,
dipandang dari segi
pengembangan sumber daya
air, sudah termasuk kategori
kritis," ungkap Direktur
Jenderal (Dirjen) Sumber Daya
Air (SDA) Departemen
Permukiman dan Prasarana
Wilayah Roestam Sjarief.
Menurut Badan Lingkungan
Perserikatan Bangsa-Bangsa
(UNEP), kebutuhan air dunia
meningkat dua sampai tiga
persen per tahun, sedangkan
ketersediaan air senantiasa
tetap, bahkan cenderung
menurun, terutama apabila
ditinjau dari segi kualitas. Di
Indonesia diperkirakan total
kebutuhan air akan meningkat
lebih dari 200 persen pada
kurun waktu 1990-2020.
Dengan kebutuhan yang ada
sekarang pun, beberapa
sungai di Pulau Jawa pada
musim kemarau sudah tidak
mampu lagi memenuhi
kebutuhan tersebut.
Dengan cepatnya
perkembangan pusat-pusat
pertumbuhan di kawasan
pantai utara Jawa, kebutuhan
air meningkat tajam. Namun,
perkembangan itu tidak
sebanding lagi dengan
peningkatan upaya
penyediaannya atau bahkan
melebihi potensi sumber daya
air yang ada. Ini menyebabkan
terjadinya defisit air.
Terbatasnya tempat- tempat
penampungan air serta
semakin parahnya kondisi
lingkungan dan DAS,
menyebabkan
terakumulasinya kompleksitas
permasalahan yang dihadapi.
Melihat fakta ini,
dikhawatirkan pemenuhan
kebutuhan air yang memadai
bagi masyarakat akan
semakin jauh dari jangkauan.
Karena itu, perlu dipikirkan
dan dicermati bersama upaya-
upaya pengembangan sumber
daya air yang lebih efektif dan
mampu menjawab tantangan
di atas. Ini mengingat tekanan
akibat pertumbuhan penduduk
menyebabkan kecenderungan
terjadinya perubahan kondisi
daerah hulu sungai serta
kerusakan hutan penutup
catchment area, yang
sebetulnya perlu dijaga guna
menjamin tersedianya dan
terjamin meratanya
keberadaan air sepanjang
tahun.
DIRJEN SDA menjelaskan,
upaya pengembangan wilayah
sungai dalam rangka
mengembangkan dan
mendayagunakan sumber
daya air sekaligus
pengelolaan dan konservasi
sumber daya air telah
dikembangkan di berbagai
wilayah sungai di Jawa. Baik
yang bersifat single basin
maupun multiriver basin, yang
semuanya diarahkan agar
dapat mengatasi
permasalahan air yang ada.
Contohnya pengembangan
wilayah Sungai Citarum,
Ciliwung-Cisadane, Cimanuk-
Cisanggarung, Citanduy-
Ciwulan, Serayu-Bogowonto,
Jratunseluna, dan
pengembangan wilayah Sungai
Brantas.
Masalahnya, hanya sebagian
atau kurang dari 15 persen
prasarana pengairan yang
mampu menjamin tersedianya
air hampir sepanjang tahun,
melalui waduk dan reservoir
yang ada. Selebihnya seperti
bangunan- bangunan bendung
pengambilan air bersifat run
off river yang mengandalkan
sepenuhnya pada fluktuasi air
di sungai apabila terjadi
kekeringan bangunan ini tidak
mampu mengatasinya.
Merunut permasalahan yang
dihadapi di Pulau Jawa serta
melihat tingkat kekritisan
potensi sumber daya air dan
penggunaannya, konsep
bagaimana menampung air
pada saat kelebihan di musim
hujan serta mengatur dan
memanfaatkan air saat
kemarau menjadi sangat
relevan.
2.7. Reformasi Sumber Daya
Air di Indonesia
Indonesia membutuhkan
reformasi pengelolaan dan
pemanfaatan sumber daya air
(SDA). Ada sejumlah alasan
mengapa reformasi tersebut
perlu dilakukan. Pertama,
sektor air di Indonesia tidak
mampu untuk memenuhi
pertumbuhan dan berbagai
tuntutan sebagai konsekuensi
akibat meningkatnya populasi.
Kebutuhan air untuk
keperluan rumah tangga,
industri, dan pertanian
meningkat, tetapi gagal
dipenuhi dan diantisipasi oleh
berbagai institusi pemerintah
yang bertanggung jawab bagi
penyediaan sarana air yang
bersih dan memadai.
Hal ini dapat dilihat dari
reaksi berbagai pihak yang
seakan-akan kebakaran
jenggot dengan munculnya
gejala kekeringan di banyak
daerah di Indonesia akhir-
akhir ini. Kedua, regulasi dan
institusi yang mengatur SDA
yang ada saat ini sangat
kompleks, tumpang tindih,
dan tidak relevan terhadap
berbagai kecenderungan
(trends) yang berlaku.
Undang-Undang (UU) Nomor
11 Tahun 1974 mengenai
Pengairan, serta sejumlah
peraturan turunan lainnya
yang mengatur sektor air
tidak lagi memadai sebagai
instrumen hukum dalam
mengatur sumber daya air
yang perkembangan
masalahnya sudah
multidimensional.
Dengan desakan dan pinjaman
(loans) dari lembaga-lembaga
internasional seperti Bank
Dunia dan Bank Pembangunan
Asia, proses reformasi sektor
SDA dimulai sejak tahun 1999.
Proses ini diawali dengan
menyiapkan perangkat UU
Sumber Daya Air yang baru
untuk menggantikan UU
Pengairan, yang menurut
penulis prosesnya dipaksa
untuk dipercepat dan
tertutup.
Saat ini RUU Sumber Daya Air
sedang dibahas di DPR. Upaya
lain yang sedang dilakukan
adalah melakukan sejumlah
perubahan kebijakan di level
makro dan mikro, misalnya
kebijakan mengenai irigasi,
pembentukan sistem dan
jaringan data hidrologi
nasional.
Yang menjadi pertanyaan
kemudian, apakah reformasi
SDA dilandasi oleh paradigma
yang tepat dan apakah
reformasi tersebut mampu
memberikan jawaban atas
berbagai tantangan yang
dihadapi sektor ini?
Dengan membaca RUU
Sumber Daya Air, dapat
dipahami adanya cara
pandang yang berubah atas
sumber daya air. Air tidak lagi
sekadar barang publik (public
goods), tetapi sudah menjadi
komoditas ekonomi.
Pandangan tradisional melihat
air sebagai barang publik yang
tidak dimiliki oleh siapa pun,
melainkan dalam bentuk
kepemilikan bersama (global
commons), sumber daya alam
yang dikelola secara kolektif,
bukan untuk dijual atau
diperdagangkan guna
keuntungan tertentu.
Hal tersebut didasarkan pada
kenyataan bahwa tidak ada
seorang pun dapat
menciptakan air. Paradigma
tradisional ini bertentangan
dengan paradigma
pengelolaan air modern yang
berdasarkan pada nilai
ekonomi intrinsik dari air,
yang dilandasi pada asumsi
adanya keterbatasan dan
kelangkaan air, serta
dibutuhkannya investasi atau
biaya untuk penyediaan air
bersih.
Perdebatan antarkelompok
yang mengusung kedua
paradigma tersebut masih
terus berlangsung. Kalangan
organisasi nonpemerintah
(ornop) menganggap bahwa
air sudah seharusnya menjadi
bagian hak asasi manusia dan
menjadi tugas negara untuk
menyediakannya. Dengan
demikian, segala upaya
komodifikasi dan privatisasi
air seharusnya tidak
diperbolehkan.
Penjelasan pasal RUU SDA
juga menyatakan bahwa untuk
meningkatkan efisiensi dan
peran masyarakat dan swasta,
pemerintah dapat menjalin
kerja sama kemitraan dengan
badan usaha dan perorangan
dalam bentuk pembiayaan
investasi pembangunan
prasarana sumber daya air
maupun dalam penyediaan
jasa pelayanan atau
pengoperasian prasarana
pengairan. Bentuknya dapat
berupa kontrak BOT,
perusahaan patungan, kontrak
pelayanan, kontrak
manajemen, kontrak konsesi,
kontrak sewa, dan
sebagainya.
Implikasi dari dominannya
peran swasta adalah dalam
hal menetapkan biaya
penyediaan air dan harga air.
Dari pengalaman selama ini,
perusahaan swasta selalu
menetapkan prinsip pemulihan
biaya penuh (full cost
recovery) untuk
memaksimalkan profit dan
mempercepat pengembalian
modal.
Prinsip tersebut pada
praktiknya bertentangan
dengan hak rakyat atas air,
terlebih pada kelompok
masyarakat miskin. Kelompok
masyarakat miskin kota dan
petani kecil adalah contoh
kelompok-kelompok yang
rentan terampas hak dasarnya
atas air.
Dominannya paradigma air
sebagai komoditas ekonomi
dalam RUU SDA melahirkan
sejumlah tantangan untuk
memenuhi tujuan akhir dari
proses reformasi ini, yaitu
penyediaan air yang efisien
dan berkeadilan (equitable).
Sangatlah penting memberi
perlindungan terhadap hak
atas air sebagai hak dasar
umat manusia dari upaya-
upaya komersialisasi air yang
berlebihan dan menjamin
bahwa reformasi sumber daya
air dapat memberikan
kesempatan dan pelayanan
yang lebih baik bagi kelompok
miskin dengan harga yang
terjangkau.
Reformasi SDA harus mampu
mempersiapkan aspek
kelembagaan dan peraturan
yang dapat menjadi platform
bersama bagi tujuan-tujuan di
atas.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari teori kesetimbangan ini
curah hujan yang jatuh di
sawah (Reff) bukan 70 %
seperti pada metoda
konvensional. Akan tetapi
besarnya jadi bervariasi sesuai
dengan kondisi di lapangan
dan air yang dibutuhkan untuk
sawah setelah teijadi infiltrasi
dan genangan, sehingga dari
basil perhitungannya Reff ini
dapat diklasifikasikan sesuai
dengan curah hujannya.
Secara garis besar dari kajian
ini dapa disimpulkan bahwa
perhitungan kebutuhan air
dengan metode keseimbangan
air lebih efisien dengan hasil
yang lebih optimal bila
dibandingkan dengan metode
konvensional. Ini juga sangat
cocok dilaksanakan pada DI
Leuwi Goong mengingat
kondisi alamnya yang
mempunyai perbedaan tinggi
curah hujan yang sangat jauh
antara musim bujan dan
musim kemarau. Kebutuhan
air dengan metode
konvensional 1.95 I/dt/ha
sedangkan dengau metode
keseimbangan 1.06 lt/dt/ha
sehingga dari hasil simulasi
untuk Intensitas tanam yang
dihasilkan dengan metoda
kesetimbangan lebih besar
daripada metoda konvensional
yaitu diperoleh intensitas
tanam yang mempunyai luas
6771 ha yaitu 278,17 %, angka
ini jauh lebih besar
dibandingkan dengan
intensitas tanamnya dengan
metoda konvensional dari luas
5271 ha yaitu 215 %. Karena
perbedaan luasnya yang
cukup tinggi mencapai 1500 ha
memungkinkan sekitar 20
areal irigasi tadah hujan
menjadi areal irigasi teknis.
B. Saran
Sebagai saran dari kesimpulan
yang diambil mengenai
pemilihan besar intensitas
tanam agar kajian dilanjutkan,
lebih menguntungkan mana
areal yang lebih besar atau
intensitas tanam yang lebih
besar, ditinjau dari segi
ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA
Tesis Magister Program Studi
Teknik Sipil Bidang Khusus
Pengembangan Sumber Daya
Air
Website : http://mitra-pelajar-
computer.bolgspot.com
Minggu, 07 Juni 2009
Sabtu, 06 Juni 2009
MAKALAH BIOLOGI TENTANGINSEMINASI PADA SAPI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Ditinjau dari banyaknya
pengimporan ternak unggul
yang terjadi di negara kita.
Hal tersebut dipicu dari
kurangnya tenaga ahli dalam
bidang tersebut, dan juga
kurangnya lapangan kerja
yang ada. Dengan adanya
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
ini berarti membantu negara
meringankan dalam hal
pengimporan ternak unggul.
Disamping itu juga Balai
Inseminasi Buatan (BIB) juga
memproduksi semen beku,
benih unggul, ternak unggul.
Selain itu juga Balai ini
memberikan pendapatan
untuk negara.
Oleh karena itu, penulis
mencoba meneliti Balai
Inseminasi Buatan (BIB) ini
agar penulis bisa mengetahui
dengan pasti cara-cara
memproduksi sapi-sapi yang
unggul.
1.2 Rumusan dan Pembatasan
Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud
Inseminasi Buatan ?
2. Bagaimana cara
memproduksi semen beku ?
3. Apa saja jenis sapi yang ada
di Balai Inseminasi Buatan ?
1.2.2 Pembatasan Masalah
Dalam pembuatan karya tulis
ini, penulis membatasi
penulisan pada :
1. Inseminasi Buatan
2. Cara memproduksi semen
beku
3. Jenis-jenis sapi
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melaksanakan
penelitian yaitu :
1. Agar lebih memahami cara
reproduksi sapi di Balai
Inseminasi Buatan (BIB)
2. Agar menambah wawasan
dan memperbanyak ilmu
3. Memenuhi tugas lintas mata
pelajaran sekolah
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian untuk
mengumpulkan data-data
dalam rangka penulisan karya
tulis ini dengan cara sebagai
berikut :
1. Metode observasi, yaitu
proses pengumpulan data
melalui kegiatan melihat,
memantau dan menganalisa
secara langsung sehingga
akan lebih jelas objek yang
diamati.
2. Metode tertulis
wawancara / interview, yaitu
cara pengumpulan data
melalui obrolan atau tanya
jawab serta bertatap muka
secara langsung.
3. Metode tertulis, yaitu
dengan menggunakan sumber-
sumber dari berbagai buku
sebagai panduan karya tulis
tersebut.
Melalui sumber-sumber
tersebut penulis berharap
agar dapat memperoleh
informasi dan data secara
jelas walaupun tidak seakurat
mungkin.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sejarah Singkat
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
didirikan pada tanggal 3 April
1976 oleh Prof. Dr. Ir. Toyib
Hadiwijaya. Balai Inseminasi
Buatan (BIB) merupakan balai
pertama di Indonesia yang
memproduksi semen beku
ternak besar seperti sapi
perah dan sapi potong. Tetapi
tidak hanya itu saja balai ini
juga memproduksi inseminasi
buatan pada sapi, tidak hanya
pada sapi saja yang ada di
balai ini tetapi ada juga
kambing dan kerbau.
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
telah memproduksi semen
beku lebih dari 2.000.000 dosis.
Sebagai balai pertama yang
didirikan di Indonesia. Balai
Inseminasi Buatan (BIB) yang
ada di Lembang yang luas
lahannya sekitar 10 hektar
yaitu 6 hektar untuk
perumahan dan 4 hektar
untuk perkebunan.
Selain Balai Inseminasi yang
ada di Lembang ada juga Balai
Inseminasi Buatan (BIB) yang
ada di Singosari, tetapi Balai
Inseminasi Buatan (BIB) di
Lembang merupakan balai
tertua di Indonesia.
2.2 Tugas Pokok dan Fungsi
Balai Inseminasi Buatan
2.2.1 Tugas Pokok BIB
Melaksanakan produksi dan
pemasaran semen beku
ternak unggul serta
pengembangan inseminasi
buatan.
2.2.2 Fungsi BIB
1. Pemeliharaan ternak
unggul
2. Pengujian keturunan dan
felilisasi pejantan unggul
3. Produksi dan
penyimpangaan semen beku
4. Pencatatan dan
pemanfaatan semen beku
serta pengawasan mutu
semen
5. Pengembangan teknik
produksi semen beku benih
unggul
6. Pemberian saran teknik
produksi semen beku benih
unggul
7. Pemberian pelayanan
teknik kegiatan pemeliharaan
ternak dan semen beku
8. Pemberian informasi dan
dokumentasi hasil kegiatan
Inseminasi Buatan
9. Distribusi dan pemasaran
semen beku unggul
10. Pengujian kesehatan dan
diagnosa penyakit ternak
11. Urusan tata usaha dan
rumah tangga balai.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Inseminasi Buatan
Teknologi modern pada zaman
sekarang telah mampu
mengatasi masalah
kemandulan (bagi manusia)
dan menghasilkan bibit-bibit
unggul (bagi hewan yang
dapat menguntungkan
manusia), khususnya dalam
bidang bioteknologi. Hal
tersebut dapat dilakukan
diantaranya dengan melalui
inseminasi buatan.
Dari hasil kemajuan
bioteknologi tersbut, sekarang
telah tersedia inseminasi
buatan, fertilisasi atau
pembuatan in vitro dan rahim
kontrak. Kemajuan
bioteknologi tersebut apabila
diterapkan pada dunia hewan,
maka akan mendatangkan
manfaat dan keuntungan bagi
manusia. Namun, jika
kemajuan bioteknologi
diaplikasikan pada manusia,
maka akan menghasilkan
dampak yang positif dan
dampak yang negatif. Dampak
posotof dapat diambil dari
orang-orang yang telah
menikah, tetapi tidak bisa
mempunyai anak, maka agar
keinginan untuk mempunyai
anak dapat terwujud, maka
dapat dilakukan dengan
melalui bayi tabung atau
rahim kontrak. Sedangkan
dampak negatifnya yaitu
dapat menimbulkan
kekacauan dalam sistem
keturunan manusia.
Maka sejak tahun 1956 dewan
gereja di Roma telah
mengutuk kegiatan tersebut
dengan alasan bahwa
inseminasi buatan dapat
memisahkan tindakan
prokreasi (kasih sayang
terhadap anak, dan anak
adalah karunia Tuhan yang
harus dijunjung tinggi) dan
persatuan cinta. Alasan
lainnya yaitu kegiatan
inseminasi melibatkan
tindakan masturbasi yang
dibutuhkan untuk
mengeluarkan sperma.
Sampai sekarang mayoritas
para teolog moral masih
berpegang pada sikap
mengutuk terhadap kegiatan
inseminasi buatan yang
diterapkan pada manusia.
Bagaimanapun juga pewaris
sifat genetis yang terjadi pada
anak melibatkan pihak ketiga
bagi pasangan dalam
perkawinan. Hal tersebut
akan menimbulkan “celaan
biologis” serta menyangkut
psikologis anak itu sendiri
dalam lingkungan sosialnya.
Kenyataannya sekarang,
banyak para ahli psikologi
yang masih berusaha keras
untuk mewujudkan atau
mengaplikasikan inseminasi
buatan pada manusia. Namun,
bagi pasangan suami istri yang
akan melaksanakan
inseminasi buatan dapat
dilakukan atas dasar
keputusan bersama guna
mewujudkan pernikahan yang
harmonis dan bahagia.
3.2 Cara Mereproduksi Semen
Beku
Reproduksi semen beku hanya
dapat dilakukan di Balai
Inseminasi Buatan (BIB).
Tahapan-tahapan dalam
memproduksi semen beku
diantaranya yaitu:
1. Mempersiapkan sapi
pejantan yang akan
diinseminasi yang umurnya 15
– 18 bulan, tingginya 123 cm
dan beratnya minimal 350 kg.
2. Persiapan vagina buatan
yang suhunya mencapai 420C,
vagina buatan ini harus licin,
karena itu gunakan vaseline
agar licin seperti vagina yang
asli
3. Penampungan semen sapi
pejantan, sapi pejantan dan
spai betina disatukan
kemudian sapi-sapi itu akan
melakukan fisin (pemanasan
sebelum kawin), bila penis
jantan telah kelihatan merah,
tegang dan kencang, maka
penis langsung dimasukan ke
vagina buatan.
4. Kemudian sperma dalam
vagina buatan dibawa ke
laboratorium untuk diperiksa.
Bila sperma berwarna hijau,
ada kotoran yang terdorong
Bila sperma berwarna
merah, segar, venis teriritasi
Bila sperma berwarna
cokelat, venis ada yang luka
Bila sperma berwarna krem
susu bening, maka itulah
sperma yang bagus
5. Penentuan konsentrasi
semen segar
6. Proses pengenceran sperma
7. Proses filing dan sealing,
memasukan sperma ke dalam
ministrow isi I strow 0,25 CC
8. Proses pembekuan
9. After throwing dan water
intubator test
3.3 Jenis-Jenis Sapi
Sapi merupakan salah satu
jenis hewan mamalia, yang
berkembang biak dengan cara
melahirkan. Pada dasarnya
reproduksi mamalia sama
seperti reproduksi pada
manusia, terjadi secara
seksual melalui proses
fertilisasi.
Di Indonesia ada banyak jenis
sapi. Ada sapi yang
merupakan sapi lokal dan ada
sapi keturunan.
3.3.1 Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi lokal
dengan penampilan produksi
yang cukup tinggi.
Penyebarannya telah
menyebar luas di seluruh
Indonesia, meskipun masih
tetap terkonsentrasi di pulau
Bali sampai saat ini kemurnian
genetis sapi Bali masih terjaga
karena ada undang-undang
yang mengatur pembatasan
masuknya sapi jenis lain ke
pulau Bali.
Asal usul sapi Bali adalah
Banteng yang telah
mengalami penjinakan selama
bertahun-tahun. Proses
domestikasi (penjinakan) yang
cukup lama diduga penyebab
sapi Bali lebih kecil
dibandingkan dengan Banteng.
Kemampuan reproduksi sapi
Bali merupakan yang terbaik
diantara sapi-sapi lokal. Hal
ini disebabkan sapi Bali bisa
beranak setiap tahun. Sapi
Bali mudah beradaptasi
dengan lingkungan baru,
sehingga sering disebut ternak
perintis.
3.3.2 Sapi Ongole
Sapi Ongole merupakan
keturunan sapi Zebu dari
India. Berwarna dominan putih
dengan warna hitam di
beberapa bagian tubuh,
bergelambir di bawah leher
dan berpunuk. Sifatnya yang
mudah beradaptasi dengan
lingkungan setempat
menyebabkan sapi ini mampu
tumbuh secara murni di pulau
Sumba, sehingga disebut sapi
Sumba Ongole (SO).
Persilangan antara sapi Jawa
asli (madura) dengan sapi
Ongole secara grading up
menghasilkan sapi yang
disebut sapi peranakan
Ongole (PO).
3.3.3 Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan
tujuan untuk mengahsilkan
susu ini diintroduksi dari
Belanda. Warnanya belang
hitam dan putih dengan ciri
khusus segitiga pada bagian
dahi. Sapi yang tidak
berpunduk ini memiliki
pertumbuhan yang cukup
tinggi, sehingga sapi-sapi
jantannya sering dipelihara
untuk digemukkan dan
dijadikan sapi potong. Di
beberapa daerah juga
dilakukan persilangan antara
sapi Jawa asli dengan sapi FH
dengan pola grading up dan
keturunannya lazim disebut
sapi PFH.
3.3.4 Sapi Brahman
Sapi Brahman berasal dari
India yang merupakan
keturunan dari sapi Zebu. Di
Amerika sapi ini
dikembangkan cukup pesat
karena pola pemeliharaan dan
sistem perkawinan yang
terkontrol, sehingga
penampilan beberapa
parameter produksinya
melebihi penampilan produksi
di negara asalnya. Sapi
Brahman mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang baru
dan tahan gigitan caplak.
Pertumbuhan sapi Brahman
sangat cepat. Hal ini yang
menyebabkan sapi ini menjadi
primadona sapi potong untuk
negara-negara tropis.
3.3.5 Sapi Madura
Sapi Madura merupakan hasil
persilangan antara Bos
Sandoicus dan Bos Indicus
yang tumbuh dan berkembang
di Madura. Sapi yang
berpunuk ini dikenal dengan
sapi jawa asli dengan warna
kuning hingga merah bata.
Terkadang terdapat warna
putih pada moncong, ekor dan
kaki bawah. Warna hitam
terdapat pada telinga dan
bulu ekor. Penyebaran sapi
Madura telah mengalami erosi
genetis, sehingga penampilan
produksi yang diukur dari
pertambahan berat.
Jenis-jenis sapi di Balai
Inseminasi Buatan (BIB)
Di Balai Inseminasi Buatan ada
7 jenis sapi, yaitu :
1. Sapi hitam di panggung
simental
2. Cokelat semua li mosin
3. Hitam putih Vresen
Holenstain (VH)
4. Hitam Angus
5. Krem jenis Brahman Denole
6. Kopi susu jerse
7. Ongole krem pipih pantat
Tidak hanya sapi yang
diproduksi di Balai Inseminasi
Buatan, tetapi juga
memproduksi :
Kerbau burah (bule item)
bonga
Kambing dan domba
Kuda (sekarang tidak
dikembangkan lagi)
Makanan sapi yang ada di BIB
diantaranya rumput gajah,
rumput Afrika, dan konsentrat
(dedak, jagung, tepung, ikan,
darah mineral dan tulang).
Sapi di BIB tidak boleh terlalu
gemuk apabila akan
diinseminasi karena genetik
sapi harus murni. Selain itu,
untuk makanan sapi harus
ditambahkan protein sebanyak
24%.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Karya tulis dalam tugas
sekolah lintas mata pelajaran
ini sangat menambah
pengetahuan dan pengalaman
bagi penulis, khususnya di
bidang Inseminasi Buatan pada
sapi. Dengan adanya kegiatan
penelitian pada Inseminasi
Buatan pada sapi ini dapat
memahami cara reproduksi
sapi. Menambah wawasan
ilmu pengetahuan , dan juga
memenuhi tugas lintas mata
pelajaran di sekolah.
Untuk itu dalam hal ini penulis
menyusun karya tulis ini
sebagai tolak ukur negara kita
dalam hal Inseminasi Buatan
pada sapi yang dilakukan di
Lembang, Bandung. In isangat
berpengaruh untuk
pemasukan kas negara atau
keuangan negara. Selain itu
juga untuk memenuhi bibit
ternak sapi unggul yang selalu
mengimpor dari negara lain.
Selain hal tersebut juga dapat
memajukan Indonesia,
mensejahterakan warga
Indonesia khususnya di bidang
peternakan, Inseminasi pada
sapi.
4.2 Saran
Sebelumnya penulis minta
maaf kepada khalayak yang
bersangkutan yakni Balai
Inseminasi Buatan (BIB).
Penulis sangat yakin jikalau
BIB ini maju maka apa yang
dibutuhkan negara kita dalam
hal pembibitan ternak sapi
unggul, pembuatan semen
beku ini dapat berbuah hasil
yang diinginkan yaitu
memperoleh keuntungan.
Kelancaran yang dilakukan
selama beberapa tahun yaitu
dari tahun 1976 sampai
sekarang ini adalah karena
berkat kerja keras, usaha
atau upaya, saling kerja sama
yang dilakukan oleh para
karyawan kompak, disiplin
dan pantang menyerah dalam
menghadapi hambatan dan
rintangan, sehingga
membuahkan hasil yang
memuaskan.
Selain itu dengan apa yang
dikaji, digali dan dipelajari apa
yang didapat di BIB ini, penulis
sangat berharap jikalau
penulis berhasil dalam
pendidikannya maka akan
dengan berat hati, BIB
bersedia menerima sebagai
karyawan di BIB tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Supriyadi, Edi, dkk. Sigap
Biologi 2B. Bandung : CV.
Karya Iptek
2. Kusumaatmaja. Muhamad.
Kiat Mengatasi Permasalahan
Praktis.
3. Akhyar, Moh Salman, 2003.
Biologi Untuk SMA Kelas 1.
Bandung : Grafindo Media
Pratama.
4. Agustini, Dewi. 2002.
Bioteknologi. Bandung : PPG
Tertulis.
5. BALAI INSEMINASI BUATAN.
Lembang, Bandung.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Ditinjau dari banyaknya
pengimporan ternak unggul
yang terjadi di negara kita.
Hal tersebut dipicu dari
kurangnya tenaga ahli dalam
bidang tersebut, dan juga
kurangnya lapangan kerja
yang ada. Dengan adanya
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
ini berarti membantu negara
meringankan dalam hal
pengimporan ternak unggul.
Disamping itu juga Balai
Inseminasi Buatan (BIB) juga
memproduksi semen beku,
benih unggul, ternak unggul.
Selain itu juga Balai ini
memberikan pendapatan
untuk negara.
Oleh karena itu, penulis
mencoba meneliti Balai
Inseminasi Buatan (BIB) ini
agar penulis bisa mengetahui
dengan pasti cara-cara
memproduksi sapi-sapi yang
unggul.
1.2 Rumusan dan Pembatasan
Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud
Inseminasi Buatan ?
2. Bagaimana cara
memproduksi semen beku ?
3. Apa saja jenis sapi yang ada
di Balai Inseminasi Buatan ?
1.2.2 Pembatasan Masalah
Dalam pembuatan karya tulis
ini, penulis membatasi
penulisan pada :
1. Inseminasi Buatan
2. Cara memproduksi semen
beku
3. Jenis-jenis sapi
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis melaksanakan
penelitian yaitu :
1. Agar lebih memahami cara
reproduksi sapi di Balai
Inseminasi Buatan (BIB)
2. Agar menambah wawasan
dan memperbanyak ilmu
3. Memenuhi tugas lintas mata
pelajaran sekolah
1.4 Metode Penelitian
Metode penelitian untuk
mengumpulkan data-data
dalam rangka penulisan karya
tulis ini dengan cara sebagai
berikut :
1. Metode observasi, yaitu
proses pengumpulan data
melalui kegiatan melihat,
memantau dan menganalisa
secara langsung sehingga
akan lebih jelas objek yang
diamati.
2. Metode tertulis
wawancara / interview, yaitu
cara pengumpulan data
melalui obrolan atau tanya
jawab serta bertatap muka
secara langsung.
3. Metode tertulis, yaitu
dengan menggunakan sumber-
sumber dari berbagai buku
sebagai panduan karya tulis
tersebut.
Melalui sumber-sumber
tersebut penulis berharap
agar dapat memperoleh
informasi dan data secara
jelas walaupun tidak seakurat
mungkin.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sejarah Singkat
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
didirikan pada tanggal 3 April
1976 oleh Prof. Dr. Ir. Toyib
Hadiwijaya. Balai Inseminasi
Buatan (BIB) merupakan balai
pertama di Indonesia yang
memproduksi semen beku
ternak besar seperti sapi
perah dan sapi potong. Tetapi
tidak hanya itu saja balai ini
juga memproduksi inseminasi
buatan pada sapi, tidak hanya
pada sapi saja yang ada di
balai ini tetapi ada juga
kambing dan kerbau.
Balai Inseminasi Buatan (BIB)
telah memproduksi semen
beku lebih dari 2.000.000 dosis.
Sebagai balai pertama yang
didirikan di Indonesia. Balai
Inseminasi Buatan (BIB) yang
ada di Lembang yang luas
lahannya sekitar 10 hektar
yaitu 6 hektar untuk
perumahan dan 4 hektar
untuk perkebunan.
Selain Balai Inseminasi yang
ada di Lembang ada juga Balai
Inseminasi Buatan (BIB) yang
ada di Singosari, tetapi Balai
Inseminasi Buatan (BIB) di
Lembang merupakan balai
tertua di Indonesia.
2.2 Tugas Pokok dan Fungsi
Balai Inseminasi Buatan
2.2.1 Tugas Pokok BIB
Melaksanakan produksi dan
pemasaran semen beku
ternak unggul serta
pengembangan inseminasi
buatan.
2.2.2 Fungsi BIB
1. Pemeliharaan ternak
unggul
2. Pengujian keturunan dan
felilisasi pejantan unggul
3. Produksi dan
penyimpangaan semen beku
4. Pencatatan dan
pemanfaatan semen beku
serta pengawasan mutu
semen
5. Pengembangan teknik
produksi semen beku benih
unggul
6. Pemberian saran teknik
produksi semen beku benih
unggul
7. Pemberian pelayanan
teknik kegiatan pemeliharaan
ternak dan semen beku
8. Pemberian informasi dan
dokumentasi hasil kegiatan
Inseminasi Buatan
9. Distribusi dan pemasaran
semen beku unggul
10. Pengujian kesehatan dan
diagnosa penyakit ternak
11. Urusan tata usaha dan
rumah tangga balai.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Inseminasi Buatan
Teknologi modern pada zaman
sekarang telah mampu
mengatasi masalah
kemandulan (bagi manusia)
dan menghasilkan bibit-bibit
unggul (bagi hewan yang
dapat menguntungkan
manusia), khususnya dalam
bidang bioteknologi. Hal
tersebut dapat dilakukan
diantaranya dengan melalui
inseminasi buatan.
Dari hasil kemajuan
bioteknologi tersbut, sekarang
telah tersedia inseminasi
buatan, fertilisasi atau
pembuatan in vitro dan rahim
kontrak. Kemajuan
bioteknologi tersebut apabila
diterapkan pada dunia hewan,
maka akan mendatangkan
manfaat dan keuntungan bagi
manusia. Namun, jika
kemajuan bioteknologi
diaplikasikan pada manusia,
maka akan menghasilkan
dampak yang positif dan
dampak yang negatif. Dampak
posotof dapat diambil dari
orang-orang yang telah
menikah, tetapi tidak bisa
mempunyai anak, maka agar
keinginan untuk mempunyai
anak dapat terwujud, maka
dapat dilakukan dengan
melalui bayi tabung atau
rahim kontrak. Sedangkan
dampak negatifnya yaitu
dapat menimbulkan
kekacauan dalam sistem
keturunan manusia.
Maka sejak tahun 1956 dewan
gereja di Roma telah
mengutuk kegiatan tersebut
dengan alasan bahwa
inseminasi buatan dapat
memisahkan tindakan
prokreasi (kasih sayang
terhadap anak, dan anak
adalah karunia Tuhan yang
harus dijunjung tinggi) dan
persatuan cinta. Alasan
lainnya yaitu kegiatan
inseminasi melibatkan
tindakan masturbasi yang
dibutuhkan untuk
mengeluarkan sperma.
Sampai sekarang mayoritas
para teolog moral masih
berpegang pada sikap
mengutuk terhadap kegiatan
inseminasi buatan yang
diterapkan pada manusia.
Bagaimanapun juga pewaris
sifat genetis yang terjadi pada
anak melibatkan pihak ketiga
bagi pasangan dalam
perkawinan. Hal tersebut
akan menimbulkan “celaan
biologis” serta menyangkut
psikologis anak itu sendiri
dalam lingkungan sosialnya.
Kenyataannya sekarang,
banyak para ahli psikologi
yang masih berusaha keras
untuk mewujudkan atau
mengaplikasikan inseminasi
buatan pada manusia. Namun,
bagi pasangan suami istri yang
akan melaksanakan
inseminasi buatan dapat
dilakukan atas dasar
keputusan bersama guna
mewujudkan pernikahan yang
harmonis dan bahagia.
3.2 Cara Mereproduksi Semen
Beku
Reproduksi semen beku hanya
dapat dilakukan di Balai
Inseminasi Buatan (BIB).
Tahapan-tahapan dalam
memproduksi semen beku
diantaranya yaitu:
1. Mempersiapkan sapi
pejantan yang akan
diinseminasi yang umurnya 15
– 18 bulan, tingginya 123 cm
dan beratnya minimal 350 kg.
2. Persiapan vagina buatan
yang suhunya mencapai 420C,
vagina buatan ini harus licin,
karena itu gunakan vaseline
agar licin seperti vagina yang
asli
3. Penampungan semen sapi
pejantan, sapi pejantan dan
spai betina disatukan
kemudian sapi-sapi itu akan
melakukan fisin (pemanasan
sebelum kawin), bila penis
jantan telah kelihatan merah,
tegang dan kencang, maka
penis langsung dimasukan ke
vagina buatan.
4. Kemudian sperma dalam
vagina buatan dibawa ke
laboratorium untuk diperiksa.
Bila sperma berwarna hijau,
ada kotoran yang terdorong
Bila sperma berwarna
merah, segar, venis teriritasi
Bila sperma berwarna
cokelat, venis ada yang luka
Bila sperma berwarna krem
susu bening, maka itulah
sperma yang bagus
5. Penentuan konsentrasi
semen segar
6. Proses pengenceran sperma
7. Proses filing dan sealing,
memasukan sperma ke dalam
ministrow isi I strow 0,25 CC
8. Proses pembekuan
9. After throwing dan water
intubator test
3.3 Jenis-Jenis Sapi
Sapi merupakan salah satu
jenis hewan mamalia, yang
berkembang biak dengan cara
melahirkan. Pada dasarnya
reproduksi mamalia sama
seperti reproduksi pada
manusia, terjadi secara
seksual melalui proses
fertilisasi.
Di Indonesia ada banyak jenis
sapi. Ada sapi yang
merupakan sapi lokal dan ada
sapi keturunan.
3.3.1 Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi lokal
dengan penampilan produksi
yang cukup tinggi.
Penyebarannya telah
menyebar luas di seluruh
Indonesia, meskipun masih
tetap terkonsentrasi di pulau
Bali sampai saat ini kemurnian
genetis sapi Bali masih terjaga
karena ada undang-undang
yang mengatur pembatasan
masuknya sapi jenis lain ke
pulau Bali.
Asal usul sapi Bali adalah
Banteng yang telah
mengalami penjinakan selama
bertahun-tahun. Proses
domestikasi (penjinakan) yang
cukup lama diduga penyebab
sapi Bali lebih kecil
dibandingkan dengan Banteng.
Kemampuan reproduksi sapi
Bali merupakan yang terbaik
diantara sapi-sapi lokal. Hal
ini disebabkan sapi Bali bisa
beranak setiap tahun. Sapi
Bali mudah beradaptasi
dengan lingkungan baru,
sehingga sering disebut ternak
perintis.
3.3.2 Sapi Ongole
Sapi Ongole merupakan
keturunan sapi Zebu dari
India. Berwarna dominan putih
dengan warna hitam di
beberapa bagian tubuh,
bergelambir di bawah leher
dan berpunuk. Sifatnya yang
mudah beradaptasi dengan
lingkungan setempat
menyebabkan sapi ini mampu
tumbuh secara murni di pulau
Sumba, sehingga disebut sapi
Sumba Ongole (SO).
Persilangan antara sapi Jawa
asli (madura) dengan sapi
Ongole secara grading up
menghasilkan sapi yang
disebut sapi peranakan
Ongole (PO).
3.3.3 Sapi Fries Holstein (FH)
Sapi yang dipelihara dengan
tujuan untuk mengahsilkan
susu ini diintroduksi dari
Belanda. Warnanya belang
hitam dan putih dengan ciri
khusus segitiga pada bagian
dahi. Sapi yang tidak
berpunduk ini memiliki
pertumbuhan yang cukup
tinggi, sehingga sapi-sapi
jantannya sering dipelihara
untuk digemukkan dan
dijadikan sapi potong. Di
beberapa daerah juga
dilakukan persilangan antara
sapi Jawa asli dengan sapi FH
dengan pola grading up dan
keturunannya lazim disebut
sapi PFH.
3.3.4 Sapi Brahman
Sapi Brahman berasal dari
India yang merupakan
keturunan dari sapi Zebu. Di
Amerika sapi ini
dikembangkan cukup pesat
karena pola pemeliharaan dan
sistem perkawinan yang
terkontrol, sehingga
penampilan beberapa
parameter produksinya
melebihi penampilan produksi
di negara asalnya. Sapi
Brahman mampu beradaptasi
dengan lingkungan yang baru
dan tahan gigitan caplak.
Pertumbuhan sapi Brahman
sangat cepat. Hal ini yang
menyebabkan sapi ini menjadi
primadona sapi potong untuk
negara-negara tropis.
3.3.5 Sapi Madura
Sapi Madura merupakan hasil
persilangan antara Bos
Sandoicus dan Bos Indicus
yang tumbuh dan berkembang
di Madura. Sapi yang
berpunuk ini dikenal dengan
sapi jawa asli dengan warna
kuning hingga merah bata.
Terkadang terdapat warna
putih pada moncong, ekor dan
kaki bawah. Warna hitam
terdapat pada telinga dan
bulu ekor. Penyebaran sapi
Madura telah mengalami erosi
genetis, sehingga penampilan
produksi yang diukur dari
pertambahan berat.
Jenis-jenis sapi di Balai
Inseminasi Buatan (BIB)
Di Balai Inseminasi Buatan ada
7 jenis sapi, yaitu :
1. Sapi hitam di panggung
simental
2. Cokelat semua li mosin
3. Hitam putih Vresen
Holenstain (VH)
4. Hitam Angus
5. Krem jenis Brahman Denole
6. Kopi susu jerse
7. Ongole krem pipih pantat
Tidak hanya sapi yang
diproduksi di Balai Inseminasi
Buatan, tetapi juga
memproduksi :
Kerbau burah (bule item)
bonga
Kambing dan domba
Kuda (sekarang tidak
dikembangkan lagi)
Makanan sapi yang ada di BIB
diantaranya rumput gajah,
rumput Afrika, dan konsentrat
(dedak, jagung, tepung, ikan,
darah mineral dan tulang).
Sapi di BIB tidak boleh terlalu
gemuk apabila akan
diinseminasi karena genetik
sapi harus murni. Selain itu,
untuk makanan sapi harus
ditambahkan protein sebanyak
24%.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Karya tulis dalam tugas
sekolah lintas mata pelajaran
ini sangat menambah
pengetahuan dan pengalaman
bagi penulis, khususnya di
bidang Inseminasi Buatan pada
sapi. Dengan adanya kegiatan
penelitian pada Inseminasi
Buatan pada sapi ini dapat
memahami cara reproduksi
sapi. Menambah wawasan
ilmu pengetahuan , dan juga
memenuhi tugas lintas mata
pelajaran di sekolah.
Untuk itu dalam hal ini penulis
menyusun karya tulis ini
sebagai tolak ukur negara kita
dalam hal Inseminasi Buatan
pada sapi yang dilakukan di
Lembang, Bandung. In isangat
berpengaruh untuk
pemasukan kas negara atau
keuangan negara. Selain itu
juga untuk memenuhi bibit
ternak sapi unggul yang selalu
mengimpor dari negara lain.
Selain hal tersebut juga dapat
memajukan Indonesia,
mensejahterakan warga
Indonesia khususnya di bidang
peternakan, Inseminasi pada
sapi.
4.2 Saran
Sebelumnya penulis minta
maaf kepada khalayak yang
bersangkutan yakni Balai
Inseminasi Buatan (BIB).
Penulis sangat yakin jikalau
BIB ini maju maka apa yang
dibutuhkan negara kita dalam
hal pembibitan ternak sapi
unggul, pembuatan semen
beku ini dapat berbuah hasil
yang diinginkan yaitu
memperoleh keuntungan.
Kelancaran yang dilakukan
selama beberapa tahun yaitu
dari tahun 1976 sampai
sekarang ini adalah karena
berkat kerja keras, usaha
atau upaya, saling kerja sama
yang dilakukan oleh para
karyawan kompak, disiplin
dan pantang menyerah dalam
menghadapi hambatan dan
rintangan, sehingga
membuahkan hasil yang
memuaskan.
Selain itu dengan apa yang
dikaji, digali dan dipelajari apa
yang didapat di BIB ini, penulis
sangat berharap jikalau
penulis berhasil dalam
pendidikannya maka akan
dengan berat hati, BIB
bersedia menerima sebagai
karyawan di BIB tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1. Supriyadi, Edi, dkk. Sigap
Biologi 2B. Bandung : CV.
Karya Iptek
2. Kusumaatmaja. Muhamad.
Kiat Mengatasi Permasalahan
Praktis.
3. Akhyar, Moh Salman, 2003.
Biologi Untuk SMA Kelas 1.
Bandung : Grafindo Media
Pratama.
4. Agustini, Dewi. 2002.
Bioteknologi. Bandung : PPG
Tertulis.
5. BALAI INSEMINASI BUATAN.
Lembang, Bandung.
Jumat, 05 Juni 2009
MAKALAH BIOLOGI TENTANGPOLUSI AIR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari
kita memerlukan air bersih
untuk minum, memasak,
mencuci dan keperluan lain.
Air tersebut mempunyai
standar 3 B yaitu tidak
berwarna, tidak berbau, dan
tidak beracun. Tetapi
adakalanya kita melihat air
yang berwarna keruh dan
berbau serta sering kali
bercampur dengan benda-
benda sampah seperti kaleng,
plastik, dan sampah organic.
Pemandangan seperti ini kita
jumpai pada aliran sungai atau
dikolam-kolam. Air yang
demikian biasa disebut air
kotor atau disebut pula air
yang terpolusi.
Darimana polutan itu
berasal ?
Bagi kita, khususnya
masyarakat pedesaan sungai
adalah sumber air sehari-hari.
Sumber polutan dapat berasal
dari mana-mana. Contohnya
limbah-limbah industri dibuang
dan dialirkan ke sungai.
Semua akhirnya bermuara di
sungai dan pencemaran
polutan air ini dapat
merugikan manusia bila
manusia mengkonsumsi air
yang tercemar.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang terjadi :
- Apabila polusi air disebabkan
oleh zat-zat kimia buatan
manusia mempunyai dampak
negatif.
- Dapat mengakibatkan
penyakit bagi manusia dan
hewan yang hidup didarat dan
diair akan mati oleh racun.
1.3 Tujuan
- Supaya siswa dapat lebih
memahami bahaya polusi air
- Dapat membedakan antara
air yang bersih dari polusi dan
air yang sudah terpolusi
- Dapat lebih berhati-hati
dalam menggunakan air yang
bersih dan yang terpolusi
1.4 Metode
Metode yang kami gunakan :
- Dengan mencari dari buku-
buku Biologi dan buku-buku
bacaan lainnya.
- Mengumpulkan informasi
- Ditulis dikertas buram.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Polusi Air
Salah satu dampak negatif
kemajuan ilmu dan teknologi
yang tidak digunakan dengan
benar adalah terjadinya polusi
(pencemaran). Polusi adalah
peristiwa masuknya zat,
energi, unsur atau komponen
lain yang merugikan kedalam
lingkungan akibat aktivitas
manusia atau proses alami.
Dan segala sesuatu yang
menyebabkan polusi disebut
Polutan.
Sesuatu benda dapat
dikatakan polutan bila :
1. Kadarnya melebihi batas
normal
2. Berada pada tempat dan
waktu yang tidak tepat.
Polutan dapat berupa debu,
bahan kimia, suara, panas,
radiasi, makhluk hidup, zat-zat
yang dihasilkan makhluk hidup
dan sebagainya. Adanya
polutan dalam jumlah yang
berlebihan menyebabkan
lingkungan tidak dapat
mengadakan pembersihan
sendiri (regenerasi). Oleh
karena itu, polusi terhadap
lingkungan perludideteksi
secara dini dan ditangani
segera dan terpadu.
Polusi Air adalah peristiwa
masuknya zat, energi, unsur
atau komponen lainnya
kedalam air sehingga kualitas
air terganggu. Kualitas air
terganggu ditandai dengan
perubahan bau, rasa dan
warna.
Beberapa contoh polutannya
sebagai berikut :
a. Fosfat
Fosfat berasal dari
penggunaan pupuk buatan
yang berlebihan dan deterjen.
b. Nitrat dan Nitrit
Kedua senyawa ini berasal
dari penggunaan pupuk
buatan yang berlebihan dan
proses pembusukan materi
organic.
c. Poliklorin Bifenil (PCB)
Senyawa ini berasal dari
pemanfaatan bahan-bahan
pelumas, plastik dan alat
listrik.
d. Residu Pestisida
Organiklorin
Residu ini berasal dari
penyemprotan pestisida padaa
tanaman untuk membunuh
serangga.
e. Minyak dan Hidrokarbon
Minyak dan hidrokarbon dapat
berasal dari kebocoran pada
roda dan kapal pengangkut
minyak.
f. Radio Nuklida
Radio nuklida atau unsur
radioaktif berasal dari
kebocoran tangki
penyimpanan limbah
radioaktif.
g. Logam-logam Berat
Logam berat berasal dari
industri bahan kimia,
penambangan dan bensin.
h. Limbah Pertanian
Limbah pertanian berasal dari
kotoran hewan dan tempat
penyimpanan makanan
ternak.
i. Kotoran manusia
Kotoran manusia berasal dari
saluran pembuangan tinja
manusia.
2.2 Macam-Macam Sumber
Polusi Air
Sumber polusi air antara lain
limbah industri, pertanian dan
rumah tangga. Ada beberapa
tipe polutan yang dapat
masuk perairan yaitu : bahan-
bahan yang mengandung bibit
penyakit, bahan-bahan yang
banyak membutuhkan oksigen
untuk pengurainya, bahan-
bahan kimia organic dari
industri atau limbah pupuk
pertanian, bahan-bahan yang
tidak sedimen (endapan), dan
bahan-bahan yang
mengandung radioaktif dan
panas.
Penggunaan insektisida seperti
DDT (Dichloro Diphenil
Trichonethan) oleh para
petani, untuk memberantas
hama tanaman dan serangga
penyebar penyakit lain secara
berlabihan dapat
mengakibatkan pencemaran
air. Terjadinya pembusukan
yang berlebihan diperairan
dapat pula menyebabkan
pencemeran. Pembuangan
sampah dapat mengakibatkan
kadar O2 terlarut dalam air
semakin berkurang karena
sebagian besar dipergunakan
oleh bakteri pembusuk.
Pembuangan sampah organic
maupun yang anorganic yang
dibuang kesungai terus-
menerus, selain mencemari
air, terutama dimusim hujan
ini akan menimbulkan banjir.
Belakangan ini musibah
karena polusi air datang
seakan tidak terbendung lagi
disetip musim hujan.
Sebenarnya air hujan adalah
rahmat. Akan tetapi rahmat
dapat menjadi ujian apabila
kita tidak
mengelolanyadengan benar.
Jika kita amati, air adalah
unsur alam yang penting bagi
manusia dengan sifat mengalir
dan meresapnya. Apabila
jalur-jalur alirannya terganggu
dan lahan resapannya
terbatas, air akan mengalir
kesegala penjuru mengisi
ruang-ruang yang paling
rendah. Akhirnya terjadilah
banjir. Karena itu yang disebut
polusi air karena banyak kita
yang kurang disiplin, misalnya
dalam kebersihan lingkungan
dan membuang sampah
sembarangan.
Musibah banjir dapat terbagi
dua akibat polusi air antara
lain :
1. Banjir bandang (banjir
besar), terjadi akibat air
meluap dari jalur-jalur aliran
(sungai) dengan volume air
yang besar.
2. Banjir genangan yaitu banjir
local (setempat) akibat
tergenangnya /
terkonsentrasinya air hujan
disuatu daerah yang saluran
air (arainase) dan lahan
resapannya terbatas.
Akibatnya dalam waktu
tertentu (temporer) air akan
mengalir disekitar lingkungan
rumah kita.
2.3 Bahaya Dari Akibat Polusi
Air
Bibit-bibit penyakit berbagai
zat yang bersifat racun dan
bahan radioaktif dapat
merugikan manusia. Berbagai
polutan memerlukan O2 untuk
pengurainya. Jika O2 kurang ,
pengurainya tidak sempurna
dan menyebabkan air berubah
warnanya dan berbau busuk.
Bahan atau logam yang
berbahaya seperti arsenat,
uradium, krom, timah, air
raksa, benzon, tetraklorida,
karbon dan lain-lain. Bahan-
bahan tesebut dapat merusak
organ tubuh manusia atau
dapat menyebabkan kanker.
Sejumlah besar limbah dari
sungai akan masuk kelaut.
Polutan ini dapat merusak
kehidupan air sekitar muara
sungai dan sebagian kecil laut
muara. Bahan-bahan yang
berbahaya masuk kelaut atau
samudera mempunyai akibat
jangka panjang yang belum
diketahui. Banyak jenis
kerang-kerangan yang
mungkin mengandung zat
yang berbahaya untuk
dimakan. Laut dapat pula
tecemar oleh minyak yang
asalnya mungkin dari
pemukiman, pabrik, melalui
sungai atau dari kapal tanker
yang rusak. Minyak dapat
mematikan, burung dan
hewan laut lainnya, sebagai
contoh, efek keracunan
hingga dapat dilihat di Jepang.
Merkuri yang dibuang sebuah
industri plastik keteluk
minamata terakumulasi di
jaringan tubuh ikan dan
masyarakat yang
mengkonsumsinya menderita
cacat dan meninggal.
Akibat yang ditimbulkan oleh
polusi air:
a. Terganggunya kehidupan
organisme air karena
berkurangnya, kandungan
oksigen
b. Terjadinya ledakan
ganggang dan tumbuhan air
(eurotrofikasi)
c. Pendangkalan dasar
perairan
d. Tersumbatnya penyaring
reservoir, dan menyebabkan
perubahan ekologi
e. Dalam jangka panjang
adalah kanker dan kelahiran
cacat
f. Akibat penggunaan pertisida
yang berlebihan sesuai selain
membunuh hama dan
penyakit, juga membunuh
serangga dan makhluk
berguna terutama predator
g. Kematian biota kuno,
seperti plankton, iakn, bahkan
burung
h. Mutasi sel, kanker, dan
leukeumia
2.4 Usaha-usaha Mengatasi
dan Mencegah Polusi Air
Pengenceran dan penguraian
polutan air tanah sulit sekali
karena airnya tidak mengalir
dan tidak mengandung bakteri
pengurai yang aerob jadi, air
tanah yang tercemar akan
tetap tercemar dalam yang
waktu yang sangat lama,
walau tidak ada bahan
pencemaran yang masuk.
Karena ini banyak usaha
untuk menajaga agar tanah
tetap bersih misalnya:
1. Menempatkan daerah
industri atau pabrik jauh dari
daerah perumahan atau
pemukiman
2. Pembuangan limbah industri
diatur sehingga tidak
mencermari lingkungan atau
ekosistem
3. Pengawasan terhadap
penggunaan jenis – jenis
pestisida dan zat – zat kimia
lain yang dapat menimbulkan
pencemaran
4. Memperluas gerakan
penghijauan
5. Tindakan tegas terhadap
perilaku pencemaran
lingkungan
6. Memberikan kesadaran
terhadap masyaratkat tentang
arti lingkungan hidup sehingga
manusia lebih lebih mencintai
lingkungan hidupnya
7. Melakukan intensifikasi
pertanian
Adapun cara lain untuk
mengatasi polusi air atau yang
dikenai dengan sebutan banjir
pun ada dua macam
1. Banjir Bandang dapat
diatasi secara meluas dengan
didukung berbagai disiplin
ilmu
2. banjir genangan dapat
diatasi dengan membersihkan
air dari penyumbatan yang
mengakibatkan air meluap
banyak orang mengatakan ”
lebih baik mecegah dari pada
mengatasi”, hal ini berlaku
pula pada banjir genangan di
bawah ini ada sejumlah
langkah yang dapat kita
lakukan untuk mencegah
banjir genangan :
1. dalam merencanakan jalan
– jalan lingkungan baik itu
program pemerintah maupun
swadaya masyarakat
sebaiknya memilih material
jalan yang menyerap air
misalnya, penggunaan bahan
dari paving blok (blok – blok
adukan beton yang disusun
dengan rongga – rongga
resapan air disela – selanya.
Hal yang tidak kalah
pentingnya adalah penataan
saluran / drainase lingkjungan
pembuatannyapun harus
bersamaan dengan
pembuatan jalan tersebut
2. Apabila di halaman
pekarangan rumah kita masih
terdapat ruang – ruang
terbuka, buatlah sumur –
sumur resapan air hujan
sebanyak –banyaknya. Fungsi
sumur resapan air ini untuk
mempercepat air meresap
kedalam tanah.
Dengan membuat sumur
resapan air hujan tersebut,
sebenarnya kita dapat
memperoleh manfaat seperti
berikut:
a. Persediaan air bersih dalam
tanah disekitar rumah kita
cukup baik dan banyak
b. Tanah bekas galian sumur
dapat dipergunakan untuk
menimbun lahan – lahan yang
rendah atau meninggikan
lantai rumah
c. Apabila air hujan tidak
tertampung dalam sebuah
selokan – selokan rumah /
talang – talang rumah, air
dapat dialirkan kesumur –
sumur resapan. Janganlah
membuang sampah atau
mengeluarkan air limbah
rumah tangga (air bekas
mandi, cucian dan sebagainya)
kedalam sumur resapan air
hujan karena bisa
mencemarkan kandungan air
tanah. Khusus untuk buangan
air limbah rumah tangga,
buatlah sumur resapan
tersendiri
d. Apabila air banjir masuk
kerumah mencapai ketinggian
20-50 cm satu – satunya jalan
adalah meninggikan lantai
rumah kita diatas ambang
permukaan air banjir
e. Cara lain adalah membuat
tanggul di depan pintu masuk
rumah kita. Cara ini sudah
umum dilakukan orang hanya
teknisnya sering kurang
terencana secara mendetail
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari
Bab II dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Polusi adalah peristiwa
masuknya zat, energi unsure
atau komponen lain ke dalam
lingkungan akibat aktifitas
manusia atau proses alami
Segala sesuatu yang
menyebabkan polusi disebut
polutan
Polusi air adalah peristiwa
masuknya zat, energi, unsure,
atau komponen lainya ke
dalam air sehingga kualitas
air terganggu
Sumber polusi air antara lain
limbah industri, pertanian, dan
rumah tangga
Polusi air juga dapat
menimbulkan bencana
diantaranya banjir
Elektrofikasi adalah
penimbunan mineral yang
menyebabkan peledakan alga
secara serentak menutupi
pencemaran air
Bahan atau logam
berbahaya seperti arsenat,
benzon, timah dan lain – lain
dapat merusak organ tubuh
manusia dan menyebabkan
kanker
Akibat yang ditimbulkan
polusi air dalam zangua
pasang adalah kanker dan
kelahiran bayi cacat
Melakukan intensifikasi
pertanian
Banjir genangan dapat
diatasi dengan membersihkan
saluran air dari penyumbatan
3.2 Saran
Saran yang penulis akan
sampaikan :
Hindari pemakaian obat
pemberantas hama dan
serangga secara berlebihan.
Sebaiknya kita berhati-hati
dalam menggunakan air,
karena air itu ada yang
terpolusi dan tidak terpolusi.
Jagalah agar air di
lingkungan rumah dan
sekitarnya agar tetap bersih
dan terhindar dari
pencemaran air.
Jangan membuang sampah
kesungai, dan jika terjadi
penimbunan sampah di sungai
akan mengakibatkan banjir
DAFTAR PUSTAKA
Djambur. W. Sukarno. 1993.
Biologi I untuk Sekolah
Menengah Umum. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, pusat
perbukuan.
Ahya M Salman, 1993, Biologi I
untuk Sekolah Menengah
Umum, Depdikbud, Jakarta
Santiyono, 1994. Biologi I
untuk Sekolah Menengah
Umum, penerbit Erlangga
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari
kita memerlukan air bersih
untuk minum, memasak,
mencuci dan keperluan lain.
Air tersebut mempunyai
standar 3 B yaitu tidak
berwarna, tidak berbau, dan
tidak beracun. Tetapi
adakalanya kita melihat air
yang berwarna keruh dan
berbau serta sering kali
bercampur dengan benda-
benda sampah seperti kaleng,
plastik, dan sampah organic.
Pemandangan seperti ini kita
jumpai pada aliran sungai atau
dikolam-kolam. Air yang
demikian biasa disebut air
kotor atau disebut pula air
yang terpolusi.
Darimana polutan itu
berasal ?
Bagi kita, khususnya
masyarakat pedesaan sungai
adalah sumber air sehari-hari.
Sumber polutan dapat berasal
dari mana-mana. Contohnya
limbah-limbah industri dibuang
dan dialirkan ke sungai.
Semua akhirnya bermuara di
sungai dan pencemaran
polutan air ini dapat
merugikan manusia bila
manusia mengkonsumsi air
yang tercemar.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang terjadi :
- Apabila polusi air disebabkan
oleh zat-zat kimia buatan
manusia mempunyai dampak
negatif.
- Dapat mengakibatkan
penyakit bagi manusia dan
hewan yang hidup didarat dan
diair akan mati oleh racun.
1.3 Tujuan
- Supaya siswa dapat lebih
memahami bahaya polusi air
- Dapat membedakan antara
air yang bersih dari polusi dan
air yang sudah terpolusi
- Dapat lebih berhati-hati
dalam menggunakan air yang
bersih dan yang terpolusi
1.4 Metode
Metode yang kami gunakan :
- Dengan mencari dari buku-
buku Biologi dan buku-buku
bacaan lainnya.
- Mengumpulkan informasi
- Ditulis dikertas buram.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Polusi Air
Salah satu dampak negatif
kemajuan ilmu dan teknologi
yang tidak digunakan dengan
benar adalah terjadinya polusi
(pencemaran). Polusi adalah
peristiwa masuknya zat,
energi, unsur atau komponen
lain yang merugikan kedalam
lingkungan akibat aktivitas
manusia atau proses alami.
Dan segala sesuatu yang
menyebabkan polusi disebut
Polutan.
Sesuatu benda dapat
dikatakan polutan bila :
1. Kadarnya melebihi batas
normal
2. Berada pada tempat dan
waktu yang tidak tepat.
Polutan dapat berupa debu,
bahan kimia, suara, panas,
radiasi, makhluk hidup, zat-zat
yang dihasilkan makhluk hidup
dan sebagainya. Adanya
polutan dalam jumlah yang
berlebihan menyebabkan
lingkungan tidak dapat
mengadakan pembersihan
sendiri (regenerasi). Oleh
karena itu, polusi terhadap
lingkungan perludideteksi
secara dini dan ditangani
segera dan terpadu.
Polusi Air adalah peristiwa
masuknya zat, energi, unsur
atau komponen lainnya
kedalam air sehingga kualitas
air terganggu. Kualitas air
terganggu ditandai dengan
perubahan bau, rasa dan
warna.
Beberapa contoh polutannya
sebagai berikut :
a. Fosfat
Fosfat berasal dari
penggunaan pupuk buatan
yang berlebihan dan deterjen.
b. Nitrat dan Nitrit
Kedua senyawa ini berasal
dari penggunaan pupuk
buatan yang berlebihan dan
proses pembusukan materi
organic.
c. Poliklorin Bifenil (PCB)
Senyawa ini berasal dari
pemanfaatan bahan-bahan
pelumas, plastik dan alat
listrik.
d. Residu Pestisida
Organiklorin
Residu ini berasal dari
penyemprotan pestisida padaa
tanaman untuk membunuh
serangga.
e. Minyak dan Hidrokarbon
Minyak dan hidrokarbon dapat
berasal dari kebocoran pada
roda dan kapal pengangkut
minyak.
f. Radio Nuklida
Radio nuklida atau unsur
radioaktif berasal dari
kebocoran tangki
penyimpanan limbah
radioaktif.
g. Logam-logam Berat
Logam berat berasal dari
industri bahan kimia,
penambangan dan bensin.
h. Limbah Pertanian
Limbah pertanian berasal dari
kotoran hewan dan tempat
penyimpanan makanan
ternak.
i. Kotoran manusia
Kotoran manusia berasal dari
saluran pembuangan tinja
manusia.
2.2 Macam-Macam Sumber
Polusi Air
Sumber polusi air antara lain
limbah industri, pertanian dan
rumah tangga. Ada beberapa
tipe polutan yang dapat
masuk perairan yaitu : bahan-
bahan yang mengandung bibit
penyakit, bahan-bahan yang
banyak membutuhkan oksigen
untuk pengurainya, bahan-
bahan kimia organic dari
industri atau limbah pupuk
pertanian, bahan-bahan yang
tidak sedimen (endapan), dan
bahan-bahan yang
mengandung radioaktif dan
panas.
Penggunaan insektisida seperti
DDT (Dichloro Diphenil
Trichonethan) oleh para
petani, untuk memberantas
hama tanaman dan serangga
penyebar penyakit lain secara
berlabihan dapat
mengakibatkan pencemaran
air. Terjadinya pembusukan
yang berlebihan diperairan
dapat pula menyebabkan
pencemeran. Pembuangan
sampah dapat mengakibatkan
kadar O2 terlarut dalam air
semakin berkurang karena
sebagian besar dipergunakan
oleh bakteri pembusuk.
Pembuangan sampah organic
maupun yang anorganic yang
dibuang kesungai terus-
menerus, selain mencemari
air, terutama dimusim hujan
ini akan menimbulkan banjir.
Belakangan ini musibah
karena polusi air datang
seakan tidak terbendung lagi
disetip musim hujan.
Sebenarnya air hujan adalah
rahmat. Akan tetapi rahmat
dapat menjadi ujian apabila
kita tidak
mengelolanyadengan benar.
Jika kita amati, air adalah
unsur alam yang penting bagi
manusia dengan sifat mengalir
dan meresapnya. Apabila
jalur-jalur alirannya terganggu
dan lahan resapannya
terbatas, air akan mengalir
kesegala penjuru mengisi
ruang-ruang yang paling
rendah. Akhirnya terjadilah
banjir. Karena itu yang disebut
polusi air karena banyak kita
yang kurang disiplin, misalnya
dalam kebersihan lingkungan
dan membuang sampah
sembarangan.
Musibah banjir dapat terbagi
dua akibat polusi air antara
lain :
1. Banjir bandang (banjir
besar), terjadi akibat air
meluap dari jalur-jalur aliran
(sungai) dengan volume air
yang besar.
2. Banjir genangan yaitu banjir
local (setempat) akibat
tergenangnya /
terkonsentrasinya air hujan
disuatu daerah yang saluran
air (arainase) dan lahan
resapannya terbatas.
Akibatnya dalam waktu
tertentu (temporer) air akan
mengalir disekitar lingkungan
rumah kita.
2.3 Bahaya Dari Akibat Polusi
Air
Bibit-bibit penyakit berbagai
zat yang bersifat racun dan
bahan radioaktif dapat
merugikan manusia. Berbagai
polutan memerlukan O2 untuk
pengurainya. Jika O2 kurang ,
pengurainya tidak sempurna
dan menyebabkan air berubah
warnanya dan berbau busuk.
Bahan atau logam yang
berbahaya seperti arsenat,
uradium, krom, timah, air
raksa, benzon, tetraklorida,
karbon dan lain-lain. Bahan-
bahan tesebut dapat merusak
organ tubuh manusia atau
dapat menyebabkan kanker.
Sejumlah besar limbah dari
sungai akan masuk kelaut.
Polutan ini dapat merusak
kehidupan air sekitar muara
sungai dan sebagian kecil laut
muara. Bahan-bahan yang
berbahaya masuk kelaut atau
samudera mempunyai akibat
jangka panjang yang belum
diketahui. Banyak jenis
kerang-kerangan yang
mungkin mengandung zat
yang berbahaya untuk
dimakan. Laut dapat pula
tecemar oleh minyak yang
asalnya mungkin dari
pemukiman, pabrik, melalui
sungai atau dari kapal tanker
yang rusak. Minyak dapat
mematikan, burung dan
hewan laut lainnya, sebagai
contoh, efek keracunan
hingga dapat dilihat di Jepang.
Merkuri yang dibuang sebuah
industri plastik keteluk
minamata terakumulasi di
jaringan tubuh ikan dan
masyarakat yang
mengkonsumsinya menderita
cacat dan meninggal.
Akibat yang ditimbulkan oleh
polusi air:
a. Terganggunya kehidupan
organisme air karena
berkurangnya, kandungan
oksigen
b. Terjadinya ledakan
ganggang dan tumbuhan air
(eurotrofikasi)
c. Pendangkalan dasar
perairan
d. Tersumbatnya penyaring
reservoir, dan menyebabkan
perubahan ekologi
e. Dalam jangka panjang
adalah kanker dan kelahiran
cacat
f. Akibat penggunaan pertisida
yang berlebihan sesuai selain
membunuh hama dan
penyakit, juga membunuh
serangga dan makhluk
berguna terutama predator
g. Kematian biota kuno,
seperti plankton, iakn, bahkan
burung
h. Mutasi sel, kanker, dan
leukeumia
2.4 Usaha-usaha Mengatasi
dan Mencegah Polusi Air
Pengenceran dan penguraian
polutan air tanah sulit sekali
karena airnya tidak mengalir
dan tidak mengandung bakteri
pengurai yang aerob jadi, air
tanah yang tercemar akan
tetap tercemar dalam yang
waktu yang sangat lama,
walau tidak ada bahan
pencemaran yang masuk.
Karena ini banyak usaha
untuk menajaga agar tanah
tetap bersih misalnya:
1. Menempatkan daerah
industri atau pabrik jauh dari
daerah perumahan atau
pemukiman
2. Pembuangan limbah industri
diatur sehingga tidak
mencermari lingkungan atau
ekosistem
3. Pengawasan terhadap
penggunaan jenis – jenis
pestisida dan zat – zat kimia
lain yang dapat menimbulkan
pencemaran
4. Memperluas gerakan
penghijauan
5. Tindakan tegas terhadap
perilaku pencemaran
lingkungan
6. Memberikan kesadaran
terhadap masyaratkat tentang
arti lingkungan hidup sehingga
manusia lebih lebih mencintai
lingkungan hidupnya
7. Melakukan intensifikasi
pertanian
Adapun cara lain untuk
mengatasi polusi air atau yang
dikenai dengan sebutan banjir
pun ada dua macam
1. Banjir Bandang dapat
diatasi secara meluas dengan
didukung berbagai disiplin
ilmu
2. banjir genangan dapat
diatasi dengan membersihkan
air dari penyumbatan yang
mengakibatkan air meluap
banyak orang mengatakan ”
lebih baik mecegah dari pada
mengatasi”, hal ini berlaku
pula pada banjir genangan di
bawah ini ada sejumlah
langkah yang dapat kita
lakukan untuk mencegah
banjir genangan :
1. dalam merencanakan jalan
– jalan lingkungan baik itu
program pemerintah maupun
swadaya masyarakat
sebaiknya memilih material
jalan yang menyerap air
misalnya, penggunaan bahan
dari paving blok (blok – blok
adukan beton yang disusun
dengan rongga – rongga
resapan air disela – selanya.
Hal yang tidak kalah
pentingnya adalah penataan
saluran / drainase lingkjungan
pembuatannyapun harus
bersamaan dengan
pembuatan jalan tersebut
2. Apabila di halaman
pekarangan rumah kita masih
terdapat ruang – ruang
terbuka, buatlah sumur –
sumur resapan air hujan
sebanyak –banyaknya. Fungsi
sumur resapan air ini untuk
mempercepat air meresap
kedalam tanah.
Dengan membuat sumur
resapan air hujan tersebut,
sebenarnya kita dapat
memperoleh manfaat seperti
berikut:
a. Persediaan air bersih dalam
tanah disekitar rumah kita
cukup baik dan banyak
b. Tanah bekas galian sumur
dapat dipergunakan untuk
menimbun lahan – lahan yang
rendah atau meninggikan
lantai rumah
c. Apabila air hujan tidak
tertampung dalam sebuah
selokan – selokan rumah /
talang – talang rumah, air
dapat dialirkan kesumur –
sumur resapan. Janganlah
membuang sampah atau
mengeluarkan air limbah
rumah tangga (air bekas
mandi, cucian dan sebagainya)
kedalam sumur resapan air
hujan karena bisa
mencemarkan kandungan air
tanah. Khusus untuk buangan
air limbah rumah tangga,
buatlah sumur resapan
tersendiri
d. Apabila air banjir masuk
kerumah mencapai ketinggian
20-50 cm satu – satunya jalan
adalah meninggikan lantai
rumah kita diatas ambang
permukaan air banjir
e. Cara lain adalah membuat
tanggul di depan pintu masuk
rumah kita. Cara ini sudah
umum dilakukan orang hanya
teknisnya sering kurang
terencana secara mendetail
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dari
Bab II dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Polusi adalah peristiwa
masuknya zat, energi unsure
atau komponen lain ke dalam
lingkungan akibat aktifitas
manusia atau proses alami
Segala sesuatu yang
menyebabkan polusi disebut
polutan
Polusi air adalah peristiwa
masuknya zat, energi, unsure,
atau komponen lainya ke
dalam air sehingga kualitas
air terganggu
Sumber polusi air antara lain
limbah industri, pertanian, dan
rumah tangga
Polusi air juga dapat
menimbulkan bencana
diantaranya banjir
Elektrofikasi adalah
penimbunan mineral yang
menyebabkan peledakan alga
secara serentak menutupi
pencemaran air
Bahan atau logam
berbahaya seperti arsenat,
benzon, timah dan lain – lain
dapat merusak organ tubuh
manusia dan menyebabkan
kanker
Akibat yang ditimbulkan
polusi air dalam zangua
pasang adalah kanker dan
kelahiran bayi cacat
Melakukan intensifikasi
pertanian
Banjir genangan dapat
diatasi dengan membersihkan
saluran air dari penyumbatan
3.2 Saran
Saran yang penulis akan
sampaikan :
Hindari pemakaian obat
pemberantas hama dan
serangga secara berlebihan.
Sebaiknya kita berhati-hati
dalam menggunakan air,
karena air itu ada yang
terpolusi dan tidak terpolusi.
Jagalah agar air di
lingkungan rumah dan
sekitarnya agar tetap bersih
dan terhindar dari
pencemaran air.
Jangan membuang sampah
kesungai, dan jika terjadi
penimbunan sampah di sungai
akan mengakibatkan banjir
DAFTAR PUSTAKA
Djambur. W. Sukarno. 1993.
Biologi I untuk Sekolah
Menengah Umum. Jakarta :
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, pusat
perbukuan.
Ahya M Salman, 1993, Biologi I
untuk Sekolah Menengah
Umum, Depdikbud, Jakarta
Santiyono, 1994. Biologi I
untuk Sekolah Menengah
Umum, penerbit Erlangga
Kamis, 04 Juni 2009
MAKALAH BIOLOGI TENTANGPENGERTIAN POLUSI DANPOLUTAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dimulai dengan tumbuhnya
berbagai penyakit – penyakit
baru di dunia terutama
mengenai lingkungan. Maka
dari itu karya tulis ini akan
dilengkapi dengan faktor –
faktor yang timbul dan upaya
– upaya yang dapat dilakukan
mengenai masalah polusi
udara. Oleh karena itu, kami
telah susun karya tulis ini
dengan rinci
1.2 Permasalahan
Adapun permasalahan –
permasalahan yang akan di
bahas dalam karya tulis ini
sebagai berikut:
- Apa saja faktor yang
menyebabkan polusi ini
terjadi ?
- Dampak apa timbul jika
polusi udara terjadi, baik
untuk kehidupan manusia
maupun makhluk lain ?
- Upaya apa saja yang harus
dilakukan untuk mencegah
tumbulnya polusi udara dan
bagaimana cara
mengatasinya ?
1.3 Tujuan
Di dunia ini banyak sekali hal
– hal yang melatarbelakangi
tentang terjadinya polusi
udara. Banyak negara –
negara maju mengadakan
penelitian untuk mengetahui
apa penyebab dari polusi ini
dan didapat bahwa semua ini
sebagian besar karena ulah
manusia. Jadi, dapat diketahui
bahwa tujuan dari karya tulis
ini adalah selain untuk
dijadikan pedoman juga untuk
melihat kenapa polusi ini
terjadi
1.4 Metode
Karya tulis ini diambil dari
berbagai macam buku
pedoman dari masing –
masing anggota, selain itu,
kami telah melakukan suatu
wawancara dengan
narasumber yang mengerti
dibidang lingkungan serta
mencari dari berbagai media,
baik dari media elektronik
maupun media cetak. Oleh
karena itu, setiap angggota
diharuskan memberi laporan
kepada penanggung jawab
karya tulis ini selengkap
mungkin
1.5 Sistematika
Ada beberapa cara /
sistematika untuk dapat
menyusun karya tulis ini yaitu
diantaranya:
- Menentukan tema yang akan
di bahas
- Merumuskan masalah yang
akan diterangkan dan
menyusunnya dengan jelas
- Menggunakan kata – kat
yang mudah di mengerti oleh
pembaca
1.6 Kegunaan
Banyak sekali masalah yang
dihadapi makhluk hidup
terutama manusia. Mereka
kebanyakan tidak memikirkan
apa yang akan terjadi nanti
hanya ingin menikmati
sekarang. Sebab itu, karya
tulis ini disusun untuk
mengingatkan dan
menyadarkan manusia,
karena perbuatanya itu akan
mendatangkan bencana bagi
kehidupan kita nanti
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Polusi
a. Apakah Polusi Itu ?
1. Polusi berarti pencemaran
2. Polusi merupakan
masuknya makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen lain
kedalam lingkungan yang
menyebabkan berubahnya
tatanan lingkungan oleh
kegiatan manusia atau proses
alam
3. Polusi berarti masuknya
bahan pencemar (Polutan)
sebagai akibat dari kegiatan
manusia atau proses alam
yang ditemukan di tempat,
saat, dan jumlah yang tidak
selayaknya
b. Dimana Polusi Itu berada ?
1. Polusi dapat kita jumpai
misalnya di tanah, air, udara
bahkan suara
2. Dalam ruangan atau tempat
pembuangan sampah banyak
sekali kotoran / kuman yang
dapat menyebabkan polusi
c. Apa Macam – Macam Polusi
Itu ?
1. Polusi sangat beragam
sekali sesuai dengan letak /
tempat polusi itu terjadi
2. Polusi dimana sesuai
tempatnya masing – masing
misalnya; polusi udara, polusi
air, polusi tanah dan polusi
suara
d. Apa Yang Dimaksud Dengan
Polusi Udara ?
1. Polusi udara adalah
penyusunan kualitas udara
sampai pada yang
mengganggu kehidupan
karena masuknya polutan
kedalam udara
2. Polusi udara terjadi jika ada
penambahan komponen udara
atau bahan kimia yang
kehadirannya membahayakan
organisme
2.2 Macam – Macam Polutan
a. Apakah Polutan Itu ?
1. Polutan berarti pencemar
2. Polutan adalah suatu zat /
substan yang menyebabkan
terjadinya polusi
b. Mengapa Polutan Itu Ada ?
1. Polutan terjadinya jika
suatu lingkungan tercemar
atau kotor karena adanya
suatu zat yang dapat
mengurangi kualitas tempat
tersebut
2. Terjadinya suatu
perpindahan antara gaya tarik
degan zat tersebut
c. Apa Saja Polutan Udara Itu
Dan Darimana Polutan Itu
Berasal ?
1. Senyawa belerang berasal
dari pembakaran batu bara
2. Partikulat berasal dari
pembakaran serat asbes, bijih
besi, dan asbes yang hancur
bisannya berbentuk asap
3. Karbondioksida beasal dari
pembakaran bahan bakar dan
hutan serta asap kendaraan
bermotor
4. Klorofuosokarbon (CFC)
berasal dari kebocoran gas
lemari pendingin, bahan
pelarut dan bahan
pengembang pada plastik
busa
5. Nitrogen oksida berasal
dari proses pembakaran dan
pembentukan asap kabut fito
kimia
6. Hydrogen karbon berasal
dari mesin mobil dan penyedot
udara
7. Pengoksida berasal dari
nitrogen oksida dan
hidrokarbon dari mobil.
Contok pengoksida adalah
pereaksi asetit nitrat
d. Mana yang membahayakan
antara CO dan CO2 dan
kenapa ?
- Yang paling membahayakan
adalah CO atau karbon
monoksida karena CO
merupakan hasil dari
pembakaran tidak sempurna
yang jika terisap akan lebih
reaktif diikat oleh hemoglobin
sehingga seseorang
kekurangan oksigen
2.3 Dampak Yang Timbul
a. Apa dampak atau akibat
jika polusi terus menerus
bertambah ?
1. Pada aktivitas manusia,
manusia selalu memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan
berbagai cara yang dapat
mengubah kondisi lingkungan
dan berdampak negatif yaitu
berupa terganggunya
keseimbangan lingkungan
2. Makluk hidup memerlukan
lingkungan biotic dan abiotik
yang spesifik. Jika lingkungan
disekitarnya tercemar, akan
menimbulkan gangguan
b. Sebutkan polutan dan
akibat yang ditimbulkannya
dari polusi udara!
1. Senyawa belerang
mengakibatkan perkaratan
logam., pelapukan batuan,
penyakit bronchitis, dan lain –
lain
2. Partikulat mengakibatkan
asbestosis, penyakit paru –
paru dan kanker
3. Karbon Dioksida
mengakibatkan perubahan
iklim dan menimbulkan “ Efek
rumah kaca” yang ditandai
dengan naiknya suhu udara
4. Klorofluorokarbon (CFC)
mengakibatkan terjadinya
penipisan lapisan ozon yang
juga dapat menyebabkan
naiknya suhu udara bumi
5. Nitrogen Oksida
mengakibatkan hujan asam
karena dapat melarutkan
asam pada benda – benda dan
dapat merontokan daun –
daun pohon
6. Hidrokarbon
mengakibatkan pembentukan
asap kabut fitokimia
7. Pengoksidasi
mengakibatkan rusaknya hasil
pertanian dan kesehatan
manusia
c. Apa yang dimaksud dengan
efek rumah kaca ?
- Efek rumah kaca yaitu
tertahannya cahaya matahari
dari bumi ke atmosfir oleh
polutan CO2 sehingga
menaikan suhu bumi
2.4 Upaya Yang Dilakukan
a. Bagaimana cara mengatasi
karbon monoksida (CO) ?
1. Banyak sekali cara untuk
mengatasi CO yaitu:
- Setiap pabrik harus memiliki
cerobong asap yang tinggi
- Jalan – jalan harus diperlebar
untuk menghindari dari
kemacetan
- Sampah – sampah daur ulang
dengan cara fotosintesis
- Selalu merawat mesin –
mesin kendaraan
2. Dihutan banyak sekali
tumbuhan hijau yang sangat
penting peranannya bagi
kehidupan namun manusia
sering menebangnya dengan
liar. Oleh karena itu, kita
hendaknya memperbanyak
penanaman tumbuhan
pelindung
b. Apa peranan manusia
dalam lingkungan ?
1. Manusia merupakan bagian
dari lingkungan maksudnya
manusialah yang menentukan
kulaitas dari pada lingkungan.
Untuk itu, diperlukan manusia
– manusia yang sadar
lingkungan
2. Manusia diciptakan Tuhan
untuk menghuni bumi. Akan
tetapi, manusia bukanlah
segalanya dari lingkungan.
Oleh karena itu, menghargai
lingkungan berarti
menghargai diri sendiri
3. Manusia sebagai anggota
dari lingkungan yang harus
melaksanakan kewajiban
dalam menjaga kelestarian,
kestabilan dan keindahan
alam. Karena hal ini berarti
menjaga kelangsungan hidup
manusia
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sebegitu banyak permsalahan
yang dihadapi makhluk hidup.
Tapi hanya ada satu
permasalahan yang sangat
berbahaya bagi kehidupan
yakni polusi. Polusi
merupakan penyebaran zat –
zat yang berbahaya dan
mengotori udara, air atau
tanah
Salah satu contoh yang
mengotori udara adalah
karbon dioksida (CO2),
Karmon monoksida (CO) dan
Klorofluorokarbon (CFC) yang
sangat berbahaya dari polutan
– polutan lainnya. Dari ketiga
polutan tersebut ada satu
yang paling parah dampaknya
yakni karbon monoksida
Polutan ini merupakan hasil
pembakaran yang tidak
sempurna yang jika diserap
akan lebih reaktif diikat oleh
hemoglobin sehingga
seseorang akan kekurangan
oksigen dan menyebabkan
kematian. Oleh karena itu,
kita harus peduli pada
lingkungan dengan cara
mengikuti peraturan –
peraturan lingkungan dan
etika lingkungan
3.2 Saran
Pencemaran udara di kota –
kota besar semakin marak
apalagi dijalanan asap – asap
kendaraan kian berterbangan.
Bukan dijalanan saja tetapi
dekat pabrik – pabrik yang
mengakibatkan polusi udara
semakin menyabar. Adapun
solusi yang harus kita lakukan
demi mengurangi polusi ini
adalah sebagai berikut:
a. Memilih lokasi industri di
tempat yang jauh dari
permukaan pada lahan yang
tidak produktif
b. Melengkapi cerobong asap
pabrik dengan alat penyaring
udara serta mempertinggi
cerobong tersebut
c. Menanami hutan – hutan
gundul dengan tumbuhan –
tumbuhan pelindung
d. Merawat mesin – mesin
kendaraan
e. Merawat benda – benda
yang mudah berkarat seperti
besi, baja dan lain – lain
DAFTAR PUSTAKA
1. Moh. Salman Akhyar. 2003.
Biologi, Bandung: Grafindo
media Pratama
2. Ir. Sri umiyani. 1982. Intisari,
Biologi, Klaten: Intan
3. K.B Boejin. 1961. Botani.
Jakarta: Pranja Pratama
4. O. Sumarwoto. 1995.
Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Obor : Lembaga
Ekologi UNPAD
5. A. Mahardono. 1997
Monokultur. Bandung: PT.
Intermasa
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dimulai dengan tumbuhnya
berbagai penyakit – penyakit
baru di dunia terutama
mengenai lingkungan. Maka
dari itu karya tulis ini akan
dilengkapi dengan faktor –
faktor yang timbul dan upaya
– upaya yang dapat dilakukan
mengenai masalah polusi
udara. Oleh karena itu, kami
telah susun karya tulis ini
dengan rinci
1.2 Permasalahan
Adapun permasalahan –
permasalahan yang akan di
bahas dalam karya tulis ini
sebagai berikut:
- Apa saja faktor yang
menyebabkan polusi ini
terjadi ?
- Dampak apa timbul jika
polusi udara terjadi, baik
untuk kehidupan manusia
maupun makhluk lain ?
- Upaya apa saja yang harus
dilakukan untuk mencegah
tumbulnya polusi udara dan
bagaimana cara
mengatasinya ?
1.3 Tujuan
Di dunia ini banyak sekali hal
– hal yang melatarbelakangi
tentang terjadinya polusi
udara. Banyak negara –
negara maju mengadakan
penelitian untuk mengetahui
apa penyebab dari polusi ini
dan didapat bahwa semua ini
sebagian besar karena ulah
manusia. Jadi, dapat diketahui
bahwa tujuan dari karya tulis
ini adalah selain untuk
dijadikan pedoman juga untuk
melihat kenapa polusi ini
terjadi
1.4 Metode
Karya tulis ini diambil dari
berbagai macam buku
pedoman dari masing –
masing anggota, selain itu,
kami telah melakukan suatu
wawancara dengan
narasumber yang mengerti
dibidang lingkungan serta
mencari dari berbagai media,
baik dari media elektronik
maupun media cetak. Oleh
karena itu, setiap angggota
diharuskan memberi laporan
kepada penanggung jawab
karya tulis ini selengkap
mungkin
1.5 Sistematika
Ada beberapa cara /
sistematika untuk dapat
menyusun karya tulis ini yaitu
diantaranya:
- Menentukan tema yang akan
di bahas
- Merumuskan masalah yang
akan diterangkan dan
menyusunnya dengan jelas
- Menggunakan kata – kat
yang mudah di mengerti oleh
pembaca
1.6 Kegunaan
Banyak sekali masalah yang
dihadapi makhluk hidup
terutama manusia. Mereka
kebanyakan tidak memikirkan
apa yang akan terjadi nanti
hanya ingin menikmati
sekarang. Sebab itu, karya
tulis ini disusun untuk
mengingatkan dan
menyadarkan manusia,
karena perbuatanya itu akan
mendatangkan bencana bagi
kehidupan kita nanti
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Polusi
a. Apakah Polusi Itu ?
1. Polusi berarti pencemaran
2. Polusi merupakan
masuknya makhluk hidup, zat,
energi, atau komponen lain
kedalam lingkungan yang
menyebabkan berubahnya
tatanan lingkungan oleh
kegiatan manusia atau proses
alam
3. Polusi berarti masuknya
bahan pencemar (Polutan)
sebagai akibat dari kegiatan
manusia atau proses alam
yang ditemukan di tempat,
saat, dan jumlah yang tidak
selayaknya
b. Dimana Polusi Itu berada ?
1. Polusi dapat kita jumpai
misalnya di tanah, air, udara
bahkan suara
2. Dalam ruangan atau tempat
pembuangan sampah banyak
sekali kotoran / kuman yang
dapat menyebabkan polusi
c. Apa Macam – Macam Polusi
Itu ?
1. Polusi sangat beragam
sekali sesuai dengan letak /
tempat polusi itu terjadi
2. Polusi dimana sesuai
tempatnya masing – masing
misalnya; polusi udara, polusi
air, polusi tanah dan polusi
suara
d. Apa Yang Dimaksud Dengan
Polusi Udara ?
1. Polusi udara adalah
penyusunan kualitas udara
sampai pada yang
mengganggu kehidupan
karena masuknya polutan
kedalam udara
2. Polusi udara terjadi jika ada
penambahan komponen udara
atau bahan kimia yang
kehadirannya membahayakan
organisme
2.2 Macam – Macam Polutan
a. Apakah Polutan Itu ?
1. Polutan berarti pencemar
2. Polutan adalah suatu zat /
substan yang menyebabkan
terjadinya polusi
b. Mengapa Polutan Itu Ada ?
1. Polutan terjadinya jika
suatu lingkungan tercemar
atau kotor karena adanya
suatu zat yang dapat
mengurangi kualitas tempat
tersebut
2. Terjadinya suatu
perpindahan antara gaya tarik
degan zat tersebut
c. Apa Saja Polutan Udara Itu
Dan Darimana Polutan Itu
Berasal ?
1. Senyawa belerang berasal
dari pembakaran batu bara
2. Partikulat berasal dari
pembakaran serat asbes, bijih
besi, dan asbes yang hancur
bisannya berbentuk asap
3. Karbondioksida beasal dari
pembakaran bahan bakar dan
hutan serta asap kendaraan
bermotor
4. Klorofuosokarbon (CFC)
berasal dari kebocoran gas
lemari pendingin, bahan
pelarut dan bahan
pengembang pada plastik
busa
5. Nitrogen oksida berasal
dari proses pembakaran dan
pembentukan asap kabut fito
kimia
6. Hydrogen karbon berasal
dari mesin mobil dan penyedot
udara
7. Pengoksida berasal dari
nitrogen oksida dan
hidrokarbon dari mobil.
Contok pengoksida adalah
pereaksi asetit nitrat
d. Mana yang membahayakan
antara CO dan CO2 dan
kenapa ?
- Yang paling membahayakan
adalah CO atau karbon
monoksida karena CO
merupakan hasil dari
pembakaran tidak sempurna
yang jika terisap akan lebih
reaktif diikat oleh hemoglobin
sehingga seseorang
kekurangan oksigen
2.3 Dampak Yang Timbul
a. Apa dampak atau akibat
jika polusi terus menerus
bertambah ?
1. Pada aktivitas manusia,
manusia selalu memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan
berbagai cara yang dapat
mengubah kondisi lingkungan
dan berdampak negatif yaitu
berupa terganggunya
keseimbangan lingkungan
2. Makluk hidup memerlukan
lingkungan biotic dan abiotik
yang spesifik. Jika lingkungan
disekitarnya tercemar, akan
menimbulkan gangguan
b. Sebutkan polutan dan
akibat yang ditimbulkannya
dari polusi udara!
1. Senyawa belerang
mengakibatkan perkaratan
logam., pelapukan batuan,
penyakit bronchitis, dan lain –
lain
2. Partikulat mengakibatkan
asbestosis, penyakit paru –
paru dan kanker
3. Karbon Dioksida
mengakibatkan perubahan
iklim dan menimbulkan “ Efek
rumah kaca” yang ditandai
dengan naiknya suhu udara
4. Klorofluorokarbon (CFC)
mengakibatkan terjadinya
penipisan lapisan ozon yang
juga dapat menyebabkan
naiknya suhu udara bumi
5. Nitrogen Oksida
mengakibatkan hujan asam
karena dapat melarutkan
asam pada benda – benda dan
dapat merontokan daun –
daun pohon
6. Hidrokarbon
mengakibatkan pembentukan
asap kabut fitokimia
7. Pengoksidasi
mengakibatkan rusaknya hasil
pertanian dan kesehatan
manusia
c. Apa yang dimaksud dengan
efek rumah kaca ?
- Efek rumah kaca yaitu
tertahannya cahaya matahari
dari bumi ke atmosfir oleh
polutan CO2 sehingga
menaikan suhu bumi
2.4 Upaya Yang Dilakukan
a. Bagaimana cara mengatasi
karbon monoksida (CO) ?
1. Banyak sekali cara untuk
mengatasi CO yaitu:
- Setiap pabrik harus memiliki
cerobong asap yang tinggi
- Jalan – jalan harus diperlebar
untuk menghindari dari
kemacetan
- Sampah – sampah daur ulang
dengan cara fotosintesis
- Selalu merawat mesin –
mesin kendaraan
2. Dihutan banyak sekali
tumbuhan hijau yang sangat
penting peranannya bagi
kehidupan namun manusia
sering menebangnya dengan
liar. Oleh karena itu, kita
hendaknya memperbanyak
penanaman tumbuhan
pelindung
b. Apa peranan manusia
dalam lingkungan ?
1. Manusia merupakan bagian
dari lingkungan maksudnya
manusialah yang menentukan
kulaitas dari pada lingkungan.
Untuk itu, diperlukan manusia
– manusia yang sadar
lingkungan
2. Manusia diciptakan Tuhan
untuk menghuni bumi. Akan
tetapi, manusia bukanlah
segalanya dari lingkungan.
Oleh karena itu, menghargai
lingkungan berarti
menghargai diri sendiri
3. Manusia sebagai anggota
dari lingkungan yang harus
melaksanakan kewajiban
dalam menjaga kelestarian,
kestabilan dan keindahan
alam. Karena hal ini berarti
menjaga kelangsungan hidup
manusia
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sebegitu banyak permsalahan
yang dihadapi makhluk hidup.
Tapi hanya ada satu
permasalahan yang sangat
berbahaya bagi kehidupan
yakni polusi. Polusi
merupakan penyebaran zat –
zat yang berbahaya dan
mengotori udara, air atau
tanah
Salah satu contoh yang
mengotori udara adalah
karbon dioksida (CO2),
Karmon monoksida (CO) dan
Klorofluorokarbon (CFC) yang
sangat berbahaya dari polutan
– polutan lainnya. Dari ketiga
polutan tersebut ada satu
yang paling parah dampaknya
yakni karbon monoksida
Polutan ini merupakan hasil
pembakaran yang tidak
sempurna yang jika diserap
akan lebih reaktif diikat oleh
hemoglobin sehingga
seseorang akan kekurangan
oksigen dan menyebabkan
kematian. Oleh karena itu,
kita harus peduli pada
lingkungan dengan cara
mengikuti peraturan –
peraturan lingkungan dan
etika lingkungan
3.2 Saran
Pencemaran udara di kota –
kota besar semakin marak
apalagi dijalanan asap – asap
kendaraan kian berterbangan.
Bukan dijalanan saja tetapi
dekat pabrik – pabrik yang
mengakibatkan polusi udara
semakin menyabar. Adapun
solusi yang harus kita lakukan
demi mengurangi polusi ini
adalah sebagai berikut:
a. Memilih lokasi industri di
tempat yang jauh dari
permukaan pada lahan yang
tidak produktif
b. Melengkapi cerobong asap
pabrik dengan alat penyaring
udara serta mempertinggi
cerobong tersebut
c. Menanami hutan – hutan
gundul dengan tumbuhan –
tumbuhan pelindung
d. Merawat mesin – mesin
kendaraan
e. Merawat benda – benda
yang mudah berkarat seperti
besi, baja dan lain – lain
DAFTAR PUSTAKA
1. Moh. Salman Akhyar. 2003.
Biologi, Bandung: Grafindo
media Pratama
2. Ir. Sri umiyani. 1982. Intisari,
Biologi, Klaten: Intan
3. K.B Boejin. 1961. Botani.
Jakarta: Pranja Pratama
4. O. Sumarwoto. 1995.
Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Obor : Lembaga
Ekologi UNPAD
5. A. Mahardono. 1997
Monokultur. Bandung: PT.
Intermasa
Rabu, 03 Juni 2009
MAKALAH BIOLOGI TENTANGSENI BONSAI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan
Dalam penyusunan karya
ilmiah ini, tentunya memiliki
tujuan yang ingin dicapai.
Adapun tujuannya adalah agar
dapat:
1. Mengetahui bagian – bagian
tanaman yang dapat dibentuk
menjadi bonsai
2. Mengetahui tanaman bibit
bonsai
3. Mengetahui tanaman bakal
bonsai dan bagaimana cara
menanamnya
4. Mengetahui bagaimana
cara membuat tanaman
bonsai
5. Untuk memenuhi tugas
mandiri mata pelajaran
bahasa Indonesia
B. Latar Belakang
Menurut Rismunandar, (1993L
tanpa halaman) menyatakan,
“tanaman kerdil yang
dipelihara di dalam pot yang
beraneka ragam bentuk dan
warnanya itu di Jepang diberi
nama bonsai.”
Dai kutipan di atas
menunjukan tentang
pengertian bonsai, jadi bonsai
adalah tanaman kerdil yang
bentuknya menyerupai
tanaman di alam bebas yang
di tanam di pot yang beraneka
ragam bentuknya dan
warnanya atau sering juga
disebut tanaman hias, itu
karena bentuknya yang indah
dan menarik dan biasa
dipajang di halaman rumah
sebagai Hiasan untuk
menambah keindahan rumah,
sehingga orang yang melihat
akan merasa tertarik.
Pertama kalinya tanaman
bonsai ini dikembangkan di
Tiongkok pada abad ke XI,
kemudian pada abad ke XV
seni tanaman bonsai masuk ke
Jepang, hingga seni tanaman
kerdil ini disebut bonsai.
Dengan keindahan dan
keunikan dari tanaman bonsai
ini akhirnya tanaman bonsai
ini sampai merambah ke
Amerika Serikat bahkan ke
dunia Barat termasuk ke
Indonesia bonsai ini banyak
digemari dan diminati untuk
bisa memiliki tanaman itu.
Dengan demikian untuk bisa
memenuhi hasrat itu, maka
bonsai dalam penyusunan
karya ilmiah ini. Hal ini
sengaja penulis sajikan agar
menambah kreatifitas bagi
yang berminat tanaman hias.
C. Metode
Dalam penyusunan karya
ilmiah ini penulis
menggunakan metode
deskripsi dan pendekatan
yang digunakan yaitu dengan
pendekatan normative,
dimana penulis menjelaskan
dan memaparkan bagaimana
cara membentuk tanaman
menjadi tanaman bonsai
dengan menggunakan
literature yang ada
D. Sistematika Penulisan
Di samping karya ilmiah ini
harus bersifat ilmiah, juga
harus tersusun secara
sistematis. Adapun sistematika
penulisannya adalah sebagai
berikut:
Dalam sistematika penulisan
karya ilmiah ini diawali
dengan isi yang terdiri dari
daftar isi, dilanjutkan dengan
isi yang terdiri dari beberapa
Bab yaitu Bab I, Bab II, dan
Bab III, yakni rinciannya
sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Isi dari Pendahuluan ini terdiri
dari beberapa sub Bab yaitu;
tujuan, latar belakang,
metode; sistematika
penulisan, dan terakhir
Kegunaan
Bab II Pembahasan
Pembahasan ini menguraikan
materi tentang tanaman
bonsai secara teoritis dimana
dalam hal ini terdiri dari
beberapa sub yaitu: bagian
tanaman, sifat dan fungsinya,
bibit bonsai, bakal bonsai dan
cara menanamnya; dan tahap-
tahap pembentukan bonsai.
Bab III Penutup
Dalam Bab III ini diisi dengan
penutup yang terdiri dari
kesimpulan dan saran, dimana
penulis setelah menguraikan
materi tentang bonsai
selanjutnya menyimpulkan
dan memberikan saran
sehingga karya ilmiah ini bisa
bermanfaat.
E. Kegunaan
Manfaat dan kegunaan
penyusunan karya ilmiah ini
diharapkan bisa:
1. Menumbuhkan minat
seseorang untuk bisa memiliki
bonsai
2. Memberikan motivasi untuk
bisa berkreasi dan kreatif
3. Memberikan pengetahuan
dan pengalaman bagaimana
membentuk tanaman bonsai
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagian Tanaman, Sifat Dan
Fungsinya
Bagi seorang yang baru ingin
mengembangkan daya
kreasinya membentuk bonsai,
terlebih dahulu memerlukan
bekal pengetahuan ala
kadarnya tentang tumbuh-
tumbuhan.
Membuat bonsai pada
hakikatnya mempengaruhi
bagian-bagian tanaman
sedemikian rupa sehingga bisa
tampil pertumbuhan yang
dikehendaki pemiliknya.
Perlu diingat, bahwa tumbuh-
tumbuhan sebagai makhluk
yang hidup, walaupun bersifat
pasif, tetap akan memberikan
reaksi terhadap gangguan
pada tubuhnya.
1. Organ-Organ Tanaman dan
Sifatnya
Hingga saat ini tanaman yang
dikerdilkan pada umumnya
termasuk keluarga besar
“Dicotyledon” atau tanaman
yang bijinya berkeping dua,
maka dari itu uraian tentang
bagian-bagian tanaman di
bawah ini khusus ditujukan
terhadap tanaman yang
berkeping dua.
Bagian-bagian tanaman dapat
dibagi dalam dua bagian ialah:
- Bagian vegetatif (organum
nutritivum)
- bagian generatif (organum
reproductivum)
Untuk landasan membuat
bonsai dibatasi pada
penguraian bagian vegetatif
saja, Karena bagian generatif
kurang perannya dalam
membentuk bonsai.
a. Bagian Vegetatif
Bagian vegetatif dapat dibagi
dalam 2 (dua) bagian:
1. Yang berada di atas tanah
(batang pokok, dahan,
ranting, daun) berada di
dalam lingkungan yang penuh
dengan udara dan lembap,
serta sinar matahari dan suhu
udara yang tidak konstan
2. Bagian yang berada di
dalam tanah, perakaran yang
tumbuhnya ke bawah atau ke
dalam tanah dan menghindari
matahari.
Bagian ini terdiri dari:
- Akar tunggang atau akar
pokok yang tumbuhnya lurus
ke bawah
- Akar lateral, tumbuhnya
mendatar, dan keluar dari
dekat leher akar
b. Sifat dan fungsi bagian
vegetatif
1. Batang pokok
Dapat meningkat tingginya,
Karena diperlengkapi dengan
titik tumbuh pucuknya. Dan
dapat memperbesar lingkaran
batangnya Karena
diperlengkapi dengan jaringan
khusus yang disebut kambium.
Letak kambium di atas kayu,
dan di bawah kulit.
2. Dahan
Tumbuh dari kuntum yang
berada di ketiak daun pada
batang pokok yang masih
muda. Tumbuhnya bisa
mendatar atau membentuk
sudut kurang dari 90°. Dengan
adanya dahan-dahan tersebut
dibentuklah mahkota pohon
yang konis, pyramidal, bulat
telur, lonjong dan sebagainya.
3. Ranting
Tumbuh dari kuntum yang
berada di ketiak daun dahan,
dapat tumbuh ke arah yang
beraneka ragam, namun rata-
rata tumbuh ke luar arah
dahan. Pertumbuhan ranting
dapat dihentikan dengan
reaksi membentuk ranting-
ranting baru.
4. Kuntum
Kuntum dapat berada di titik
tumbuh, ketiak daun dan ada
pula yang terpendam (tidak
nampak) yang setiap waktu
dapat tumbuh sebagai ranting
atau dahan baru.
5. Akar
Akar sifatnya menghindari
sinar matahari, sifat ini
disebut “negatif phototropis”.
Pertumbuhan akar tidak kaku,
yang berarti dapat
menyesuaikan diri dengan
ruang lingkup di mana mereka
berada, misalnya akar
tunggang menjadi lateral bila
tumbuhnya terhalang oleh
suatu benda yang tidak bisa
ditembus, akan berubah
arahnya. Sebagai contoh akar
tanaman di dalam pot atau
keranjang akan melingkar-
lingkar bilamana sudah tua
umurnya.
2. Fungsi Bagian Tanaman
Organ-organ tanaman yang
berada di atas tanah, tidak
dapat dipisahkan dari organ-
organ yang berada di dalam
tanah. Dampak pertumbuhan
perakaran, nampak pula pada
pertumbuhan batang pokok
dahan dan sebagainya.
a. Daun merupakan pabrik
untuk menghasilkan zat
karbohidrat, protein dan
lemak. Ketiga zat ini dibentuk
melalui proses fotosintesa.
Sarana dari proses tersebut
adalah:
- Hijau daun yang sehat
- Sinar matahari
- Udara yang mengandung zat
asam arang (CO2)
- Air
b. Fungsi akar
Fungsi akar yang utama
adalah untuk menyerap zat-
zat mineral yang larut di
dalam air atau dari tanah.
Zat-zat mineral ini pada
umumnya diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman.
Air yang diserap bersama zat
mineral, diperlukan untuk
berlangsungnya fotosintesa.
Tanpa air atau kekurangan air
tanaman akan nampak layu,
terutama yang diserang
terlebih dahulu bagian-bagian
yang masih relatif muda.
B. Bibit Bonsai
Bibit untuk bonsai atau bakal
bonsai dapat diperoleh dari:
- Biji yang khusus disemaikan
atau dari semai yang ada di
alam bebas
- Setekan atau cangkokan,
yang pembuatannya
memerlukan sedikit
keterampilan
- Okulasi
- Bongkah-bongkah tanaman
yang masih bertunas dan
masih nampak bertahan untuk
hidup
1. Semai Bakal Bonsai
Untuk mendapatkan bibit
melalui penyemaian sendiri,
akan memakan waktu cukup
lama. Menyemaikan biji
hingga dapat di tanam dalam
pot banyak liku-likunya,
sehingga dapat menghabiskan
semangat untuk memulai
mengayunkan langkah
membentuk bonsai.
Pesemaian bibit bonsai lebih
baik diserahkan saja kepada
perusahaan bibit (bonsai) yang
sekaligus berkecimpung
dalam pembikinan bonsai
untuk di jual.
2. Setek, Cangkok Dan Okulasi
Menyetek, mencangkok dan
membuat okulasi merupakan
seni tersendiri. Menyetek dan
mencangkok dapat
menghasilkan tanaman baru
dalam jangka waktu yang
relatif singkat (1-2 bulan).
Sedangkan membuat okulasi
bisa membutuhkan waktu
lebih dari 1 tahun.
a. Menyetek
Sebelum mempraktekan
teknis menyetek tanaman,
perlu disadari bahwa setiap
jenis tanaman dapat dengan
mudah disetek.
Dikenal 3 jenis setek, yaitu:
- Setek lunak dan setengah
lunak
- Setek keras
- Setek daun
b. Cangkok
Untuk mencangkok, dipilihlah
dahan minimal sebesar pensil
atau ibu jari, dan kulitnya
mudah dikelupas (tidak
lengket).
Teknik mencangkok
- Kupas kulit dahan selebar
3-5 cm
- Buang lendirnya dengan
mengerok atau melap dengan
kain yang kering
- Biarkan 3-4 hari
- Kemudian tutup lukanya
dengan mos yang dibasahi
atau campuran antara tanah
dan remah dengan kompos
yang tua dengan
perbandingan 1:1
- Balut mos atau tanah dengan
lembaran plastik, dan ikat
baik-baik di bagian atas dan
bawah
- Dengan jarum lembaran
plastik dilubangi agar sirkulasi
udara dapat berlangsung.
c. Membikin Okulasi
Bagi yang telah biasa
menanam satu jenis pohon
misalnya buah-buahan dalam
bentuk okulasi untuk dijadikan
bonsai, tidak merupakan suatu
problem yang pelit. Tapi tidak
demikian halnya bagi seorang
pendatang baru, yang ingin
menyibukkan diri dalam seni
bonsai dan harus didahului
dengan membikin ekolusi
sendiri.
Bibit ekolusi terdiri dari 2
(dua) bagian ialah :
- Batang bawah (onderstam)
- Batang atas (entrijs)
Langkah-langkah dalam
perokulasian:
- Batang pokok bersihkan 15
cm di atas tanah
- Sayat kulit 10 cm dari atas
tanah selebar 8 mm, dengan
membikin keratan di bagian
atas dan kanan kiri menurun ±
4 cm panjang
- Tarik kulit ke bawah,
sehingga merupakan lidah,
kemudian potong separuhnya
- Sayat mata dari dahan
entrijs, dengan kayunya
sedikit dari bawah ke atas,
panjang ± 4 cm di atas mata
yang merata, sehingga pas
betul menempel pada keratan
pohon pokok
- Angket kayu perlahan-lahan
tanpa merusak matanya
- Kulit yang bermata,
masukkan antara kayu dan
kulit lidah batang pokok, yang
telah dibuka, dan tempelkan
kembali, usahakan matanya
tidak tertutup
- Balut dengan tali raffia yang
erat
C. Bakal Bonsai Dan Cara
Menanamnya
Prinsip-prinsip menanam
bonsai ini ialah:
- Pot dibikin dari tanah bakar,
porselin atau plastik
- Air di dalam pot yang
berlebih harus dapat mengalir
keluar dengan sendirinya
- Jenis tanahnya adalah tanah
yang tidak mudah padat atau
plastik (liat/lengket)
- Tanah di dalam pot harus
yang cerul, sehingga banyak
mengandung udara bersih
- Daya serap tanahnya
terhadap air baik, sehingga
dapat mempertahankan
kelembapannya.
1. Pot dan isinya
Pot merupakan sarana dalam
kreasi bonsai yang tidak kalah
penting dengan bonsai sendiri.
Dengan bonsai, pot
merupakan rangkaian yang
harus harmonis, yang serasi
dan atraktif dengan kata lain
berukuran seimbang dengan
bentuk bonsainya.
Pot bonsai dapat berbentuk:
bulat, oval, segi lima, segi
panjang dan sebagainya
Ukurannya : besar, sedang,
kecil hingga kecil sekali, tinggi
hingga rendah seperti talam
Warnanya : beraneka ragam
Lubang pembuangan air :
Selain pot berbentuk baki,
semua pot bonsai
diperlengkapi dengan satu
atau lebih lubang
pembuangan air, yang ditutup
dengan gas plastik atau yang
lain
Pada umumnya jenis tanaman
tertentu membutuhkan
campuran tanah yang khas
bagi mereka. Resep umum
medium untuk tanaman yang
berdaun lebar (Beringin,
getahperca, sawo, dan
sebagainya) adalah:
50 % tanah liat sedang
20 % pasir dan
30 % kompos
2. Mengisi Pot
Mengisi pot untuk tanaman
bonsai merupakan duplikasi
dari keadaan yang sebenarnya
di alam bebas. Lapisan paling
atasnya atau topsil, tebalnya
tidak lebih dari 35 cm bersifat
cerul, penuh dengan humus,
dan subur.
Lapisan kedua masih lunak,
masih dapat menyalurkan air
ke bawah menjadi air tanah.
Lapisan ketiga bisa berbentuk
lapisan tanah yang banyak
batu-batuan berukuran
beraneka ragam dan akhirnya
lapisan paling bawah adalah
lapisan induk batu yang kedap
air.
Kesuburan dan tinggi
rendahnya pertumbuhan
tanaman tahunan tergantung
pada tebal tipisnya lapisan
kedua dan ketiga. Bila lapisan
kedua dan ketiga bercadas,
pertumbuhan akar
tunggangnya terhalang. Tanah
yang tidak dalam dan
bercadas dalam musim
kemarau banyak mengalami
kekurangan air. Akibatnya
ialah tanaman tahun yang
tumbuh di atasnya tidak akan
normal, alias pendek.
3. Pengamanan Isi Pot
Batu kerikil, pasir dan tanah
bisa mengandung serangga
tanah yang membahayakan
tanaman bonsai, terutama
cacing dan nematoda. Cacing
tanah atau cacing hujan
walaupun tidak akan merusak
akar namun tetap saja dapat
merisaukan. Selain serangga,
jenis-jenis penyakit yang dapat
mengakibatkan pembusukan
pun bisa berada di dalam
tanah maupun pasir. Biji-biji
rerumputan dan sebaginya
terdapat pula di pasir.
4. Cara Menanami Bonsai
Bakal bonsai dapat diperoleh
melalui beberapa cara ialah:
- Membibitkan sendiri melalui
penyemaian
- Membeli dari penjual bibit di
pinggir jalan atau kebun bibit
- Mencari di luar halaman
atau di alam bebas
5. Pemeliharaan Setelah
Tanam
Setelah penanaman selesai,
siram bakal bonsai dan
tanahnya dengan
mempergunakan spayer yang
halus. Air penyiraman harus
bersih dan tidak berlumpur
dan nentral (tawar). Hentikan
penyiraman jika air sudah
berkelebihan dan mengalir ke
luar melalui lubang air. Bila
air nampak mengenang dan
tidak mau keluar lubang air,
ini merupakan pertanda
bahwa lubang air tersumbat.
Malapetaka kecil ini dapat
diatasi dengan alat
pengungkit.
Untuk menghindari
permukaan tanah di dalam
pot cepat mengering. Dapat
ditutup dengan mos kering
sebagai mulsa atau lumut
hijau bilamana ada. Namun
yang lebih praktis adalah
dibungkus dengan lembaran
plastik. Batu kerikil kecil-kecil
dapat berfungsi juga sebagai
mulsa.
Tempatkan kemudian bakal
bonsai di tempat yang teduh,
tidak banyak angin dan bebas
dari gangguan anak-anak atau
hewan kesayangan.
Untuk mempercepat
tumbuhnya kembali
(recovering) bakal bonsai
dapat diusahakan dengan
menutup seluruh tanaman
dengan kantung plastik
transparan.
D. Tahap-Tahap Pembentukan
Bonsai
Membentuk tanaman kerdil
alias bonsai pada hakikatnya
ialah membuat duplikat dari
bentuk-bentuk pohon-pohonan
di alam bebas. Skala duplikasi
ini bisa kecil, sedang, hingga
cukup besar namun tetap di
bawah ukuran yang normal.
Bentuk bonsai dapat
menggambarkan sejenis
pohon yang bertahan
terhadap keganasan alam,
misalnya angin yang keras,
badai laut di pinggir pantai
yang berlaut-laut. Pohon
nampak porak-poranda namun
tetap survive.
Bonsai dapat menampilkan
bentuk mahkota pohon indah
secara individual, namun
dapat pula berbentuk kebun
mini. Kebun mini ini dapat
berbentuk rata, namun dapat
pula berbentuk puncak
gunung dengan beberapa
tanaman kerdil. Puncak
gunung dapat nampak hijau
karena tertutup mos atau
berbentuk batu-batu karang
yang menampilkan bentuk
tanah yang kritis.
1. Tahap Pertama,
Membentuk Kerangka Dasar
Bakal bonsai yang sudah siap
untuk diberi kerangka dasar
adalah yang sudah benar-
benar sehat kembali, setelah
mengalami pemindahan.
Batang Pokoknya praktis
sudah tidak tergoyahkan lagi
dan sudah cukup mencapai
ketinggian yang diperlukan
pada akhirnya untuk dibentuk.
Kerangka dasar sementara
sudah dimulai pada waktu
memindahkan tanaman ke
dalam pot bonsai. Sebelum
membentuk kerangka dasar,
rencanakan terlebih dahulu
masak-masak bentuk bonsai
yang dikhayalkan, dan
bagaimana kira-kira bentuk
bonsai pada akhirnya nanti.
Kerangka dasar ini terdiri dari
rangkaian batang pokok dan
beberapa dahan
Dahan-dahan yang dianggap
berlebihan dipangkas dengan
gunting pemangkas
sedemikian rupa, sehingga
habis pangkalnya. Tepatnya,
luka bekas dahan nampak
rata dengan permukaan kulit
batang pokok.
Batang Pokok
Batang pokok dapat diatur
sikapnya menjadi:
- Tegak lurus dengan dahan
membentuk mahkota yang
sistematis atau asimatris
- Berliku-liku namun
menjulang ke atas
- Miring hingga
menggelantung
- Berbatang pokok lebih dari
satu yang tumbuh dekat leher
akar atau lebih tinggi dan
sebagainya.
2. Tahap Kedua Merubah Arah
Dan Bentuk
Merubah bentuk dan arah
tumbuhnya batang pokok dan
dahan-dahan merupakan
suatu paksaan dan memakan
waktu hingga bentuk dan arah
yang dikehendaki tercapai.
Untuk keperluan tersebut
diperlukan sarana untuk
memudahkan pelaksanaannya
sebagai berikut:
- Kawat kuningan dari
beberapa ukuran diameternya
- Tali raffia
- Tang untuk memotong kawat
- Gunting pemangkas
- Gunting biasa
- Pisau kecil yang tajam
- Tang yang runcing ujungnya
- Cellotape
E. Penyempurnaan Bentuk
Bonsai
Tidak semua jenis tanaman
dapat dikerdilkan. Misalnya
tanaman advokat yang
berdaun lebar dan panjang
tidak. Mungkin memenuhi
persyaratan agar daunnya
bisa mengecil. Tanaman yang
dapat memenuhi persyaratan
untuk dikerdilkan adalah
tanaman yang mempunyai
daun berukuran kecil,
misalnya Beringin, jeruk kingki
(Triphasi aurantium), jenis-
jenis coniper (cemara, pinus
dll), delima (punika granatum)
, lo (ficus glomerata) dan
sebagainya. Di samping
berukuran kecil hendaknya
mempunyai sifat mudah
rontok.
Penyempurnaan bonsai kini
letaknya untuk menyusun
ranting-ranting dengan
daunnya yang cukup lebat,
namun seimbang dengan
bentuk dan ukuran bonsai
keseluruhannya.
Batang pokok dan dahan
harus nampak tumbuh kuat,
dan menghasilkan ranting-
ranting dan daun yang sehat.
Walaupun bagaikan suburnya
pertumbuhan daun namun
dalam peryempurnaan bentuk
bonsai, batang pokok dan
dahan harus nampak jelas
tidak tertutup. kedua-duanya
merupakan kerangka dasar,
dan sebagai dasar yang harus
tetap menonjol.
Langkah-langkah
penyempurnaan ini dalam
hakikatnya sangat
mengasyikan pemiliknya.
Setiap waktu yang senggang
sering dimanfaatkan untuk
meneliti pohon kerdil
kesayangannya. Langkah-
langkah penyempurnaan ini
terdiri dari.
- Pemangkasan
- Pengetipan/pengurangan
kuntum ranting maupun dahan
- Jika perlu menambah
lakukan dan sebaginya.
1. Pengendalian pertumbuhan
Setiap orang mengetahui,
bahwa tanaman khususnya
yang berbentuk pohon, bila
dibiarkan sekehendak hatinya,
akan berbentuk pohon, bila
dibiarkan sekehendak hatinya,
akan meningkat tingginya dan
akan melebar mahkotanya.
Setiap bagian yang
dilengkungkan, sebagai
reaksinya ialah mengeluarkan
kuntum baru yang dapat
menjadikan dahan maupun
ranting mengakibatkan
kuntum di bawah titik tumbuh
yang semula pasif (tidur) akan
aktif dan tumbuh.
Pengendalian pertumbuhan
tersebut dilaksanakan melalui
pemangkasan dan
pengetipan / Pemetikan titik
tumbuh
Dengan pemangkasan
dibuangnya:
- Cabang/ dahan yang
tumbuhnya di luar rencana
akibat dari lengkungan atau
yang tumbuh dari kuntum
adventif
- Ranting-ranting yang
tumbuhnya saling tindih yang
tampil kurang sedap
- Ranting-ranting yang tumbuh
ke arah bawah atau ke arah
batang pokok
- Ranting-ranting yang lemah
pertumbuhannya
2. Cara dan Waktu
Pemangkasan
Memotong dahan atau
ranting, dilakukan sebagai
berikut:
- Potong sedekat mungkin
dengan kuntum yang nampak
sehat
- Bila ingin membentuk
ranting baru, potong sedekat
mungkin dengan ranting yang
tumbuhnya sehat
- Bila memangkas cabang,
Potonglah sedemikian rupa
hingga lukanya rata dengan
permukaan pangkal
tumbuhnya. Tutup lukanya
yang besar dengan paraffin.
3. Melilit Dahan Dengan
Kawat
Melilit dahan-dahan yang
memanjang karena
pertumbuhannya masih dapat
dilaksanakan. Tindakan ini
dilakukan selama
pertumbuhan baru, masih
memungkinkan tanpa
mengganggu bentuk dan
penampilan bonsai selanjutnya
Langkah-langkah dalam
penyempurnaan bonsai
nampaknya sederhana. Tapi
hasil yang cukup
mengesankan baru dapat
dicapai setelah beberapa
tahun, ada yang tiga ada yang
lima tahun lebih.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis mengadakan
pengkajian secara normative
pada Bab II, maka penulis
menyimpulkan, yaitu:
1. Bonsai adalah tanaman
kerdil yang dipelihara di
dalam pot yang beraneka
ragam bentuknya dan
warnanya.
2. Bagian-bagian tanaman
yang dapat dibentuk menjadi
bonsai adalah, batang pokok,
dahan ranting dan akar.
3. Bibit atau benih yang dapat
dijadikan bakal bonsai dapat
dihasilkan melalui penyemaian
biji, setekan, cangkokan,
okulasi dan langkah-langkah
tanaman yang masih bertunas.
4. Adapun prinsip atau cara
menanam bonsai adalah:
Pot dibuat dari tanah
bakaran, porslen atau plastik.
Air di dalam pot harus dapat
mengalir jika berlebih.
Jenis tanahnya harus yang
tidak mudah padat.
Tanah di dalam pot harus
cerul, sehingga banyak
mengandung udara bersih.
Daya serap tanah terhadap
air baik.
5. Membentuk tanaman bonsai
ialah membuat duplikat dari
bentuk pohon-pohonan di
alam bebas. Skala duplikat ini
bisa kecil, sedang, hingga
cukup besar namun tetap
dibawah ukuran.
B. Saran
Agar dalam penyusunan karya
ilmiah ini bisa memberikan
manfaat yang besar maka
penulis menyarankan:
1. Belajar mengkerdilkan
pohon tidak akan selancar
yang diharapkan, kegagalan
pasti akan dialaminya. Dengan
demikian hendaknya bagi para
pemula untuk memiliki
kesabaran yang tinggi
Jadikanlah kegagalan sebagai
ujian untuk mengulang lagi
lebih baik lagi.
2. Bagi yang memiliki tanaman
bonsai, hendaknya
memeliharanya dengan baik,
karena membentuk tanaman
kerdil dan memeliharanya
hingga beberapa ratus tahun
lamanya, merupakan suatu
kesenian tersedirinya.
PENDAHULUAN
A. Tujuan
Dalam penyusunan karya
ilmiah ini, tentunya memiliki
tujuan yang ingin dicapai.
Adapun tujuannya adalah agar
dapat:
1. Mengetahui bagian – bagian
tanaman yang dapat dibentuk
menjadi bonsai
2. Mengetahui tanaman bibit
bonsai
3. Mengetahui tanaman bakal
bonsai dan bagaimana cara
menanamnya
4. Mengetahui bagaimana
cara membuat tanaman
bonsai
5. Untuk memenuhi tugas
mandiri mata pelajaran
bahasa Indonesia
B. Latar Belakang
Menurut Rismunandar, (1993L
tanpa halaman) menyatakan,
“tanaman kerdil yang
dipelihara di dalam pot yang
beraneka ragam bentuk dan
warnanya itu di Jepang diberi
nama bonsai.”
Dai kutipan di atas
menunjukan tentang
pengertian bonsai, jadi bonsai
adalah tanaman kerdil yang
bentuknya menyerupai
tanaman di alam bebas yang
di tanam di pot yang beraneka
ragam bentuknya dan
warnanya atau sering juga
disebut tanaman hias, itu
karena bentuknya yang indah
dan menarik dan biasa
dipajang di halaman rumah
sebagai Hiasan untuk
menambah keindahan rumah,
sehingga orang yang melihat
akan merasa tertarik.
Pertama kalinya tanaman
bonsai ini dikembangkan di
Tiongkok pada abad ke XI,
kemudian pada abad ke XV
seni tanaman bonsai masuk ke
Jepang, hingga seni tanaman
kerdil ini disebut bonsai.
Dengan keindahan dan
keunikan dari tanaman bonsai
ini akhirnya tanaman bonsai
ini sampai merambah ke
Amerika Serikat bahkan ke
dunia Barat termasuk ke
Indonesia bonsai ini banyak
digemari dan diminati untuk
bisa memiliki tanaman itu.
Dengan demikian untuk bisa
memenuhi hasrat itu, maka
bonsai dalam penyusunan
karya ilmiah ini. Hal ini
sengaja penulis sajikan agar
menambah kreatifitas bagi
yang berminat tanaman hias.
C. Metode
Dalam penyusunan karya
ilmiah ini penulis
menggunakan metode
deskripsi dan pendekatan
yang digunakan yaitu dengan
pendekatan normative,
dimana penulis menjelaskan
dan memaparkan bagaimana
cara membentuk tanaman
menjadi tanaman bonsai
dengan menggunakan
literature yang ada
D. Sistematika Penulisan
Di samping karya ilmiah ini
harus bersifat ilmiah, juga
harus tersusun secara
sistematis. Adapun sistematika
penulisannya adalah sebagai
berikut:
Dalam sistematika penulisan
karya ilmiah ini diawali
dengan isi yang terdiri dari
daftar isi, dilanjutkan dengan
isi yang terdiri dari beberapa
Bab yaitu Bab I, Bab II, dan
Bab III, yakni rinciannya
sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Isi dari Pendahuluan ini terdiri
dari beberapa sub Bab yaitu;
tujuan, latar belakang,
metode; sistematika
penulisan, dan terakhir
Kegunaan
Bab II Pembahasan
Pembahasan ini menguraikan
materi tentang tanaman
bonsai secara teoritis dimana
dalam hal ini terdiri dari
beberapa sub yaitu: bagian
tanaman, sifat dan fungsinya,
bibit bonsai, bakal bonsai dan
cara menanamnya; dan tahap-
tahap pembentukan bonsai.
Bab III Penutup
Dalam Bab III ini diisi dengan
penutup yang terdiri dari
kesimpulan dan saran, dimana
penulis setelah menguraikan
materi tentang bonsai
selanjutnya menyimpulkan
dan memberikan saran
sehingga karya ilmiah ini bisa
bermanfaat.
E. Kegunaan
Manfaat dan kegunaan
penyusunan karya ilmiah ini
diharapkan bisa:
1. Menumbuhkan minat
seseorang untuk bisa memiliki
bonsai
2. Memberikan motivasi untuk
bisa berkreasi dan kreatif
3. Memberikan pengetahuan
dan pengalaman bagaimana
membentuk tanaman bonsai
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagian Tanaman, Sifat Dan
Fungsinya
Bagi seorang yang baru ingin
mengembangkan daya
kreasinya membentuk bonsai,
terlebih dahulu memerlukan
bekal pengetahuan ala
kadarnya tentang tumbuh-
tumbuhan.
Membuat bonsai pada
hakikatnya mempengaruhi
bagian-bagian tanaman
sedemikian rupa sehingga bisa
tampil pertumbuhan yang
dikehendaki pemiliknya.
Perlu diingat, bahwa tumbuh-
tumbuhan sebagai makhluk
yang hidup, walaupun bersifat
pasif, tetap akan memberikan
reaksi terhadap gangguan
pada tubuhnya.
1. Organ-Organ Tanaman dan
Sifatnya
Hingga saat ini tanaman yang
dikerdilkan pada umumnya
termasuk keluarga besar
“Dicotyledon” atau tanaman
yang bijinya berkeping dua,
maka dari itu uraian tentang
bagian-bagian tanaman di
bawah ini khusus ditujukan
terhadap tanaman yang
berkeping dua.
Bagian-bagian tanaman dapat
dibagi dalam dua bagian ialah:
- Bagian vegetatif (organum
nutritivum)
- bagian generatif (organum
reproductivum)
Untuk landasan membuat
bonsai dibatasi pada
penguraian bagian vegetatif
saja, Karena bagian generatif
kurang perannya dalam
membentuk bonsai.
a. Bagian Vegetatif
Bagian vegetatif dapat dibagi
dalam 2 (dua) bagian:
1. Yang berada di atas tanah
(batang pokok, dahan,
ranting, daun) berada di
dalam lingkungan yang penuh
dengan udara dan lembap,
serta sinar matahari dan suhu
udara yang tidak konstan
2. Bagian yang berada di
dalam tanah, perakaran yang
tumbuhnya ke bawah atau ke
dalam tanah dan menghindari
matahari.
Bagian ini terdiri dari:
- Akar tunggang atau akar
pokok yang tumbuhnya lurus
ke bawah
- Akar lateral, tumbuhnya
mendatar, dan keluar dari
dekat leher akar
b. Sifat dan fungsi bagian
vegetatif
1. Batang pokok
Dapat meningkat tingginya,
Karena diperlengkapi dengan
titik tumbuh pucuknya. Dan
dapat memperbesar lingkaran
batangnya Karena
diperlengkapi dengan jaringan
khusus yang disebut kambium.
Letak kambium di atas kayu,
dan di bawah kulit.
2. Dahan
Tumbuh dari kuntum yang
berada di ketiak daun pada
batang pokok yang masih
muda. Tumbuhnya bisa
mendatar atau membentuk
sudut kurang dari 90°. Dengan
adanya dahan-dahan tersebut
dibentuklah mahkota pohon
yang konis, pyramidal, bulat
telur, lonjong dan sebagainya.
3. Ranting
Tumbuh dari kuntum yang
berada di ketiak daun dahan,
dapat tumbuh ke arah yang
beraneka ragam, namun rata-
rata tumbuh ke luar arah
dahan. Pertumbuhan ranting
dapat dihentikan dengan
reaksi membentuk ranting-
ranting baru.
4. Kuntum
Kuntum dapat berada di titik
tumbuh, ketiak daun dan ada
pula yang terpendam (tidak
nampak) yang setiap waktu
dapat tumbuh sebagai ranting
atau dahan baru.
5. Akar
Akar sifatnya menghindari
sinar matahari, sifat ini
disebut “negatif phototropis”.
Pertumbuhan akar tidak kaku,
yang berarti dapat
menyesuaikan diri dengan
ruang lingkup di mana mereka
berada, misalnya akar
tunggang menjadi lateral bila
tumbuhnya terhalang oleh
suatu benda yang tidak bisa
ditembus, akan berubah
arahnya. Sebagai contoh akar
tanaman di dalam pot atau
keranjang akan melingkar-
lingkar bilamana sudah tua
umurnya.
2. Fungsi Bagian Tanaman
Organ-organ tanaman yang
berada di atas tanah, tidak
dapat dipisahkan dari organ-
organ yang berada di dalam
tanah. Dampak pertumbuhan
perakaran, nampak pula pada
pertumbuhan batang pokok
dahan dan sebagainya.
a. Daun merupakan pabrik
untuk menghasilkan zat
karbohidrat, protein dan
lemak. Ketiga zat ini dibentuk
melalui proses fotosintesa.
Sarana dari proses tersebut
adalah:
- Hijau daun yang sehat
- Sinar matahari
- Udara yang mengandung zat
asam arang (CO2)
- Air
b. Fungsi akar
Fungsi akar yang utama
adalah untuk menyerap zat-
zat mineral yang larut di
dalam air atau dari tanah.
Zat-zat mineral ini pada
umumnya diperlukan untuk
pertumbuhan tanaman.
Air yang diserap bersama zat
mineral, diperlukan untuk
berlangsungnya fotosintesa.
Tanpa air atau kekurangan air
tanaman akan nampak layu,
terutama yang diserang
terlebih dahulu bagian-bagian
yang masih relatif muda.
B. Bibit Bonsai
Bibit untuk bonsai atau bakal
bonsai dapat diperoleh dari:
- Biji yang khusus disemaikan
atau dari semai yang ada di
alam bebas
- Setekan atau cangkokan,
yang pembuatannya
memerlukan sedikit
keterampilan
- Okulasi
- Bongkah-bongkah tanaman
yang masih bertunas dan
masih nampak bertahan untuk
hidup
1. Semai Bakal Bonsai
Untuk mendapatkan bibit
melalui penyemaian sendiri,
akan memakan waktu cukup
lama. Menyemaikan biji
hingga dapat di tanam dalam
pot banyak liku-likunya,
sehingga dapat menghabiskan
semangat untuk memulai
mengayunkan langkah
membentuk bonsai.
Pesemaian bibit bonsai lebih
baik diserahkan saja kepada
perusahaan bibit (bonsai) yang
sekaligus berkecimpung
dalam pembikinan bonsai
untuk di jual.
2. Setek, Cangkok Dan Okulasi
Menyetek, mencangkok dan
membuat okulasi merupakan
seni tersendiri. Menyetek dan
mencangkok dapat
menghasilkan tanaman baru
dalam jangka waktu yang
relatif singkat (1-2 bulan).
Sedangkan membuat okulasi
bisa membutuhkan waktu
lebih dari 1 tahun.
a. Menyetek
Sebelum mempraktekan
teknis menyetek tanaman,
perlu disadari bahwa setiap
jenis tanaman dapat dengan
mudah disetek.
Dikenal 3 jenis setek, yaitu:
- Setek lunak dan setengah
lunak
- Setek keras
- Setek daun
b. Cangkok
Untuk mencangkok, dipilihlah
dahan minimal sebesar pensil
atau ibu jari, dan kulitnya
mudah dikelupas (tidak
lengket).
Teknik mencangkok
- Kupas kulit dahan selebar
3-5 cm
- Buang lendirnya dengan
mengerok atau melap dengan
kain yang kering
- Biarkan 3-4 hari
- Kemudian tutup lukanya
dengan mos yang dibasahi
atau campuran antara tanah
dan remah dengan kompos
yang tua dengan
perbandingan 1:1
- Balut mos atau tanah dengan
lembaran plastik, dan ikat
baik-baik di bagian atas dan
bawah
- Dengan jarum lembaran
plastik dilubangi agar sirkulasi
udara dapat berlangsung.
c. Membikin Okulasi
Bagi yang telah biasa
menanam satu jenis pohon
misalnya buah-buahan dalam
bentuk okulasi untuk dijadikan
bonsai, tidak merupakan suatu
problem yang pelit. Tapi tidak
demikian halnya bagi seorang
pendatang baru, yang ingin
menyibukkan diri dalam seni
bonsai dan harus didahului
dengan membikin ekolusi
sendiri.
Bibit ekolusi terdiri dari 2
(dua) bagian ialah :
- Batang bawah (onderstam)
- Batang atas (entrijs)
Langkah-langkah dalam
perokulasian:
- Batang pokok bersihkan 15
cm di atas tanah
- Sayat kulit 10 cm dari atas
tanah selebar 8 mm, dengan
membikin keratan di bagian
atas dan kanan kiri menurun ±
4 cm panjang
- Tarik kulit ke bawah,
sehingga merupakan lidah,
kemudian potong separuhnya
- Sayat mata dari dahan
entrijs, dengan kayunya
sedikit dari bawah ke atas,
panjang ± 4 cm di atas mata
yang merata, sehingga pas
betul menempel pada keratan
pohon pokok
- Angket kayu perlahan-lahan
tanpa merusak matanya
- Kulit yang bermata,
masukkan antara kayu dan
kulit lidah batang pokok, yang
telah dibuka, dan tempelkan
kembali, usahakan matanya
tidak tertutup
- Balut dengan tali raffia yang
erat
C. Bakal Bonsai Dan Cara
Menanamnya
Prinsip-prinsip menanam
bonsai ini ialah:
- Pot dibikin dari tanah bakar,
porselin atau plastik
- Air di dalam pot yang
berlebih harus dapat mengalir
keluar dengan sendirinya
- Jenis tanahnya adalah tanah
yang tidak mudah padat atau
plastik (liat/lengket)
- Tanah di dalam pot harus
yang cerul, sehingga banyak
mengandung udara bersih
- Daya serap tanahnya
terhadap air baik, sehingga
dapat mempertahankan
kelembapannya.
1. Pot dan isinya
Pot merupakan sarana dalam
kreasi bonsai yang tidak kalah
penting dengan bonsai sendiri.
Dengan bonsai, pot
merupakan rangkaian yang
harus harmonis, yang serasi
dan atraktif dengan kata lain
berukuran seimbang dengan
bentuk bonsainya.
Pot bonsai dapat berbentuk:
bulat, oval, segi lima, segi
panjang dan sebagainya
Ukurannya : besar, sedang,
kecil hingga kecil sekali, tinggi
hingga rendah seperti talam
Warnanya : beraneka ragam
Lubang pembuangan air :
Selain pot berbentuk baki,
semua pot bonsai
diperlengkapi dengan satu
atau lebih lubang
pembuangan air, yang ditutup
dengan gas plastik atau yang
lain
Pada umumnya jenis tanaman
tertentu membutuhkan
campuran tanah yang khas
bagi mereka. Resep umum
medium untuk tanaman yang
berdaun lebar (Beringin,
getahperca, sawo, dan
sebagainya) adalah:
50 % tanah liat sedang
20 % pasir dan
30 % kompos
2. Mengisi Pot
Mengisi pot untuk tanaman
bonsai merupakan duplikasi
dari keadaan yang sebenarnya
di alam bebas. Lapisan paling
atasnya atau topsil, tebalnya
tidak lebih dari 35 cm bersifat
cerul, penuh dengan humus,
dan subur.
Lapisan kedua masih lunak,
masih dapat menyalurkan air
ke bawah menjadi air tanah.
Lapisan ketiga bisa berbentuk
lapisan tanah yang banyak
batu-batuan berukuran
beraneka ragam dan akhirnya
lapisan paling bawah adalah
lapisan induk batu yang kedap
air.
Kesuburan dan tinggi
rendahnya pertumbuhan
tanaman tahunan tergantung
pada tebal tipisnya lapisan
kedua dan ketiga. Bila lapisan
kedua dan ketiga bercadas,
pertumbuhan akar
tunggangnya terhalang. Tanah
yang tidak dalam dan
bercadas dalam musim
kemarau banyak mengalami
kekurangan air. Akibatnya
ialah tanaman tahun yang
tumbuh di atasnya tidak akan
normal, alias pendek.
3. Pengamanan Isi Pot
Batu kerikil, pasir dan tanah
bisa mengandung serangga
tanah yang membahayakan
tanaman bonsai, terutama
cacing dan nematoda. Cacing
tanah atau cacing hujan
walaupun tidak akan merusak
akar namun tetap saja dapat
merisaukan. Selain serangga,
jenis-jenis penyakit yang dapat
mengakibatkan pembusukan
pun bisa berada di dalam
tanah maupun pasir. Biji-biji
rerumputan dan sebaginya
terdapat pula di pasir.
4. Cara Menanami Bonsai
Bakal bonsai dapat diperoleh
melalui beberapa cara ialah:
- Membibitkan sendiri melalui
penyemaian
- Membeli dari penjual bibit di
pinggir jalan atau kebun bibit
- Mencari di luar halaman
atau di alam bebas
5. Pemeliharaan Setelah
Tanam
Setelah penanaman selesai,
siram bakal bonsai dan
tanahnya dengan
mempergunakan spayer yang
halus. Air penyiraman harus
bersih dan tidak berlumpur
dan nentral (tawar). Hentikan
penyiraman jika air sudah
berkelebihan dan mengalir ke
luar melalui lubang air. Bila
air nampak mengenang dan
tidak mau keluar lubang air,
ini merupakan pertanda
bahwa lubang air tersumbat.
Malapetaka kecil ini dapat
diatasi dengan alat
pengungkit.
Untuk menghindari
permukaan tanah di dalam
pot cepat mengering. Dapat
ditutup dengan mos kering
sebagai mulsa atau lumut
hijau bilamana ada. Namun
yang lebih praktis adalah
dibungkus dengan lembaran
plastik. Batu kerikil kecil-kecil
dapat berfungsi juga sebagai
mulsa.
Tempatkan kemudian bakal
bonsai di tempat yang teduh,
tidak banyak angin dan bebas
dari gangguan anak-anak atau
hewan kesayangan.
Untuk mempercepat
tumbuhnya kembali
(recovering) bakal bonsai
dapat diusahakan dengan
menutup seluruh tanaman
dengan kantung plastik
transparan.
D. Tahap-Tahap Pembentukan
Bonsai
Membentuk tanaman kerdil
alias bonsai pada hakikatnya
ialah membuat duplikat dari
bentuk-bentuk pohon-pohonan
di alam bebas. Skala duplikasi
ini bisa kecil, sedang, hingga
cukup besar namun tetap di
bawah ukuran yang normal.
Bentuk bonsai dapat
menggambarkan sejenis
pohon yang bertahan
terhadap keganasan alam,
misalnya angin yang keras,
badai laut di pinggir pantai
yang berlaut-laut. Pohon
nampak porak-poranda namun
tetap survive.
Bonsai dapat menampilkan
bentuk mahkota pohon indah
secara individual, namun
dapat pula berbentuk kebun
mini. Kebun mini ini dapat
berbentuk rata, namun dapat
pula berbentuk puncak
gunung dengan beberapa
tanaman kerdil. Puncak
gunung dapat nampak hijau
karena tertutup mos atau
berbentuk batu-batu karang
yang menampilkan bentuk
tanah yang kritis.
1. Tahap Pertama,
Membentuk Kerangka Dasar
Bakal bonsai yang sudah siap
untuk diberi kerangka dasar
adalah yang sudah benar-
benar sehat kembali, setelah
mengalami pemindahan.
Batang Pokoknya praktis
sudah tidak tergoyahkan lagi
dan sudah cukup mencapai
ketinggian yang diperlukan
pada akhirnya untuk dibentuk.
Kerangka dasar sementara
sudah dimulai pada waktu
memindahkan tanaman ke
dalam pot bonsai. Sebelum
membentuk kerangka dasar,
rencanakan terlebih dahulu
masak-masak bentuk bonsai
yang dikhayalkan, dan
bagaimana kira-kira bentuk
bonsai pada akhirnya nanti.
Kerangka dasar ini terdiri dari
rangkaian batang pokok dan
beberapa dahan
Dahan-dahan yang dianggap
berlebihan dipangkas dengan
gunting pemangkas
sedemikian rupa, sehingga
habis pangkalnya. Tepatnya,
luka bekas dahan nampak
rata dengan permukaan kulit
batang pokok.
Batang Pokok
Batang pokok dapat diatur
sikapnya menjadi:
- Tegak lurus dengan dahan
membentuk mahkota yang
sistematis atau asimatris
- Berliku-liku namun
menjulang ke atas
- Miring hingga
menggelantung
- Berbatang pokok lebih dari
satu yang tumbuh dekat leher
akar atau lebih tinggi dan
sebagainya.
2. Tahap Kedua Merubah Arah
Dan Bentuk
Merubah bentuk dan arah
tumbuhnya batang pokok dan
dahan-dahan merupakan
suatu paksaan dan memakan
waktu hingga bentuk dan arah
yang dikehendaki tercapai.
Untuk keperluan tersebut
diperlukan sarana untuk
memudahkan pelaksanaannya
sebagai berikut:
- Kawat kuningan dari
beberapa ukuran diameternya
- Tali raffia
- Tang untuk memotong kawat
- Gunting pemangkas
- Gunting biasa
- Pisau kecil yang tajam
- Tang yang runcing ujungnya
- Cellotape
E. Penyempurnaan Bentuk
Bonsai
Tidak semua jenis tanaman
dapat dikerdilkan. Misalnya
tanaman advokat yang
berdaun lebar dan panjang
tidak. Mungkin memenuhi
persyaratan agar daunnya
bisa mengecil. Tanaman yang
dapat memenuhi persyaratan
untuk dikerdilkan adalah
tanaman yang mempunyai
daun berukuran kecil,
misalnya Beringin, jeruk kingki
(Triphasi aurantium), jenis-
jenis coniper (cemara, pinus
dll), delima (punika granatum)
, lo (ficus glomerata) dan
sebagainya. Di samping
berukuran kecil hendaknya
mempunyai sifat mudah
rontok.
Penyempurnaan bonsai kini
letaknya untuk menyusun
ranting-ranting dengan
daunnya yang cukup lebat,
namun seimbang dengan
bentuk dan ukuran bonsai
keseluruhannya.
Batang pokok dan dahan
harus nampak tumbuh kuat,
dan menghasilkan ranting-
ranting dan daun yang sehat.
Walaupun bagaikan suburnya
pertumbuhan daun namun
dalam peryempurnaan bentuk
bonsai, batang pokok dan
dahan harus nampak jelas
tidak tertutup. kedua-duanya
merupakan kerangka dasar,
dan sebagai dasar yang harus
tetap menonjol.
Langkah-langkah
penyempurnaan ini dalam
hakikatnya sangat
mengasyikan pemiliknya.
Setiap waktu yang senggang
sering dimanfaatkan untuk
meneliti pohon kerdil
kesayangannya. Langkah-
langkah penyempurnaan ini
terdiri dari.
- Pemangkasan
- Pengetipan/pengurangan
kuntum ranting maupun dahan
- Jika perlu menambah
lakukan dan sebaginya.
1. Pengendalian pertumbuhan
Setiap orang mengetahui,
bahwa tanaman khususnya
yang berbentuk pohon, bila
dibiarkan sekehendak hatinya,
akan berbentuk pohon, bila
dibiarkan sekehendak hatinya,
akan meningkat tingginya dan
akan melebar mahkotanya.
Setiap bagian yang
dilengkungkan, sebagai
reaksinya ialah mengeluarkan
kuntum baru yang dapat
menjadikan dahan maupun
ranting mengakibatkan
kuntum di bawah titik tumbuh
yang semula pasif (tidur) akan
aktif dan tumbuh.
Pengendalian pertumbuhan
tersebut dilaksanakan melalui
pemangkasan dan
pengetipan / Pemetikan titik
tumbuh
Dengan pemangkasan
dibuangnya:
- Cabang/ dahan yang
tumbuhnya di luar rencana
akibat dari lengkungan atau
yang tumbuh dari kuntum
adventif
- Ranting-ranting yang
tumbuhnya saling tindih yang
tampil kurang sedap
- Ranting-ranting yang tumbuh
ke arah bawah atau ke arah
batang pokok
- Ranting-ranting yang lemah
pertumbuhannya
2. Cara dan Waktu
Pemangkasan
Memotong dahan atau
ranting, dilakukan sebagai
berikut:
- Potong sedekat mungkin
dengan kuntum yang nampak
sehat
- Bila ingin membentuk
ranting baru, potong sedekat
mungkin dengan ranting yang
tumbuhnya sehat
- Bila memangkas cabang,
Potonglah sedemikian rupa
hingga lukanya rata dengan
permukaan pangkal
tumbuhnya. Tutup lukanya
yang besar dengan paraffin.
3. Melilit Dahan Dengan
Kawat
Melilit dahan-dahan yang
memanjang karena
pertumbuhannya masih dapat
dilaksanakan. Tindakan ini
dilakukan selama
pertumbuhan baru, masih
memungkinkan tanpa
mengganggu bentuk dan
penampilan bonsai selanjutnya
Langkah-langkah dalam
penyempurnaan bonsai
nampaknya sederhana. Tapi
hasil yang cukup
mengesankan baru dapat
dicapai setelah beberapa
tahun, ada yang tiga ada yang
lima tahun lebih.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis mengadakan
pengkajian secara normative
pada Bab II, maka penulis
menyimpulkan, yaitu:
1. Bonsai adalah tanaman
kerdil yang dipelihara di
dalam pot yang beraneka
ragam bentuknya dan
warnanya.
2. Bagian-bagian tanaman
yang dapat dibentuk menjadi
bonsai adalah, batang pokok,
dahan ranting dan akar.
3. Bibit atau benih yang dapat
dijadikan bakal bonsai dapat
dihasilkan melalui penyemaian
biji, setekan, cangkokan,
okulasi dan langkah-langkah
tanaman yang masih bertunas.
4. Adapun prinsip atau cara
menanam bonsai adalah:
Pot dibuat dari tanah
bakaran, porslen atau plastik.
Air di dalam pot harus dapat
mengalir jika berlebih.
Jenis tanahnya harus yang
tidak mudah padat.
Tanah di dalam pot harus
cerul, sehingga banyak
mengandung udara bersih.
Daya serap tanah terhadap
air baik.
5. Membentuk tanaman bonsai
ialah membuat duplikat dari
bentuk pohon-pohonan di
alam bebas. Skala duplikat ini
bisa kecil, sedang, hingga
cukup besar namun tetap
dibawah ukuran.
B. Saran
Agar dalam penyusunan karya
ilmiah ini bisa memberikan
manfaat yang besar maka
penulis menyarankan:
1. Belajar mengkerdilkan
pohon tidak akan selancar
yang diharapkan, kegagalan
pasti akan dialaminya. Dengan
demikian hendaknya bagi para
pemula untuk memiliki
kesabaran yang tinggi
Jadikanlah kegagalan sebagai
ujian untuk mengulang lagi
lebih baik lagi.
2. Bagi yang memiliki tanaman
bonsai, hendaknya
memeliharanya dengan baik,
karena membentuk tanaman
kerdil dan memeliharanya
hingga beberapa ratus tahun
lamanya, merupakan suatu
kesenian tersedirinya.
Senin, 01 Juni 2009
MAKALAH BIOLOGI TENTANGKERAGAMAN HEWANVETEBRATA DANINVETEBRATA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara
yang memiliki keragaman
hayati yang melimpah baik
flora maupun fauna.
Kekayaan keragaman hayati
ini membiarkan keuntungan
yang besar bagi masyarakat.
Di antaranya dapat memenuhi
kebutuhan manusia juga
mengandung protein,
karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral.
Protein sebagai salah satu
sumber pembangun tubuh
dapat berasal dari tumbuhan
(nabati) dan hewan (hewani).
Protein yang berasal dari
hewan mempunyai kandungan
yang sempurna dibandingkan
dengan protein nabati. Oleh
karena itu pengadaan sumber
protein hewani harus
diupayakan.
Sehubungan dengan itu
penulis terusik untuk memilih
karya tulis yang berjudul
“Keragaman Hewani
Vertebrata dan Invertebrata”
B. Batasan Masalah
Adapun batasan Masalah
dalam karya tulis ini adalah:
1. Pengertian dan perbedaan
hewan Vertebrata dan hewan
Invertebrata.
2. Filum : yang termasuk
hewan Vertebrata dan hewan
Invertebrata.
3. Sistem pencernaan pada
hewan Vertebrata dan
Invertebrata
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Adapun Tujuan penulis dalam
penulisan karya tulis ini
adalah
1. Sebagai salah satu syarat
mengikuti UN/UAM
2. Untuk mengetahui berbagai
macam hewan vertebrata dan
hewan invertebrata
3. Untuk menambah wawasan
tentang keanekaragaman
hewan vertebrata dan
invertebrata
D. Metode Yang Digunakan
Metode deskriftif dengan
teknik study kepustakaan atau
literature, yaitu pengetahuan
yang bersumber dari
beberapa media tulis baik
berupa buku, litelatur dan
media lainnya yang tentu ada
kaitannya masalah-masalah
yang di bahas di dalam Karya
tulis ini.
BAB II
KERAGAMAN HEWAN
VERTEBRATA DAN HEWAN
INVETEBRATA
A. Hewan Vertebrata
1. Pengertian
Hewan vertebrata yaitu hewan
yang bertulang belakang atau
punggung. Memiliki struktur
tubuh yang jauh lebih
sempurna dibandingkan
dengan hewan Invertebrata.
Hewan vertebrata memiliki
tali yang merupakan susunan
tempat terkumpulnya sel-sel
saraf dan memiliki
perpanjangan kumpulan saraf
dari otak. Tali ini tidak di
memiliki oleh yang tidak
bertulang punggung. Dalam
memenuhi kebutuhannya,
hewan vertebrata telah
memiliki system kerja
sempurna peredaran darah
berpusat organ jantung
dengan pembuluh-pembuluh
menjadi salurannya.
Ciri-ciri tubuh hewan yang
bertulang belakang:
1. Mempunyai tulang yang
terentang dari balakang
kepala sampai bagian ekor.
2. Mempunyai otak yang
dilindungi oleh tulang-tulang
tengkorak.
3. Tubuh berbentuk simetris
bilateral.
4. mempunyai kepala, leher,
badan dan ekor walaupun
ekor dan leher tidak mutlak
ada contohnya pada katak.
Ciri alat tubuh hewan yang
bertulang belakang sebagai
berikut:
1. Mempunyai kelenjar
bundar, endoksin yang
menghasilkan hormon untuk
pengendalian. Pertumbuhan
dan proses fisiologis atau faal
tubuh
2. Susunan saraf terdiri atas
otak dan sumsum tulang
belakang
3. Bersuhu tubuh panas dan
tetap (homoiternal) dan
bersuhu tubuh dingin sesuai
dengan kondisi lingkungan
(poikiloternal)
4. Sistem pernapasan/terpirasi
dengan paru-paru
(pulmonosum) kulit dan insang
operculum
5. Alat pencernaan
memanjang mulai dari mulut
sampai ke anus yang terletak
di sebelah vertran (depan)
dan tulang belakang
6. Kulit terdiri atas epidermis
(bagian luar) dan endodermis
(bagian dalam)
7. Alat reproduksi
berpasangan kecuali pada
burung, kedua kelenjar
kelamin berupa ovalium dan
testis menghasilkan sel tubuh
dan sel sperma
Hewan bertulang belakang
(vertebrata) ini terdiri atas
kelas yaitu:
1. Kelas Pisces (Ikan)
2. Kelas Amphibi (Latin amphi
= dua, bia = hidup)
3. Kelas Reftilia (Bahasa latin
repare = merangkak/
merayap)
4. Kelas Aves (Burung)
5. Kelas mamalia (Bahasa
latin mamae artinya kelenjar
buah dada, mamalia artinya
hewan menyusui)
2. Filum-Filum Hewan
Vertebrata
a. Kelas Pisces (Ikan)
Ciri utama Pisces sebagai
berikut:
- Hewan berdarah dingin yang
hidup di dalam air
- Bernapas dengan insang
(operculum) dan di bantu oleh
kulit
- Tubuh terdiri atas Kepala
- Rangka tersusun atas tulang
sejati
- Jantung terdiri atas satu
serambi dan satu bilik
- Tubuh ditutupi oleh sisik dan
memiliki gurat sisi untuk
menentukan arah dan posisi
berenang
Pisces dapat di bagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
2. Ordo Apodes
Familia (1) : Angulidae
Species : Ikan panjang
(Arguilia vulgaria)
Familia (2) : Muruenidae
3. Ordo Acthopterygi
Familia (1) : Parsidae
Species : Kakap (Lataes carca
lifer)
Familia (2) : Muruenidae
4. Ordo Heterostonata
Species : Ikan lidah
5. Ordo Labysinthici
Famili : Analamtidal
Species : ikan bandeng (lates
carca lifer)
Familia : scombridae
Species : tongkol (enthymus
palamys)
6. Ordo Masacop Terygii
Famili (1) : chipeidae
Species : ikan bandeng
(chonos-chonos)
Famili (2) : ikan salam
(salmosalor)
7. Ordo Ostariophysi
Familia (1) : analamtidal
Species : kakap (lates carca
lifer)
Famili : scmbridae
b. Kelas Amphibia
Ciri-ciri amphibia sebagai
berikut:
- Dapat hidup di air dan di
darat ataupun tempat-tempat
yang lembab
- Disebut juga hewan yang
mempunyai tempat hidup
(habitat) di dua alam
- Hewan bernafas dengan
paru-paru dan kulit. Telur dan
berudu katak hidup di air
kemudian setelah dewasa
hidup di darat, berudu
berbentuk seperti ikan yang
bernafas dengan insang dan
kulit, setelah masanya tumbuh
kaki yang susut oleh
kehidupan dan akhirnya ekor
menghilang sementara itu
insang berangsur-angsur
menghilang dan digantikan
oleh paru-paru kemudian
katak menjadi dewasa.
- Jantung beruang tiga yaitu
dua serambi dan satu bilik.
- Berkembang biak dengan
bertelur dan pembuahan sel
telur oleh sperma terjadi di
luar tubuhnya (fertilisasi
eksternal).
Amphibi dapat dibagi menjadi
beberapa ordo:
1. Ordo bymnofora / opoda
(amphibia tidak berkaki tetapi
memiliki ekor)
Species : ular, cacing (ichtyo
phisgentmosus)
2. Ordo anura/solienta
(amphibia tidak berekor tetapi
memiliki kaki)
Famili : Ranidae
Species : Katak buduk, katak
hijau (Kamacun crivoras)
Familia : hyhidae
Species : katak pohon (hyla
SP)
3. Ordo wodela / candata
(amphibia yang berekor dan
berkaki)
Familia : pretidae
Species : aning lumpru
(necturus onaculanu)
Familia : crypto bran chidae
Species : solomonder air (ripto
bronchus akeganiesis)
c. Kelas reftilia (hewan
melata)
Ciri-ciri hewan melata adalah
sebagai berikut:
- Kulit kering bersisik dari zat
tanduk karena zat kertin
- Bernafas dengan paru-paru
- Berdarah dingin
(porkoliokonal) yakni yang
suhu tubuhnya dipengaruhi
oleh suhu lingkungan
- Umumnya bersifat avivar
(bertelur), contoh kadal, dan
vivipar beranak, contohnya
ular.
- Jantung terdiri dari empat
ruang yaitu dua serambi dan
dua bilik yang masih belum
sempurna.
Reptilia dapat dibagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
1) Ordo crocodilia
Familia : crocodylidae
Species : buaya sedang
(crocodyeus bifocatus), buaya
besar (crocodyes porosus)
2) Ordo chelonia
Familia (1) : crocodylidae
Species : penyu (chelaina
nydas)
Familia (2) : tryony chidae
Species : kuya (try ony x
cartilaginews)
Familia (3) : testudinidae
Species : kura-kura (euora
ambirinesis)
3) Ordo cacerilia
Familia (1) : cacertidae
Species : cicak (hemidacty
frenatus)
Familia (2) : geckonocdae
Species : tokek (gecko
monarchis)
Familia (3) : henoermatidae
Species : kadal (heloderma
SP)
Familia : varanidae
Species : komodo (voronus
komodensis)
biawak (voronus salvator
4) Ordo Aphidia
Contoh; ular sawah, ular
kobra dan sebagainya
d. Kelas aves (burung)
Ciri utama aves sebagai
berikut:
- Alat penglihatan, alat
pendengaran dan alat suara
sudah berkembang dengan
baik
- Berdarah panas
(homoioteral)
- Jantung terdiri dari empat
ruang 2 serambi dan 2 bilik
yang sudah berkembang
dengan baik
- Pembuahan sel telur dan
sperma / fertilisasi terjadi di
dalam tubuh induk (fertilisasi
internal)
- Terdapat sepasang testis,
Sedangkan ovarium hanya
satu dan tumbuh dengan baik
di sebelah kiri.
Aves dapat dibagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
1) Ordo colombiforines
Familia : columbidal
Species : perkutut (geopilia
striata)
2) Ordo coraciiformes
Familia : arcedinadae
Species : telengket (harcy
concholm)
3) Ordo grana cares
Familia (1) : ardidae
Species : bangau (reptotilas
javanicus)
Familia (2) : rassidal
Species : mordar (parphyrio
albus)
4) Ordo nato tores
Familia (1) : laridae
Species : dara laut
Familia (2) : pamilirostros
Species : bebek / itik (anus
koshos)
Familia (3) : sphe niscidae
Species : pinguin (aptenodytes
SP)
5) Ordo rapaces
Familia (1) : fontanida
Species : alap-alap (falco
papuanus)
Familia (2) : strigi dae
Species : burung hantu (suba
kukua)
e. Kelas Mamalia
Ciri-ciri utama hewan mamalia
sebagai berikut:
- Umumnya hidup di daratan,
tetapi ada pula yang hidup di
air seperti ikan paus, lumba-
luma
- Berdarah panas
- Pada kulit terdapat kelenjar
keringat dan kelenjar minyak
- Otak berkembang dengan
baik
- Fertilisasi internal
- Bernafas dengan paru-paru
- Terdapat 4 ruang jantung
yang sempurna
Macam-macam ordo hewan
mamalia antara lain:
1) Ordo dactyla
Species : Topis (clocidura
marina)
Badak Jawa (rhino
cerassoondaicus)
2) Ordo insectivora
Species : cecurut (cocidura
mosina)
Tupai (tupaja javarita)
3) Ordo phalidata
Species : trenggiling (tubuh
bersisik)
4) Ordo chiroptera
Species : kelelawar (micro
chiroptera SP)
Kalong (megachiroptera SP)
5) Ordo marsupiala
Species : kucing (fell is catus)
Singa (fell is lion)
Harimau (fell is tigris)
Serigala (canislupus)
6) Ordo marsopialia
Species : kanguru (macropus)
Kuskus (plalanger)
7) Ordo prosboscidae
Species : gajah (elephan
indicus)
Gajah Africa (loxoder
africanus)
8) Ordo artidactyea
Species : kerbau (bubalus-
bubalus)
Banteng (basssonduicus)
Kambing (capra faleoheri)
3. Sistem Pencernaan Pada
Hewan Vertebrata
Proses pencernaan makanan
dapat terjadi secara mekanik
dan kimia. Pencernaan
mekanik adalah proses yang
mengubah makanan menjadi
bagian-bagian yang kecil.
Sedangkan pencernaan secara
kimia adalah suatu proses
pengubahan makanan dengan
bantuan enzim pencernaan.
1. Sistem Pencernaan pada
ikan
Misalnya, ikan mas
mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus dan anus. Ikan
mempunyai lidah yang pendek
terdapat pada dasar mulut,
lidah itu tidak dapat
digunakan seperti lidah pada
hewan lainnya. Ikan mas tidak
mempunyai kelenjar ludah
tetapi mempunyai kelenjar
lendir dari mulutnya. Lambung
merupakan pelebaran dari
saluran pencernaan
2. Sistem pencernaan pada
amphibia
Sebagai contohnya adalah
katak mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus
besar, kloaka.
Untuk membantu menelan
makanan, yaitu makanan
tersebut dicampur dengan
ludah yang dihasilkan oleh
kelenjar ludah. Pencernaan
makanan berlangsung di
dalam lambung katak
mempunyai kelenjar
pencernaan yaitu hati dan
pankreas.
3. Sistem pencernaan pada
reptilia
Seperti dicontohkan kadal
yang mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus dan kloaka.
Kadal mempunyai hati dan
pancreas sebagai kelenjar
pencernaan.
Lambung pada reptilia
bentuknya sesuai dengan
bentuk badannya, misalnya
lambung kura-kura berbentuk
agak bulat.
4. Sistem pencernaan pada
burung
Sebagai contoh burung
merpati mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus
besar, dan kloaka. Burung
mempunyai hati dan pancreas,
keduanya merupakan kelenjar
pencernaan yang berada di
luar saluran pencernaan.
5. Sistem pencernaan pada
mamalia
Hewan mamalia misalnya sapi
mempunyai lambung yang
tersusun dari empat bagian
yaitu perut besar (rimen),
perut jala (reticulum) perut
kilab (omosum), dan perut
masam (obomasum). Makanan
yang berupa rumput dan
sebangsanya dari mulut
melewati kerongkongan
masuk ke dalam perut besar,
dari perut besar makanan
kembali ke mulut untuk
dimumah, setelah dimumah
makanan ditelan dan masuk
ke dalam perut jala, kemudian
ke perut kilab dan akhirnya ke
perut masam.
B. Hewan Invertebrata
1. Pengertian
Hewan Invertebrata adalah
yang tidak bertulang
belakang, serta memiliki
struktur morfologi dan
anatomi lebih sederhana
dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang
punggung/belakang, juga
sistem pencernaan,
pernapasan dan peredaran
darah lebih sederhana
dibandingkan hewan
invertebrata.
2. Filum-filum hewan
invertebrata
a. Filum frotozoa
Frotozoa merupakan hewan
bersel satu yang hidup di
dalam air, protozoa memakan
tumbuhan dan hewan,
frotozoa berkembang biak
secara reproduksi unseksual
atau vegetatif dengan cara
membelah diri dan dengan
cara seksuan / generatif
konjugasi.
Filum frotozoa terbagi menjadi
beberapa kelas:
1) Kelas hewan berambut
getar (cikata)
2) Kelas hewan berkaki semu
(rhizopoda)
3) Kelas hewan berspora
(sporozoa)
4) Kelas hewan berbulu
cambuk (flogellato)
b. Filum forifera (hewan
berfori)
Forifera merupakan hewan air
dan hidup di laut bentuk tubuh
seperti tumbuhan yang
melekat pada suatu dasar
laut, jadi forifera dapat
berpindah tempat dengan
bebas, tubuh forifera seperti
tabung yang memiliki banyak
pori (lubang kecil pada sisinya
dan mempunyai rongga di
bagian dalam) forifera dapat
berkembang biak dengan cara
generatif dan vegetatif.
Forifera terdiri dari tiga kelas:
1) Kelas corcorea
Terdiri dari zat kapur (spikula)
dan hidup di laut yang
dangkal, contoh; seghpha SP,
charsarina SP
2) Kelas hexactinelida
Terdiri atas zat kersik dan
hidup di laut yang dalam.
Contohnya pnerorepa SP
3) Kelas demospangia
Tubuh lunak bahkan tidak
mempunyai rangka, contoh
spongia SP
c. Filum coelentrata (hewan
berongga)
Coelentrata berasal dari kata
coilos (berongga) dan entron
(usus) coelentrata mempunyai
dua macam bentuk yakni
bentuk pasif yang menempel
pada suatu dasar dan tidak
berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3
kelas;
1) Kelas anthozoa
2) Kelas hydrozoa
3) Kelas scyphozoa
d. Filum platyhelminthes
(cacing pipih)
Kata platyhelminthes berasal
dari bahasa Yunani, kata plays
(pipih) dan hemlines (cacing).
Platyhelminthes adalah yang
mempunyai pipih. Hewan
golongan ini mempunyai tubuh
simetris bilateral, (kedua sisi
sama), tubuh lunak dan tidak
bersegmen (ruas) tetapi tidak
mempunyai peredaran darah.
Platyhelminthes terbagi ke
dalam tiga kelas yaitu:
1) Kelas turbellaria (cacing
berambut getar)
2) Kelas trematoda (cacing
isap)
3) Kelas cestroda (cacing pita)
e. Filum Mollusca (hewan
lunak)
Sesuai dengan namanya,
hewan lunak mempunyai
tubuh lunak yang dilindungi
oleh cangkang dari bahan
kalsium (kapur) mollusca
bersifat hermoporit,
mempunyai sistem
pencernaan, sistem
pernapasan, dan sistem
pengeluaran
Mollusca dibedakan menjadi 4
kelas;
1) Kelas lamilli brancuiata
(golongan karang dan tiram)
2) Kelas gastropoda (golongan
siput)
3) Kelas cephalopoda
(golongan cumi-cumi)
4) Kelas amphineura
f. Filum enchinodermata
(hewan berkulit duri)
Kata di atas berasal dari
bahasa Yunani echimos
(landak) dan derma (kulit)
semua hewan yang termasuk
filum echinodermata biasanya
hidup di laut, bentuk tubuhnya
simetris radial (sisi tubuh
melingkar sama). Mempunyai
sistem ameudakral (sistem
pompa air). Rangka dalam
berkapur dan memiliki banyak
duri yang menonjol. Daya
generasinya amat besar.
Filum enchinodermata terdiri
dari 5 kelas yaitu:
1) Kelas bintang laut
(asteroidal)
2) Kelas landak laut
(echinoidal)
3) Kelas bintang laut
(opiuroidal)
4) Kelas lilin laut (crinoidal)
5) Kelas teripong
(holothuroidae)
g. Filum antropoda
Filum ini mempunyai Jumlah
species yang paling besar
dibandingkan filum-filum lain.
Tubuh dan kaki beruasa-ruas
dan simetris bilateral, rangka
luar mengandung zat kimia.
Antropoda mempunyai
peredaran darah, tetapi
darahnya tidak berwarna,
pertumbuhannya lama
mengalami metamorfosis
(perubahan bentuk).
Filum antropoda terdiri atas:
1) Kelas serangga (insecta)
2) Kelas laba-laba
(arachoidae)
3) Kelas udang-udangan
(erustacea)
4) Kelas lipan (mynapoda)
3. Sistem Pencernaan Pada
Hewan Invertebrata
a. Sistem pencernaan pada
hewan protozoa
Misalnya pada amoeba
merupakan hewan bersel satu
segala aktivitas hidupnya
terjadi di dalam sel itu sendiri.
Demikian juga pencernaan
makanan terjadi di dalam sel,
disebut pencernaan indra sel.
Pada waktu amoeba
mendapatkan makanan
segera amoeba membentuk
kaki semu yang mengarah
kepada makanan selanjutnya
dikelilingi kaki semu kemudian
makanan tersebut dibawa ke
protoplasma. Dalam
protoplasma yang
mengandung makanan yang
menghasilkan enzim
pencernaan. Dalam rongga
makanan tersebut terjadi
pencernaan makanan.
Makanan yang telah dicerna
yang berupa sari makanan
diserap dari sisa-sisa makanan
dan dikeluarkan dari dalam
tubuh.
b. Sistem pencernaan pada
golongan hermes
Misalnya pada cacing tanah
mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
tembolok, empedal, usus dan
anus.
Bagian depan kerongkongan
agak membesar disebut
paring yang berfungsi untuk
mengisap makanan dari mulut
dan membasahinya dengan
lendir. Makanan cacing tanah
berupa humus yang terdapat
di tanah yang bersifat asam,
dikelilingi kerongkongan
terhadap tiga pasang kelenjar
yang menghasilkan zat kapur
yang dapat menetralkan sifat
asam makanannya.
c. Sistem pencernaan pada
hewan insecta
Serangga misalnya belalang
mempunyai tembolok
berfungsi untuk menyimpan
makanan sementara di
sebelah bawah tembolok
terdapat kelenjar ludah yang
menghasilkan ludah. Ludah
tersebut dialirkan melalui
saluran induk ke dalam
rongga mulut. Dari tembolok
makanan masuk ke dalam
empedal dan dalam empedal
makanan dihancurkan,
selanjutnya makanan
diteruskan ke dalam lambung.
Di bagian depan lambung
terdapat enam pasang usus
buntu yang berfungsi sebagai
kelenjar pencernaan.
Makanan yang tidak dicerna
diserap di dalam lambung.
Sisa-sisa makanan dari usus
melalui peletum dikeluarkan
melalui anus.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di
atas dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
- Hewan vertebrata yaitu
hewan yang memiliki tulang
belakang yang struktur tubuh
yang lebih sempurna dari
pada invertebrata. Vertebrata
memiliki tali yang mirip sum-
sum tempat berkumpulnya
sel-sel saraf dan menjadi
perpanjangan kumpulan saraf
dari otak
- Hewan invertebrata yaitu
hewan yang tidak memiliki
tulang belakang serta
memiliki struktur morfologi
dan anatomi lebih sederhana
dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang
belakang/pinggang.
B. Saran
- Bagi kita dan generasi akan
datang sudah sepatutnya
untuk memelihara menjaga
dan melestarikan
kenanekaragaman hewan
yang terdapat di Negara kita
dan khususnya di lingkungan
kita.
- Kepada para pembaca kalau
ingin lebih mengetahui
tentang bahasan ini bisa
membaca buku atau majalah-
majalah yang memuat tentang
keanekaragaman hewan
DAFTAR PUSTAKA
Soedjono, dkk. 1996. Biologi
SMU II. PT. Multi Adiwitata,
Banding
Wahono, Lili, dkk., 1994.
Biologi SLTP I. Banding; PT.
Sarana Panca Karya
Rustam, Nuryani dan Otang
Hidayat, 1994, Biologi SLTP II.
Jakarta; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara
yang memiliki keragaman
hayati yang melimpah baik
flora maupun fauna.
Kekayaan keragaman hayati
ini membiarkan keuntungan
yang besar bagi masyarakat.
Di antaranya dapat memenuhi
kebutuhan manusia juga
mengandung protein,
karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral.
Protein sebagai salah satu
sumber pembangun tubuh
dapat berasal dari tumbuhan
(nabati) dan hewan (hewani).
Protein yang berasal dari
hewan mempunyai kandungan
yang sempurna dibandingkan
dengan protein nabati. Oleh
karena itu pengadaan sumber
protein hewani harus
diupayakan.
Sehubungan dengan itu
penulis terusik untuk memilih
karya tulis yang berjudul
“Keragaman Hewani
Vertebrata dan Invertebrata”
B. Batasan Masalah
Adapun batasan Masalah
dalam karya tulis ini adalah:
1. Pengertian dan perbedaan
hewan Vertebrata dan hewan
Invertebrata.
2. Filum : yang termasuk
hewan Vertebrata dan hewan
Invertebrata.
3. Sistem pencernaan pada
hewan Vertebrata dan
Invertebrata
C. Tujuan Yang Ingin Dicapai
Adapun Tujuan penulis dalam
penulisan karya tulis ini
adalah
1. Sebagai salah satu syarat
mengikuti UN/UAM
2. Untuk mengetahui berbagai
macam hewan vertebrata dan
hewan invertebrata
3. Untuk menambah wawasan
tentang keanekaragaman
hewan vertebrata dan
invertebrata
D. Metode Yang Digunakan
Metode deskriftif dengan
teknik study kepustakaan atau
literature, yaitu pengetahuan
yang bersumber dari
beberapa media tulis baik
berupa buku, litelatur dan
media lainnya yang tentu ada
kaitannya masalah-masalah
yang di bahas di dalam Karya
tulis ini.
BAB II
KERAGAMAN HEWAN
VERTEBRATA DAN HEWAN
INVETEBRATA
A. Hewan Vertebrata
1. Pengertian
Hewan vertebrata yaitu hewan
yang bertulang belakang atau
punggung. Memiliki struktur
tubuh yang jauh lebih
sempurna dibandingkan
dengan hewan Invertebrata.
Hewan vertebrata memiliki
tali yang merupakan susunan
tempat terkumpulnya sel-sel
saraf dan memiliki
perpanjangan kumpulan saraf
dari otak. Tali ini tidak di
memiliki oleh yang tidak
bertulang punggung. Dalam
memenuhi kebutuhannya,
hewan vertebrata telah
memiliki system kerja
sempurna peredaran darah
berpusat organ jantung
dengan pembuluh-pembuluh
menjadi salurannya.
Ciri-ciri tubuh hewan yang
bertulang belakang:
1. Mempunyai tulang yang
terentang dari balakang
kepala sampai bagian ekor.
2. Mempunyai otak yang
dilindungi oleh tulang-tulang
tengkorak.
3. Tubuh berbentuk simetris
bilateral.
4. mempunyai kepala, leher,
badan dan ekor walaupun
ekor dan leher tidak mutlak
ada contohnya pada katak.
Ciri alat tubuh hewan yang
bertulang belakang sebagai
berikut:
1. Mempunyai kelenjar
bundar, endoksin yang
menghasilkan hormon untuk
pengendalian. Pertumbuhan
dan proses fisiologis atau faal
tubuh
2. Susunan saraf terdiri atas
otak dan sumsum tulang
belakang
3. Bersuhu tubuh panas dan
tetap (homoiternal) dan
bersuhu tubuh dingin sesuai
dengan kondisi lingkungan
(poikiloternal)
4. Sistem pernapasan/terpirasi
dengan paru-paru
(pulmonosum) kulit dan insang
operculum
5. Alat pencernaan
memanjang mulai dari mulut
sampai ke anus yang terletak
di sebelah vertran (depan)
dan tulang belakang
6. Kulit terdiri atas epidermis
(bagian luar) dan endodermis
(bagian dalam)
7. Alat reproduksi
berpasangan kecuali pada
burung, kedua kelenjar
kelamin berupa ovalium dan
testis menghasilkan sel tubuh
dan sel sperma
Hewan bertulang belakang
(vertebrata) ini terdiri atas
kelas yaitu:
1. Kelas Pisces (Ikan)
2. Kelas Amphibi (Latin amphi
= dua, bia = hidup)
3. Kelas Reftilia (Bahasa latin
repare = merangkak/
merayap)
4. Kelas Aves (Burung)
5. Kelas mamalia (Bahasa
latin mamae artinya kelenjar
buah dada, mamalia artinya
hewan menyusui)
2. Filum-Filum Hewan
Vertebrata
a. Kelas Pisces (Ikan)
Ciri utama Pisces sebagai
berikut:
- Hewan berdarah dingin yang
hidup di dalam air
- Bernapas dengan insang
(operculum) dan di bantu oleh
kulit
- Tubuh terdiri atas Kepala
- Rangka tersusun atas tulang
sejati
- Jantung terdiri atas satu
serambi dan satu bilik
- Tubuh ditutupi oleh sisik dan
memiliki gurat sisi untuk
menentukan arah dan posisi
berenang
Pisces dapat di bagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
2. Ordo Apodes
Familia (1) : Angulidae
Species : Ikan panjang
(Arguilia vulgaria)
Familia (2) : Muruenidae
3. Ordo Acthopterygi
Familia (1) : Parsidae
Species : Kakap (Lataes carca
lifer)
Familia (2) : Muruenidae
4. Ordo Heterostonata
Species : Ikan lidah
5. Ordo Labysinthici
Famili : Analamtidal
Species : ikan bandeng (lates
carca lifer)
Familia : scombridae
Species : tongkol (enthymus
palamys)
6. Ordo Masacop Terygii
Famili (1) : chipeidae
Species : ikan bandeng
(chonos-chonos)
Famili (2) : ikan salam
(salmosalor)
7. Ordo Ostariophysi
Familia (1) : analamtidal
Species : kakap (lates carca
lifer)
Famili : scmbridae
b. Kelas Amphibia
Ciri-ciri amphibia sebagai
berikut:
- Dapat hidup di air dan di
darat ataupun tempat-tempat
yang lembab
- Disebut juga hewan yang
mempunyai tempat hidup
(habitat) di dua alam
- Hewan bernafas dengan
paru-paru dan kulit. Telur dan
berudu katak hidup di air
kemudian setelah dewasa
hidup di darat, berudu
berbentuk seperti ikan yang
bernafas dengan insang dan
kulit, setelah masanya tumbuh
kaki yang susut oleh
kehidupan dan akhirnya ekor
menghilang sementara itu
insang berangsur-angsur
menghilang dan digantikan
oleh paru-paru kemudian
katak menjadi dewasa.
- Jantung beruang tiga yaitu
dua serambi dan satu bilik.
- Berkembang biak dengan
bertelur dan pembuahan sel
telur oleh sperma terjadi di
luar tubuhnya (fertilisasi
eksternal).
Amphibi dapat dibagi menjadi
beberapa ordo:
1. Ordo bymnofora / opoda
(amphibia tidak berkaki tetapi
memiliki ekor)
Species : ular, cacing (ichtyo
phisgentmosus)
2. Ordo anura/solienta
(amphibia tidak berekor tetapi
memiliki kaki)
Famili : Ranidae
Species : Katak buduk, katak
hijau (Kamacun crivoras)
Familia : hyhidae
Species : katak pohon (hyla
SP)
3. Ordo wodela / candata
(amphibia yang berekor dan
berkaki)
Familia : pretidae
Species : aning lumpru
(necturus onaculanu)
Familia : crypto bran chidae
Species : solomonder air (ripto
bronchus akeganiesis)
c. Kelas reftilia (hewan
melata)
Ciri-ciri hewan melata adalah
sebagai berikut:
- Kulit kering bersisik dari zat
tanduk karena zat kertin
- Bernafas dengan paru-paru
- Berdarah dingin
(porkoliokonal) yakni yang
suhu tubuhnya dipengaruhi
oleh suhu lingkungan
- Umumnya bersifat avivar
(bertelur), contoh kadal, dan
vivipar beranak, contohnya
ular.
- Jantung terdiri dari empat
ruang yaitu dua serambi dan
dua bilik yang masih belum
sempurna.
Reptilia dapat dibagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
1) Ordo crocodilia
Familia : crocodylidae
Species : buaya sedang
(crocodyeus bifocatus), buaya
besar (crocodyes porosus)
2) Ordo chelonia
Familia (1) : crocodylidae
Species : penyu (chelaina
nydas)
Familia (2) : tryony chidae
Species : kuya (try ony x
cartilaginews)
Familia (3) : testudinidae
Species : kura-kura (euora
ambirinesis)
3) Ordo cacerilia
Familia (1) : cacertidae
Species : cicak (hemidacty
frenatus)
Familia (2) : geckonocdae
Species : tokek (gecko
monarchis)
Familia (3) : henoermatidae
Species : kadal (heloderma
SP)
Familia : varanidae
Species : komodo (voronus
komodensis)
biawak (voronus salvator
4) Ordo Aphidia
Contoh; ular sawah, ular
kobra dan sebagainya
d. Kelas aves (burung)
Ciri utama aves sebagai
berikut:
- Alat penglihatan, alat
pendengaran dan alat suara
sudah berkembang dengan
baik
- Berdarah panas
(homoioteral)
- Jantung terdiri dari empat
ruang 2 serambi dan 2 bilik
yang sudah berkembang
dengan baik
- Pembuahan sel telur dan
sperma / fertilisasi terjadi di
dalam tubuh induk (fertilisasi
internal)
- Terdapat sepasang testis,
Sedangkan ovarium hanya
satu dan tumbuh dengan baik
di sebelah kiri.
Aves dapat dibagi menjadi
beberapa ordo antara lain:
1) Ordo colombiforines
Familia : columbidal
Species : perkutut (geopilia
striata)
2) Ordo coraciiformes
Familia : arcedinadae
Species : telengket (harcy
concholm)
3) Ordo grana cares
Familia (1) : ardidae
Species : bangau (reptotilas
javanicus)
Familia (2) : rassidal
Species : mordar (parphyrio
albus)
4) Ordo nato tores
Familia (1) : laridae
Species : dara laut
Familia (2) : pamilirostros
Species : bebek / itik (anus
koshos)
Familia (3) : sphe niscidae
Species : pinguin (aptenodytes
SP)
5) Ordo rapaces
Familia (1) : fontanida
Species : alap-alap (falco
papuanus)
Familia (2) : strigi dae
Species : burung hantu (suba
kukua)
e. Kelas Mamalia
Ciri-ciri utama hewan mamalia
sebagai berikut:
- Umumnya hidup di daratan,
tetapi ada pula yang hidup di
air seperti ikan paus, lumba-
luma
- Berdarah panas
- Pada kulit terdapat kelenjar
keringat dan kelenjar minyak
- Otak berkembang dengan
baik
- Fertilisasi internal
- Bernafas dengan paru-paru
- Terdapat 4 ruang jantung
yang sempurna
Macam-macam ordo hewan
mamalia antara lain:
1) Ordo dactyla
Species : Topis (clocidura
marina)
Badak Jawa (rhino
cerassoondaicus)
2) Ordo insectivora
Species : cecurut (cocidura
mosina)
Tupai (tupaja javarita)
3) Ordo phalidata
Species : trenggiling (tubuh
bersisik)
4) Ordo chiroptera
Species : kelelawar (micro
chiroptera SP)
Kalong (megachiroptera SP)
5) Ordo marsupiala
Species : kucing (fell is catus)
Singa (fell is lion)
Harimau (fell is tigris)
Serigala (canislupus)
6) Ordo marsopialia
Species : kanguru (macropus)
Kuskus (plalanger)
7) Ordo prosboscidae
Species : gajah (elephan
indicus)
Gajah Africa (loxoder
africanus)
8) Ordo artidactyea
Species : kerbau (bubalus-
bubalus)
Banteng (basssonduicus)
Kambing (capra faleoheri)
3. Sistem Pencernaan Pada
Hewan Vertebrata
Proses pencernaan makanan
dapat terjadi secara mekanik
dan kimia. Pencernaan
mekanik adalah proses yang
mengubah makanan menjadi
bagian-bagian yang kecil.
Sedangkan pencernaan secara
kimia adalah suatu proses
pengubahan makanan dengan
bantuan enzim pencernaan.
1. Sistem Pencernaan pada
ikan
Misalnya, ikan mas
mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus dan anus. Ikan
mempunyai lidah yang pendek
terdapat pada dasar mulut,
lidah itu tidak dapat
digunakan seperti lidah pada
hewan lainnya. Ikan mas tidak
mempunyai kelenjar ludah
tetapi mempunyai kelenjar
lendir dari mulutnya. Lambung
merupakan pelebaran dari
saluran pencernaan
2. Sistem pencernaan pada
amphibia
Sebagai contohnya adalah
katak mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus
besar, kloaka.
Untuk membantu menelan
makanan, yaitu makanan
tersebut dicampur dengan
ludah yang dihasilkan oleh
kelenjar ludah. Pencernaan
makanan berlangsung di
dalam lambung katak
mempunyai kelenjar
pencernaan yaitu hati dan
pankreas.
3. Sistem pencernaan pada
reptilia
Seperti dicontohkan kadal
yang mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus dan kloaka.
Kadal mempunyai hati dan
pancreas sebagai kelenjar
pencernaan.
Lambung pada reptilia
bentuknya sesuai dengan
bentuk badannya, misalnya
lambung kura-kura berbentuk
agak bulat.
4. Sistem pencernaan pada
burung
Sebagai contoh burung
merpati mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
lambung, usus halus, usus
besar, dan kloaka. Burung
mempunyai hati dan pancreas,
keduanya merupakan kelenjar
pencernaan yang berada di
luar saluran pencernaan.
5. Sistem pencernaan pada
mamalia
Hewan mamalia misalnya sapi
mempunyai lambung yang
tersusun dari empat bagian
yaitu perut besar (rimen),
perut jala (reticulum) perut
kilab (omosum), dan perut
masam (obomasum). Makanan
yang berupa rumput dan
sebangsanya dari mulut
melewati kerongkongan
masuk ke dalam perut besar,
dari perut besar makanan
kembali ke mulut untuk
dimumah, setelah dimumah
makanan ditelan dan masuk
ke dalam perut jala, kemudian
ke perut kilab dan akhirnya ke
perut masam.
B. Hewan Invertebrata
1. Pengertian
Hewan Invertebrata adalah
yang tidak bertulang
belakang, serta memiliki
struktur morfologi dan
anatomi lebih sederhana
dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang
punggung/belakang, juga
sistem pencernaan,
pernapasan dan peredaran
darah lebih sederhana
dibandingkan hewan
invertebrata.
2. Filum-filum hewan
invertebrata
a. Filum frotozoa
Frotozoa merupakan hewan
bersel satu yang hidup di
dalam air, protozoa memakan
tumbuhan dan hewan,
frotozoa berkembang biak
secara reproduksi unseksual
atau vegetatif dengan cara
membelah diri dan dengan
cara seksuan / generatif
konjugasi.
Filum frotozoa terbagi menjadi
beberapa kelas:
1) Kelas hewan berambut
getar (cikata)
2) Kelas hewan berkaki semu
(rhizopoda)
3) Kelas hewan berspora
(sporozoa)
4) Kelas hewan berbulu
cambuk (flogellato)
b. Filum forifera (hewan
berfori)
Forifera merupakan hewan air
dan hidup di laut bentuk tubuh
seperti tumbuhan yang
melekat pada suatu dasar
laut, jadi forifera dapat
berpindah tempat dengan
bebas, tubuh forifera seperti
tabung yang memiliki banyak
pori (lubang kecil pada sisinya
dan mempunyai rongga di
bagian dalam) forifera dapat
berkembang biak dengan cara
generatif dan vegetatif.
Forifera terdiri dari tiga kelas:
1) Kelas corcorea
Terdiri dari zat kapur (spikula)
dan hidup di laut yang
dangkal, contoh; seghpha SP,
charsarina SP
2) Kelas hexactinelida
Terdiri atas zat kersik dan
hidup di laut yang dalam.
Contohnya pnerorepa SP
3) Kelas demospangia
Tubuh lunak bahkan tidak
mempunyai rangka, contoh
spongia SP
c. Filum coelentrata (hewan
berongga)
Coelentrata berasal dari kata
coilos (berongga) dan entron
(usus) coelentrata mempunyai
dua macam bentuk yakni
bentuk pasif yang menempel
pada suatu dasar dan tidak
berpindah.
Coelentrata terdiri dari 3
kelas;
1) Kelas anthozoa
2) Kelas hydrozoa
3) Kelas scyphozoa
d. Filum platyhelminthes
(cacing pipih)
Kata platyhelminthes berasal
dari bahasa Yunani, kata plays
(pipih) dan hemlines (cacing).
Platyhelminthes adalah yang
mempunyai pipih. Hewan
golongan ini mempunyai tubuh
simetris bilateral, (kedua sisi
sama), tubuh lunak dan tidak
bersegmen (ruas) tetapi tidak
mempunyai peredaran darah.
Platyhelminthes terbagi ke
dalam tiga kelas yaitu:
1) Kelas turbellaria (cacing
berambut getar)
2) Kelas trematoda (cacing
isap)
3) Kelas cestroda (cacing pita)
e. Filum Mollusca (hewan
lunak)
Sesuai dengan namanya,
hewan lunak mempunyai
tubuh lunak yang dilindungi
oleh cangkang dari bahan
kalsium (kapur) mollusca
bersifat hermoporit,
mempunyai sistem
pencernaan, sistem
pernapasan, dan sistem
pengeluaran
Mollusca dibedakan menjadi 4
kelas;
1) Kelas lamilli brancuiata
(golongan karang dan tiram)
2) Kelas gastropoda (golongan
siput)
3) Kelas cephalopoda
(golongan cumi-cumi)
4) Kelas amphineura
f. Filum enchinodermata
(hewan berkulit duri)
Kata di atas berasal dari
bahasa Yunani echimos
(landak) dan derma (kulit)
semua hewan yang termasuk
filum echinodermata biasanya
hidup di laut, bentuk tubuhnya
simetris radial (sisi tubuh
melingkar sama). Mempunyai
sistem ameudakral (sistem
pompa air). Rangka dalam
berkapur dan memiliki banyak
duri yang menonjol. Daya
generasinya amat besar.
Filum enchinodermata terdiri
dari 5 kelas yaitu:
1) Kelas bintang laut
(asteroidal)
2) Kelas landak laut
(echinoidal)
3) Kelas bintang laut
(opiuroidal)
4) Kelas lilin laut (crinoidal)
5) Kelas teripong
(holothuroidae)
g. Filum antropoda
Filum ini mempunyai Jumlah
species yang paling besar
dibandingkan filum-filum lain.
Tubuh dan kaki beruasa-ruas
dan simetris bilateral, rangka
luar mengandung zat kimia.
Antropoda mempunyai
peredaran darah, tetapi
darahnya tidak berwarna,
pertumbuhannya lama
mengalami metamorfosis
(perubahan bentuk).
Filum antropoda terdiri atas:
1) Kelas serangga (insecta)
2) Kelas laba-laba
(arachoidae)
3) Kelas udang-udangan
(erustacea)
4) Kelas lipan (mynapoda)
3. Sistem Pencernaan Pada
Hewan Invertebrata
a. Sistem pencernaan pada
hewan protozoa
Misalnya pada amoeba
merupakan hewan bersel satu
segala aktivitas hidupnya
terjadi di dalam sel itu sendiri.
Demikian juga pencernaan
makanan terjadi di dalam sel,
disebut pencernaan indra sel.
Pada waktu amoeba
mendapatkan makanan
segera amoeba membentuk
kaki semu yang mengarah
kepada makanan selanjutnya
dikelilingi kaki semu kemudian
makanan tersebut dibawa ke
protoplasma. Dalam
protoplasma yang
mengandung makanan yang
menghasilkan enzim
pencernaan. Dalam rongga
makanan tersebut terjadi
pencernaan makanan.
Makanan yang telah dicerna
yang berupa sari makanan
diserap dari sisa-sisa makanan
dan dikeluarkan dari dalam
tubuh.
b. Sistem pencernaan pada
golongan hermes
Misalnya pada cacing tanah
mempunyai saluran
pencernaan yang terdiri atas
mulut, kerongkongan,
tembolok, empedal, usus dan
anus.
Bagian depan kerongkongan
agak membesar disebut
paring yang berfungsi untuk
mengisap makanan dari mulut
dan membasahinya dengan
lendir. Makanan cacing tanah
berupa humus yang terdapat
di tanah yang bersifat asam,
dikelilingi kerongkongan
terhadap tiga pasang kelenjar
yang menghasilkan zat kapur
yang dapat menetralkan sifat
asam makanannya.
c. Sistem pencernaan pada
hewan insecta
Serangga misalnya belalang
mempunyai tembolok
berfungsi untuk menyimpan
makanan sementara di
sebelah bawah tembolok
terdapat kelenjar ludah yang
menghasilkan ludah. Ludah
tersebut dialirkan melalui
saluran induk ke dalam
rongga mulut. Dari tembolok
makanan masuk ke dalam
empedal dan dalam empedal
makanan dihancurkan,
selanjutnya makanan
diteruskan ke dalam lambung.
Di bagian depan lambung
terdapat enam pasang usus
buntu yang berfungsi sebagai
kelenjar pencernaan.
Makanan yang tidak dicerna
diserap di dalam lambung.
Sisa-sisa makanan dari usus
melalui peletum dikeluarkan
melalui anus.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di
atas dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut:
- Hewan vertebrata yaitu
hewan yang memiliki tulang
belakang yang struktur tubuh
yang lebih sempurna dari
pada invertebrata. Vertebrata
memiliki tali yang mirip sum-
sum tempat berkumpulnya
sel-sel saraf dan menjadi
perpanjangan kumpulan saraf
dari otak
- Hewan invertebrata yaitu
hewan yang tidak memiliki
tulang belakang serta
memiliki struktur morfologi
dan anatomi lebih sederhana
dibandingkan dengan
kelompok hewan bertulang
belakang/pinggang.
B. Saran
- Bagi kita dan generasi akan
datang sudah sepatutnya
untuk memelihara menjaga
dan melestarikan
kenanekaragaman hewan
yang terdapat di Negara kita
dan khususnya di lingkungan
kita.
- Kepada para pembaca kalau
ingin lebih mengetahui
tentang bahasan ini bisa
membaca buku atau majalah-
majalah yang memuat tentang
keanekaragaman hewan
DAFTAR PUSTAKA
Soedjono, dkk. 1996. Biologi
SMU II. PT. Multi Adiwitata,
Banding
Wahono, Lili, dkk., 1994.
Biologi SLTP I. Banding; PT.
Sarana Panca Karya
Rustam, Nuryani dan Otang
Hidayat, 1994, Biologi SLTP II.
Jakarta; Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Langganan:
Postingan (Atom)
